
Bella merasa hatinya begitu pedih dan teriris-iris ketika melihat betapa menyedihkan kondisi mamanya saat ini. Tiga tahun lebih mereka tidak pernah bertemu, rupanya nyonya Adinatha sudah berubah banyak. Wanita paruh baya itu terlihat jauh lebih kurus dan menyedihkan dibandingkan saat mereka terakhir kali bertemu. Rasanya Bella ingin sekali menangis sekeras mungkin dan berhambur memeluk sang mama untuk meluapkan segala kerinduannya serta penyesalan yang kini dia rasakan, tapi lagi-lagi dia berusaha keras untuk menahan diri agar tidak sampai melakukan hal itu.
Ma, maafkan Bella. Karena ulah Bella, mama jadi begini. Batin Bella. Sebisa mungkin dia menahan untuk tidak menjatuhkan air matanya.
Saat pak Ron menyapa nyonya besar Adinatha, tidak ada respon berarti yang diberikan oleh wanita paruh baya tersebut. Bahkan tidak sedikit pun dia menoleh untuk menyambut kedatangan tamunya.
"Silahkan duduk, Nona Anna. Nyonya Besar memang lebih suka melamun semenjak nona Bella meninggal, dan hingga detik ini pun dia bahkan tidak mau berbicara dengan siapa pun kecuali dengan saya dan tuan besar Adinatha," jelas pak Ron dengan wajah prihatin.
"Terima kasih, Pak Ron." Anna memaksakan diri untuk tersenyum pada kepala pelayan itu meski pun matanya sudah memerah dan berkaca-kaca menahan tangis. "Semoga saja saya orang ketiga yang mau diajak bicara oleh Nyonya Adinatha."
"Iya, Nona Anna. Semoga saja. Kalau begitu saya pamit ke depan dulu," pamit pak Ron.
Setelah kepala pelayan itu berlalu, barulah Bella mendekat ke arah sang mama.
"Se-selamat siang, Nyonya. Perkenalkan, saya Anna, sahabat baik Bella," katanya memperkenalkan diri, tapi sayangnya, tidak ada sedikit pun reaksi yang diperlihatkan oleh nyonya Adinatha untuk menanggapi ucapan gadis itu. Wanita paruh baya itu masih tetap saja duduk sambil menatap lurus ke arah depan.
Perasaan Bella semakin teriris menyaksikan hal tersebut. Entah mengapa perasaan bersalahnya justru kian menggunung menyaksikan kondisi sang mama yang sangat menyedihkan. Air mata yang sedari tadi menggenang tidak kuasa lagi dia tahan dan akhirnya terjatuh juga. Namun dengan cepat dia menyekanya dan mencoba untuk mengatur napasnya agar dadanya tidak semakin sesak.
Bella lalu duduk di kursi yang ada di hadapan nyonya Adinatha. Dia berjanji pada diri sendiri akan membuat sang mama mau berbicara dengannya sebelum dia pergi meninggalkan rumah itu.
"Nyonya, tujuan saya datang kemari karena saya ingin menyerahkan surat ini kepada Anda. Surat ini ditulis oleh mendiang Bella untuk Anda dan tuan Adinatha sebelum dia pergi untuk selama-lamanya meninggalkan dunia ini," jelas Anna.
Sebenarnya surat itu baru saja ditulis oleh Bella sekitar 3 hari yang lalu. Karena tidak memungkinkan untuk dia meminta maaf secara langsung kepada kedua orang tuanya dengan identitasnya yang sekarang sebagai Anna, jadi Bella berpikir bahwa menulis surat permintaan maaf adalah jalan satu-satunya untuk dia meminta maaf pada kedua orang tuanya. Ditambah lagi tuan dan nyonya Adinatha memang sangat mengenali tulisan tangan putri semata wayang mereka. Pasti mereka akan langsung percaya dengan ucapan Anna jika surat itu memang surat peninggalan anak mereka sebelum Bella meninggal.
"Su-surat?" Nyonya Adinatha akhirnya mengangkat kepalanya dengan perlahan. Sepertinya Bella berhasil untuk membuat mamanya untuk membuka suara dan mau berbicara dengannya. "Kamu bilang kamu membawa surat dari putriku? Surat yang dia tulis untukku? Untuk suamiku?"
Anna mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. "Ya. Apakah Anda ingin membacanya sekarang, Nyonya?"
__ADS_1
"Iya, iya. Aku ingin membacanya sekarang. Berikan padaku." Nyonya Adinatha berkata dengan tidak sabar.
Ketika surat permintaan maaf Bella telah sampai di tangannya, nyonya Adinatha mulai membaca surat tersebut dengan tangan gemetar.
^^^Dear Mama dan Papa,^^^
^^^Ketika tulisan singkat ini telah sampai di tangan kalian, itu artinya Bella kalian sudah tidak bisa lagi meminta maaf kepada kalian berdua secara langsung.^^^
...Ma, Pa, maafkan semua kesalahan Bella, ya. Selama ini Bella telah berbuat banyak salah pada Mama dan Papa. Bella sudah jadi anak yang durhaka, tidak patuh, tidak tahu terima kasih, dan juga tidak tahu balas budi....
^^^Ma, Pa, terima kasih banyak sudah membuat Bella terlahir ke dunia ini, merawat Bella dengan sangat baik dan membesarkan Bella dengan penuh cinta dan kasih sayang sampai Bella dewasa.^^^
^^^Ma, Pa, jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, ya. Hindari stres, jangan banyak pikiran, bla ... bla ... bla ....^^^
Ketika nyonya Adinatha membaca surat permintaan maaf putrinya, rasa sesak seketika saja menyerang dadanya tanpa bisa dia cegah. Kesedihan tidak dapat lagi dia bendung, apalagi ketika kembali mengingat bahwa hubungannya dengan Bella tidak sempat mereka perbaiki sebelum putri semata wayangnya itu akhirnya pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Melihat mamanya menangis, Bella merasa semakin tidak tahan. Tanpa ragu dia langsung membawa sang mama ke dalam pelukannya agar wanita yang telah melahirkannya itu bisa merasa lebih tenang.
Tidak, Ma, bukan mama yang harus minta maaf, tapi Bella, Bella yang punya banyak salah pada mama dan papa. Batin Bella sambil memeluk sang mama erat-erat. Air matanya juga sudah mengalir dengan deras membasahi pipinya.
.
.
Siang ini tuan Adinatha pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Itu karena nyonya Adinatha memang sengaja memanggil suaminya untuk pulang lebih awal agar pria paruh baya itu juga bisa membaca surat peninggalan Bella yang tulis khusus untuk mereka berdua.
Reaksi yang ditunjukkan oleh tuan Adinatha dan nyonya Adinatha saat membaca surat permintaan maaf dari putri mereka tidak jauh berbeda, membuat Bella juga ingin memeluk sang ayahnda yang tengah menangis bersedih karenanya. Namun, keinginannya itu dia tahan mengingat sekarang identitasnya bukan lagi Bella, melainkan Anna Harold.
__ADS_1
"Bella pasti sangat dekat denganmu semasa dia hidup," kata Tuan Besar Adinatha saat dia sudah bisa mengendalikan kesedihannya.
Anna tersenyum. "Iya, Tuan. Kami dulu memang sangat dekat sekali, sudah seperti saudara."
Pa, Ma, sekali lagi Bella minta maaf karena Bella sudah membohongi kalian, tapi Bella terpaksa melakukannya demi kebaikan kita bersama. Pa, Ma, Bella sangat ingin mendapatkan kehidupan Bella kembali, untuk menebus segala waktu yang telah Bella habiskan sia-sia di kehidupan sebelumnya tanpa membahagiakan kalian. Bella berjanji, ke depannya Bella akan selalu menemani kalian berdua. Bella janji, Ma, Pa. Batin Bella.
Mereka pun lalu mengobrol berbagai macam hal. Nyonya Adinatha yang sebelumnya lebih banyak diam kini tidak segan lagi berbicara dengan Anna. Dia menanyakan banyak hal mengenai putrinya semasa Bella masih hidup dulu pada Anna. Dengan senang hati Anna pun menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh kedua orang tuanya tersebut. Seolah-olah Anna dan Bella dulu adalah dua sahabat baik yang tidak dapat dipisahkan.
.
.
"Tuan, Nyonya, saya pamit pulang dulu," kata Anna. Hingga sore menjelang gadis itu berada di kediaman keluarga Adinatha.
"Sering-seringlah datang kemari untuk mengunjungi kami, Anna. Karena saya lihat, kehadiran kamu membawa banyak dampak positif bagi istri saya," kata tuan besar Adinatha.
"Dengan senang hati, Tuan, Nyonya. Sebisa mungkin saya usahakan untuk sering-sering datang kemari."
"Terima kasih banyak, Anna. Oh iya, kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa menganggap kami sebagai orang tua angkat kamu," kata tuan Adinatha penuh harap.
"Tentu saja, Tuan. Saya sama sekali tidak keberatan," jawab Anna.
Anna pun kemudian meninggalkan kediaman kedua orang tuanya dengan perasaan senang yang tak terhingga. Ternyata setelah menemui kedua orang tuanya dan meminta maaf secara tidak langsung, sekarang dia merasa jauh lebih lega. Seolah-olah beban berat yang dia pikul selama ini sudah dia buang semuanya.
Ding. Sebuah notifikasi tiba-tiba saja masuk di ponsel Anna. Setelah dia cek, dia langsung menutup mulutnya dengan tangan karena tidak percaya. Matanya seketika berkaca-kaca dan meneteskan cairan bening. Rupanya, misi pertama bagian keduanya sudah rampung 50 persen. Jadi total pencapaian misi pertamanya sekarang sudah mencapai 90 persen secara keseluruhan.
"Ma, Pa, sebegitu sayang kalian pada Bella. Dengan mudahnya kalian memaafkan kesalahan besar yang telah anakmu ini perbuat di masa lalu," gumamnya seraya menyeka air mata bahagianya. "Ma, Pa, Bella juga sangat menyayangi kalian. I Love you, Ma, Pa."
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...