
...Baiklah, biar kalian gak ngambek gara-gara kemarin Otor cuma ngiklan, sebagai gantinya hari ini Otor akan up. Semoga saja kalian semua bisa happy yes😅 Dan jangan lupa, buat yang belum mampir dukung Babang Mahend yang Nackal di sebelah, mampir yes biar Otor makin semangat😅...
...Oh iya, Otor masih punya 4 bab naskah lagi di draft. Yang mau Otor up semuanya hari ini, buruan mampir di sebelah, di lapaknya Babang Mahend dan Naura. Sebagai catatan, 10 tambahan pembaca baru yang sudah favoritkan ceritanya \= upload 1 bab lagi. Berlaku kelipatan. Yang sudah mampir dan selesai baca sampai bab terakhir, absen ya biar Otor hitung sudah berapa banyak pembaca baru yang mampir hari ini dari lapaknya Babang Alex × AnnaBella ke lapak Babang Mahend × Naura. Sekarang angka like tertinggi berada di angka 36 dan favorit 59, Otor akan hitung yes😅...
...Selamat membaca~...
.......
.......
Rapat siang ini akhirnya selesai. Saat semua peserta rapat sudah keluar meninggalkan ruang meeting dan hanya menyisakan presdir dan sekretarisnya di dalam sana. Begitu pintu ruangan tertutup dengan rapat, Alex langsung menarik tangan Anna hingga membuat sekretaris kesayangannya itu jatuh dan duduk di pangkuannya.
"Jangan marah, Sayang," bujuk Alex seraya melingkarkan kedua tangannya di perut wanita itu.
AnnaBella mendengus. "Presdir Huang, tolong jangan seperti ini, kalau ada yang memergoki kita dengan posisi seperti ini bagaimana? Biar bagaimana pun, yang semua orang tahu bahwa Anda itu sudah memiliki tunangan, jangan sampai orang-orang mencap saya sebagai wanita penggoda atau pun wanita perebut pria milik wanita lain," ucapnya, padahal memang iya, sesuai dengan judul cerita. Wkwkwk.
Dari nada bicara Anna yang dingin dan formal, Alex bisa tahu bahwa wanita itu pasti masih marah padanya.
"Biarkan saja semua orang melihatnya, biarkan mereka semua tahu bahwa kamu itu milikku. Dan aku tidak peduli sudah memiliki tunangan atau tidak, yang jelas, aku hanya mencintaimu." Alex semakin mendekap wanitanya dengan erat. Wajahnya sudah memelas seperti seekor kucing yang meminta makan pada tuannya.
"Jangan gila!" AnnaBella mengedarkan pandangannya ke sekeliling, takut benar-benar ada yang melihat mereka dalam posisi seperti sekarang ini. "Ck, cepat lepaskan aku." Wanita itu sudah mulai kesal dengan sifat Alex yang terkesan kekanak-kanakan saat jatuh cinta.
"Aku tidak akan pernah mau melepaskanmu sebelum kamu memaafkanku," ucap Alex, semakin erat saja dia memeluk wanita itu.
AnnaBella kembali mendengus kesal. Kalau dipikir-pikir, daripada mereka kepergok, mau tidak mau, lebih baik dia segera memaafkan Alex saja.
"Katakan dulu, apa alasannya sehingga aku harus memaafkanmu?" tanya wanita itu. "Dan satu lagi, atas dasar apa kamu mengurungku di dalam kamar selama lebih dari setengah jam tadi pagi?" tambahnya kemudian.
Alex pun kemudian menjelaskan pada wanitanya bahwa dia melakukan semua itu karena Carissa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan dan mengajaknya untuk sarapan bersama, karena tidak ingin terjadi kegaduhan antara kedua wanita itu, Alex pun terpaksa mengunci Anna di dalam kamar dan mengajak Carissa sarapan di luar, makanya dia lama baru membuka pintunya kembali.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang aku sudah memaafkanmu. Kalau begitu lepaskan aku," ucap Anna.
Alex tersenyum senang setelah mendapatkan maaf dari wanitanya. Namun, bukannya melepaskan wanita itu seperti janjinya, Alex justru semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang, karena kamu sudah memaafkanku, mm ... apakah boleh minta lagi?"
"Minta lagi apa?" tanya AnnaBella tidak mengerti.
Alex kembali tersenyum, kemudian berbisik di dekat telinga wanitanya. "Yang seperti tadi pagi."
Blush. Pipi AnnaBella langsung merona, tapi dengan cepat dan kasar wanita itu melepaskan diri dari Alex.
"Kalau kamu mau lagi yang seperti tadi pagi, kamu harus punya surat-surat resmi. Permisi." AnnaBella melenggang pergi meninggalkan Alex begitu saja sendirian di sana. Keputusan wanita itu sudah bulat, tidak akan ada lagi 'playing horse-horse' sebelum Alex punya surat-surat kepemilikan atas dirinya. Yang tadi pagi saja Bella sudah menyesal setengah mati karena begitu mudahnya dia menyerahkan mahkota Anna Harold pada Alex. Bella tahu, permintaannya memang agak sulit untuk dikabulkan oleh pria itu, mengingat Alex masih memiliki Carissa sebagai tunangan, tapi Bella juga ingin melihat bukti cinta dari Alex, sebesar apa pria itu mencintainya yang sekarang sudah menjadi sosok wanita lain.
"Apa apa? Apa tadi dia mengatakan surat-surat resmi?" Alex bermonolog sendiri. "Apa itu artinya aku harus menikahinya terlebih dahulu sebelum kembali menyentuhnya?"
...Sabar Lex, Max, jangan cuma mau enaknya aja. Usaha dong lu😅...
.
.
Malam minggu akhirnya tiba. Alex sudah rapi dan lengkap dengan jas dan tuxedo. Malam ini rencananya dia akan menghadiri undangan makan malam kedua orang tua tunangannya. Dia juga sudah mengatakan hal ini pada Carissa.
.
Kediaman Keluarga Harold
Kedatangan Alex di kediaman itu untuk yang pertama kalinya setelah menjadi tunangan Carissa disambut dengan sangat baik oleh tunangan beserta calon ibu dan calon ayah mertuanya.
"Baiklah, karena sekarang Alex sudah datang, maka sebaiknya acara makan malamnya kita mulai saja," ucap Tuan Harold begitu mereka berempat sudah berkumpul di meja makan.
"Tunggu sebentar, Tuan," ucap Alex, membuat Carissa, Tuan Harold, beserta Nyonya Irene bergantian saling menatap.
__ADS_1
"Ada apa, Honey?" tanya Carissa sambil menyentuh lengan Alex dengan lembut.
"Iya, ada apa, Alex?" tanya Tuan Harold.
"Apa kamu butuh sesuatu?" tambah Nyonya Irene bertanya pada calon menantunya itu.
Alex tersenyum. "Begini, Tuan, Nyonya, sebagai calon menantu yang baik, tidak mungkin saya datang kemari dengan tangan kosong. Saya baru ingat kalau saya melupakan kado spesial yang sengaja saya bawa untuk kalian di dalam mobil."
"Oh ...."
Ketiga langsung merasa lega. Mereka pikir tadi Alex kenapa, tidak tahunya malah lupa mengambil kado.
Nyonya Irene tertawa. "Kamu itu terlalu sungkan, Alex. Kamu sudah bisa menghadiri undangan makan malam kami saja kami sudah sangat senang. Iya 'kan, Pa?"
"Iya benar. Sebenarnya Alex juga tidak perlu repot-repot membawa kado kalau mau datang kemari," tambah Tuan Harold.
Alex hanya menanggapi ucapan kedua calon mertuanya dengan senyuman. "Kalau begitu, apa saya boleh keluar mengambil kadonya Tuan, Nyonya? Mumpung acara makan malamnya belum kita mulai."
"Tentu saja boleh," jawab Tuan Harold. "Tapi apa tidak sebaiknya hadiah itu diambil saja oleh pelayan? Biar kamu bisa tetap duduk di sini dan kita biasa segera memulai acara makan malamnya," usul Tuan Harold kemudian.
Alex kembali tersenyum. "Mungkin akan lebih baik dan lebih sopan lagi kalau saya sendiri yang pergi mengambil dan membawanya masuk ke sini, Tuan."
"Ah, baiklah. Terserah kamu kalau begitu." Karena Alex bersikeras mengambilnya sendiri, Tuan Harold sekeluarga pun jadi tidak bisa lagi melarang selain hanya membiarkan Alex melakukan sesuai keinginannya. Mungkin memang hadiah yang dibawa oleh Alex begitu spesial sehingga pria itu harus turun tangan sendiri mengambilnya dan membawanya masuk ke dalam rumah, pikir mereka.
"Ah ... Carissa ... kamu beruntung sekali, Sayang. Calon suamimu begitu manis dan perhatian kepada kami. Bagaimana dengan kamu nantinya? Pasti akan lebih perhatian dan penyayang lagi," ucap Nyonya Irene sambil menyentuh punggung tangan putrinya begitu Alex sudah tidak ada di antara mereka. Wanita paruh baya itu merasa sangat senang sekali melihat perlakuan Alex.
"Terima kasih, Ma." Carissa balas tersenyum, namun sedikit dipaksakan. Sebenarnya wanita itu merasa sedikit aneh dengan sikap Alex malam ini. Sebab semenjak mereka bertunangan, sikap Alex padanya sangat dingin, bahkan lebih terkesan mengacuhkan dirinya. Lalu kenapa malam ini berubah drastis? Aneh juga, pikirnya.
Berselang beberapa menit kemudian, Alex kembali muncul. Namun anehnya, pria itu malah kembali dengan tangan kosong. Tentu saja Tuan Harold sekeluarga menatapnya dengan tatapan aneh, heran, sekaligus bertanya-tanya.
"A-lex mana ha-diah spesialnya?" tanya Carissa terbata. Entah mengapa wanita itu mulai merasakan firasat buruk.
__ADS_1
B e r s a m b u n g...