Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 33 - Mencari Kesalahan


__ADS_3

Ruang Basemen Hawei Group.


Anna dan Kay turun dari mobil yang sama, sedangkan Alex turun dari mobilnya sendiri yang dikemudikan oleh sopir pribadinya. Begitu keluar dari mobil, Alex langsung melangkah lebar menuju lift khusus pimpinan sembari dikawal oleh dua orang pengawal pribadinya. Sementara Anna dan Kay berlari kecil menyusulnya lalu mengekor di belakang pria tersebut hingga mereka berlima sama-sama masuk ke dalam lift.


Sesampainya di lantai sekian tempat ruangan ketiganya berada, Kay langsung menunjukkan meja kerja untuk Anna yang berhadapan langsung dengan meja kerja miliknya sendiri. Letaknya tepat di depan ruangan presdir Huang yang dipisahkan oleh dinding kaca besar.


"Kay!" panggil Alex begitu dia sudah duduk di kursi kebesarannya.


"Iya, Presdir."


"Berikan berkas dan laporan ini padanya." Alex menunjuk map berkas yang menumpuk banyak di atas mejanya. "Suruh sekretaris baru itu mengerjakannya, setelah selesai berikan padaku."


"Baik, Tuan."


"Dan kamu, wakili aku menemui tuan Keenan untuk memeriksa hotel Mars yang akan kita akuisisi bulan depan," titahnya lagi kemudian.


"Ta-pi, Presdir. Apakah kita harus membiarkan sekretaris Anna yang menyelesaikan semua pekerjaan ini sendiri tanpa dibimbing? Dia 'kan masih sangat baru," tanya Kay sedikit khawatir, takut Anna melakukan kesalahan dan berakhir dimarahi habis-habisan oleh Alex.


"Biarkan saja. Aku ingin melihat, seberapa becus sekretaris pilihanmu itu bekerja, sampai-sampai kamu rela mempertaruhkan karirmu hanya untuk membuatnya masuk ke perusahaan ini."


Perkataan Alex sukses membuat Kay sulit menelan ludah. Tidak tahu lagi harus mengatakan apa untuk melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri, apalagi terhadap Anna yang dia ketahui dengan jelas bahwa Alex sangat membencinya.


"Ba-baik, Presdir." Kay menunduk sopan lalu mengambil berkas-berkas yang tertumpuk itu kemudian dia bawa dan letakkan di atas meja kerja sekretaris Anna.


"Hubungi aku jika kamu ingin bertanya sesuatu atau sedang mengalami kesulitan. Presdir sedang memberiku tugas lain di luar, jadi aku tidak bisa berada di sini untuk menemani dan membantumu menyelesaikan semua pekerjaan ini," bisik asisten Kay.


Anna mengangguk sambil tersenyum. "Tidak apa-apa. Pasti tugasmu juga tidak kalah pentingnya 'kan dari ini?" Anna menunjuk tumpukan map itu dengan ekor matanya. "Pokonya kamu tenang saja, tidak usah khawatir. Aku pasti akan langsung menghubungimu jika aku memerlukan bantuanmu."


Kay juga balas mengangguk sambil ikut tersenyum. "Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya." Kay menepuk pelan bahu kanan Anna sebelum berangkat. "Semangat!"


"Iya, semangat," balas Anna. "Hati-hati!"


Setelah Kay pergi, Bella menatap semua berkas yang menumpuk di hadapannya. Pekerjaan yang sangat dia rindukan selama beberapa bulan terakhir akhirnya bisa kembali dia kerjakan dengan posisi yang sama seperti dulu, yaitu sekretaris presdir perusahaan Hawei Group.


Semangat Bella. Kamu harus membuat presdir Huang terkesan pada Anna dengan hasil pekerjaanmu. Batin Bella, menyemangati dirinya sendiri.


Sementara itu, Alex duduk bersandar di kursi kebesarannya sambil menunggu sekretaris barunya selesai mengerjakan tugas yang baru saja dia berikan.


Lihat saja nanti, kalau dia tidak becus melakukan pekerjaannya, aku pastikan akan membuatnya angkat kaki dari perusahaan ini sebelum dia melancarkan aksinya untuk menggodaku. Batin Alex.


.


.


2 Jam kemudian.


Ketika Anna tengah fokus mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba telepon di mejanya berdering, tanpa berlama-lama dia pun segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Dengan Sekretaris Anna Harold, ada yang bisa dibantu?" jawabnya setelah menempelkan gagang telepon tersebut di salah satu telinganya.


"Masuk ke ruanganku dan bawa semua berkas beserta laporan yang sudah selesai kamu periksa dan kerjakan. Aku ingin melihatnya," titah Alex.


"Baik, Presdir," ucap Anna sambil meletakkan kembali gagang telepon di tempat seharusnya.


Awas saja kalau dia sampai mengerjakannya dengan asal-asalan. Aku pastikan tidak akan membiarkannya bertahan di sini melebihi 1 minggu. Batin Alex.


Tidak berselang lama setelah sambungan telepon mereka terputus, Anna segera masuk ke dalam ruangan Alex dengan setumpuk map di tangannya. Alex yang melihat hal itu langsung mengerutkan kening.


Dia tidak sedang mempermainkanku, 'kan? Bagaimana bisa dia menyelesaikan tugas sebanyak itu hanya dalam kurun waktu 2 jam? Batin Alex tidak habis pikir dan tidak percaya dengan kemampuan sekretaris barunya itu.


Seingatnya, hanya sekretaris Bella yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan rapi, tanpa melakukan sedikit pun kesalahan.


"Silahkan diperiksa dulu, Presdir. Kalau masih ada yang salah dan perlu diperbaiki, katakan pada saya agar saya memperbaikinya kembali," kata Anna setelah meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Alex.


Cih, dari cara bicaranya, dia seperti sekretaris profesional saja. Gumam Alex dalam hati sambil memandang sekretaris barunya itu dengan tatapan remeh.


Alex mulai memeriksa berkas demi berkas, laporan demi laporan yang baru saja diselesaikan oleh sekretaris Anna. Yang dia harapkan sebenarnya adalah kesalahan yang diperbuat oleh sekretaris barusnya itu, agar dia bisa melampiaskan kekesalannya pada gadis tersebut. Namun sayangnya, setelah Alex memeriksa sebanyak tiga berkas beserta laporan, dia sama sekali tidak menemukan apa yang dia harapakan.


Ck, kenapa pekerjaannya sangat rapi dan teliti sekali sih? Sampai-sampai aku tidak bisa menemukan sedikit pun kesalahan yang dia perbuat. Kalau begini 'kan aku tidak punya alasan untuk memarahi apalagi memecatnya nanti. Batin Alex kesal.


"Keluarlah dan lanjutkan kembali pekerjaanmu. Nanti aku akan memanggilmu lagi jika aku menemukan ada kesalahan," titah Alex. Dia tidak ingin berlama-lama satu ruangan dengan gadis bar-bar yang sangat dibencinya itu.


"Baik, Presdir."


.


.


"Ck, bagaimana bisa dia melakukannya? Dimana dia belajar sehingga bisa sehebat ini? Apa jangan-jangan, Kay yang sudah diam-diam membantunya tanpa aku ketahui? Tapi bagaimana mungkin? Kay 'kan sedang aku tugaskan untuk bekerja di luar," gumam Alex tidak menyangka, sambil menatap sekretaris Anna yang sedang fokus bekerja dari balik kaca ruangannya. Yang Alex lakukan saat ini hanyalah satu, yaitu mencari-cari kesalahan yang diperbuat oleh sekretaris Anna, tapi hingga detik ini dia tidak kunjung menemukannya juga.


"Sekretaris Anna, apa kamu sudah makan?" tanya asisten Kay yang tiba-tiba muncul tanpa Anna sadari kedatangannya.


"Eh, Asisten Kay, kamu sudah kembali," kata Anna, sedikit terkejut dengan kemunculan asisten Kay yang tiba-tiba. "Aku belum makan, tapi rencananya aku baru akan memesan makanan setelah laporan yang satu ini selesai aku periksa," tambahnya sambil tersenyum.


Kay balas tersenyum seraya meletakkan paper bag berukuran sedang di atas meja kerja sekretaris Anna. "Kalau begitu kamu tidak perlu repot-repot lagi memesannya, karena aku sudah membelikannya untukmu."


"Wah, terima kasih banyak, Asisten Kay. Kamu baik sekali," ucap Anna tersenyum senang.


"Sama-sama." Kay belum berhenti tersenyum, lalu melirik Alex yang kelihatannya sedang fokus memeriksa berkas yang sudah diselesaikan oleh Anna. "Oh iya, apa Presdir Huang tadi memarahimu?" tanyanya dengan berbisik.


Anna menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia memarahiku," jawabnya lalu tertawa.


Melihat Anna yang begitu ceria meski pun pekerjaannya menumpuk membuat pria itu ikut tertawa lega. "Hebat sekali kamu, ya? Oh iya, ada yang bisa aku bantu, biar kita bisa pulang lebih cepat malam ini?"


"Tentu saja banyak," jawabnya lalu kembali tertawa.

__ADS_1


Rupanya, diam-diam Alex memperhatikan keduanya. Dia semakin meradang melihat interaksi antara asisten dan sekretarisnya yang terlihat begitu dekat dan akrab.


Sepertinya kecurigaanku benar. Tidak mungkin gadis bar-bar seperti dia bisa bekerja dengan becus tanpa dibantu oleh seseorang. Rupanya memang benar bahwa Kay yang sudah membantunya. Apa jangan-jangan, selama ini Kay yang diam-diam mengajari dan membimbingnya agar dia bisa menggantikan posisi Bella. Batin Alex.


.


.


Pukul setengah 9 malam, pekerjaan yang diberikan oleh Alex akhirnya selesai tanpa ada sedikit pun kesalahan yang dilakukan oleh sekretaris Anna. Hal itu tentu saja membuat mood Alex jadi buruk, karena dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada gadis tersebut. Apalagi saat dia melihat Kay mengantar gadis itu pulang, maka semakin bertambahlah kekesalannya.


"Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua? Kenapa mereka terlihat sangat dekat sekali?" gumam Alex berbicara sendiri. Namun dengan cepat dia segera menepis pikiran itu. "Ah, untuk apa juga aku mengurusi urusan mereka. Jika mereka memiliki hubungan spesial, itu artinya aku tidak perlu lagi khawatir gadis bar-bar itu akan kembali menggodaku seperti dulu."


.


Sementara itu di dalam mobil Kay.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu?" ungkap Kay, sambil fokus mengemudikan mobilnya.


"Apa itu?" tanya Anna penasaran.


"Sebenarnya selama ini kamu kemana saja? Aku pernah datang beberapa kali mengunjungi apartemenmu, tapi aku tidak pernah bertemu denganmu. Aku bertanya pada beberapa orang penghuni di sana, tapi tidak ada satu pun yang tahu kemana kamu pergi."


Bella bingung, tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan Kay barusan. Tidak mungkin juga 'kan dia menjawab yang sejujurnya pada pria itu. Itu artinya, dia akan melanggar peraturan yang sudah ditetapkan oleh Dewa Harapan, dan pastinya dia akan mendapat hukuman dari dewa itu. Entah hukuman dalam bentuk apa? Bella juga tidak bisa menebaknya.


"Oh, itu ... aku-"


"Apa kamu sengaja pergi kurus pada seseorang agar bisa menggantikan posisi sekretaris Bella yang sudah meninggal?" tanya Kay. Setahunya, dulu Anna sering berkata bahwa dia sangat iri pada sekretaris Bella dan ingin menjadi seperti wanita itu agar bisa selalu dekat dengan Alex setiap saat setiap waktu.


Pertanyaan Kay seketika membuat Bella terkejut. Bagaimana mungkin Kay bisa berpikir seperti itu tentang Anna. Tapi ... kalau dipikir-pikir boleh juga tuduhannya itu.


"Mm, ya. Setelah tahu bahwa sekretaris presdir Huang meninggal 6 bulan yang lalu, aku langsung terbang ke luar negeri untuk belajar pada pamanku. Dulunya pamanku itu juga sekretaris yang sangat handal, jadi aku pikir apa salahnya jika aku belajar padanya," jawabnya yang tentu saja hanya mengada-ngada.


"Oh ya? Pantas saja kamu bisa sehebat sekarang. Ternyata kamu berguru pada orang hebat," kata Kay sambil tersenyum.


Pfft. Untung saja asisten Kay tidak bertanya siapa paman bohonganku itu. Batinnya sedikit lega.


"Tadinya ... aku sangat khawatir dan berpikir bahwa kamu bunuh diri karena kakakmu, nona Carissa bertunangan dengan presdir Huang, makanya kamu tidak pernah muncul lagi. Tapi karena aku tidak pernah menemukan berita bahwa putri bungsu keluarga Harold bunuh diri, aku segera menepis pikiran buruk itu jauh-jauh. Rupanya kamu hanya pergi ke luar negeri untuk belajar."


Deg.


Seketika Bella langsung menatap Kay lekat-lekat. Dia sungguh terkejut mendengar penuturan pria itu. Namun, secepat mungkin dia mengubah ekspresi terkejutnya itu dengan tertawa agar Kay mengira bahwa Anna hanya menganggap ucapan pria itu sebagai candaan belaka.


"Hahaha! Apa kamu sungguh berpikir bahwa aku selemah itu, Kay?" tanya Bella.


"Tidak juga. Aku 'kan hanya mengkhawatirkan kamu, karena kita berdua adalah teman dekat," jawab Kay.


"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Teman," kata Anna sambil kembali tertawa. Namun, ekspresinya itu seketika menjadi datar setelah dia melihat ke arah luar jendela mobil.

__ADS_1


Asal kamu tahu saja, Kay, kekhawatiranmu itu memang benar adanya. Anna memang sudah bunuh diri karena patah hati.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2