Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 48


__ADS_3

Tak.


Mendengar pintu terbuka lalu tertutup di belakangnya, sontak membuat Anna menoleh. Rupanya, Alex juga ikut masuk ke perpustakaan. Melihat hal itu membuat gadis itu semakin gugup.


"Pres-dir, ke-napa Anda juga ikut masuk?" tanya Anna dengan terbata.


"Apa maksudmu? Memangnya kenapa kalau aku juga ikut masuk? Ini 'kan rumahku, dan perpustakaan ini juga milikku karena ada di dalam rumahku," balas Alex.


Anna tersenyum dipaksakan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "M-maksud saya bukan seperti itu, Presdir. Tapi ...." Anna menggantung ucapannya, bingung juga harus berkata apa pada pria itu.


Aku ingin mengatakan bahwa ku merasa kurang nyaman berada di dalam ruang tertutup bersamanya, tapi ... aku takut presdir Huang malah salah paham padaku. Batinnya, makin kebingungan.


"Tapi apa, hm?" Alex berjalan mendekat ke arah Anna.


"Mm ... maksud saya begini, Presdir. Anda 'kan bisa melakukan kegiatan lain di luar sana, misalnya berolahraga, main golf, jalan-jalan, dan lain sebagainya. Bukannya malah disini membantu pekerjaan saya. Saya bisa kok menyelesaikannya sendiri," jelas gadis itu.


Mendengar ucapan Anna, Alex pun tertawa. "Membantu pekerjaan kamu? Memangnya sejak kapan aku mengatakan kalau aku ingin membantu pekerjaanmu?" balas Alex seraya semakin mendekat ke arah gadis itu.


"Ah, iya juga sih." Anna memaksakan diri untuk tersenyum. Melihat Alex berdiri kurang dari satu meter di hadapannya, Anna pun segera memutar badan. Berada di dekat pria itu entah mengapa membuat detak jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Apalagi saat melihat cara Alex menatapnya, membuatnya semakin deg-degan saja.


Tidak ingin lagi berdebat dengan Alex tentang masalah yang tidak penting, Anna pun memutuskan untuk pergi ke sudut ruangan.


Sebenarnya ini kesempatan bagus untuk aku menjalankan misiku. Sekarang aku merasa presdir Huang tidak lagi membenci Anna seperti dulu. Tapi entah mengapa aku sendiri tidak begitu yakin dengan hatiku. Misi keduaku membuat presdir Huang jatuh cinta pada Anna dan merebutnya dari nona Carissa, tapi entah mengapa aku malah merasa ragu dan takut. Aku takut malah aku sendiri yang terjebak dalam pesonanya, bukan dia yang tergila-gila padaku.

__ADS_1


Disaat Anna melangkah menjauh sambil sibuk dengan pikirannya sendiri, disaat itulah dia merasa Alex justru mengikutinya dari belakang. Gadis itu dengan cepat menoleh untuk memastikan kecurigaannya, tapi begitu dia berbalik, Alex justru malah mengambil salah satu buku di rak dan membacanya.


Sepertinya aku sudah berpikir berlebihan. Untuk apa juga presdir Huang mengikutiku. Batinnya.


Merasa posisinya dengan Alex sangat dekat, Anna pun kembali melangkah ke sudut ruangan lain, tapi lagi-lagi dia mendengar derap langkah Alex berada tepat di belakangnya. Anna kembali menoleh untuk memastikan, dan untuk yang kedua kalinya, pria itu malah terlihat serius membaca buku.


Anna mendengus. Entah aku yang berpikir berlebihan atau mungkin sekarang presdir Huang yang sudah berubah jadi orang aneh. Batinnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Merasa Alex kembali mengekor di belakangnya, Anna pun memutuskan untuk berjalan mengelilingi ruangan tersebut hingga 360 derajat.


Huft .... Sepertinya kecurigaanku benar. Presdir Huang memang sengaja mengikutiku kemana pun aku melangkah. Gumamnya dalam hati, lalu lekas memutar badan dan mendongak menatap pria di hadapannya.


"Presdir, kenapa Anda terus saja mengikuti saya kemana pun saya pergi?" tanya Anna dengan tatapan menyelidik.


Sebelum menjawab, terlebih dahulu Alex meletakkan buku yang sedari tadi ada di tangannya kembali ke dalam rak, lalu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyenderkan bahunya pada rak di sampingnya.


Oh ya ampun! Jawaban macam apa itu? Sangat kekanakan. Batinnya.


Tidak ingin lagi berdebat dengan pria yang kini sangat menyebalkan di matanya, gadis itu pun memutuskan untuk berhenti bermain-main dan mulai memilih dan memilah buku yang sudah terlihat usang dan jarang dibaca oleh si pemilik perpustakaan, tanpa harus memperdulikan lagi  keberadaan pria itu yang terus saja mengawasinya seperti seseorang petugas keamanan yang mengawasi seorang penjahat yang ingin melakukan aksi pencurian.


Oh, tenang Bel, anggap saja presdir Huang adalah salah satu pajangan di dalam perpustakaan ini. Tidak usah mempedulikan keberadaannya. Batinnya kesal dengan bibir mengerucut.


Anna bergegas mengambil box di sudut ruangan, untuk dia gunakan menyimpan buku-buku yang sudah pantas untuk disingkirkan.

__ADS_1


Sementara itu, Alex sendiri hanya diam memperhatikan sekretarisnya bekerja sambil sesekali tersenyum sendiri.


Astaga. Kenapa dia imut sekali kalau cemberut. Batin Alex.


Niat Bella ingin mengabaikan keberadaan pria itu, tapi tetap saja dia tidak bisa. Dia tetap saja merasa terganggu karena Alex terus berdiri sambil bersandar di rak tepat di sampingnya mengambil buku.


Kalau tidak ada niat membantu, pergi saja sana. Kenapa malah berdiri di sana sambil terus mengawasiku? Dasar! Kesalnya dalam hati.


Aku tidak pernah menyangka bahwa sekarang presdir Huang akan berubah menjadi orang yang tidak peduli seperti sekarang ini. Karena seingatku, dulu dia adalah tipe orang yang memiliki jiwa sosial tinggi. Jika aku memiliki pekerjaan yang cukup merepotkan, dia pasti tanpa segan akan membantu meringankan pekerjaanku tanpa diminta. Tapi kenapa sekarang dia berubah jadi orang yang tegaan?


Setelah hampir setengah jam memilah dan memilih buku, kini tersisa buku yang berada di rak paling atas untuk Anna bereskan. Buku-buku itu terlihat sudah banyak yang berdebu, karena pemiliknya sudah cukup lama pindah dari tempat tersebut, terutamanya buku yang berada di rak paling atas.


Anna mendongak menatap buku yang berada di rak teratas, dengan tinggi badannya yang hanya 163 cm, dia pasti akan kesulitan mengambil buku-buku yang sudah berdebu tersebut tanpa menggunakan kursi untuk menyangga kakinya.


Sebelum mengambil kursi untuk dia gunakan, sejenak Anna melirik Alex yang berdiri bersandar di rak, dengan tinggi badan Alex yang lebih dari 180 cm, jelas memudahkan pria itu untuk menurunkan buku-buku tersebut di atas sana.


Apakah dia sama sekali tidak ada niat untuk membantuku? Kalau tidak ada, kenapa terus saja mengawasiku seperti itu? Memangnya aku pencuri apa? Batinnya semakin kesal, lalu kedua kakinya mulai dia pijakkan di atas kursi.


Kini Anna sudah berdiri tegak di atas kursi sambil meraih buku-buku yang ada di rak paling atas, lalu meletakkan buku-buku yang berdebu tadi ke dalam box yang memang sudah dia ĺetakkan di samping kursi tempatnya berdiri.


Debunya banyak sekali. Sepertinya aku harus mengambil masker untuk menutupi hidungku. Batin Anna. 


Namun, sebelum dia meletakkan buku terakhir yang dia ambil, tiba-tiba kedua matanya malah kelilipan debu yang berasal dari buku tersebut. Karena kedua matanya terpejam, kaki Anna pun hampir terpeleset saat hendak melompat turun dari kursi. Karena takut jatuh, tangan Anna reflek berpegangan pada salah satu tingkatan rak, tapi tidak disangka pengangannya malah lepas dan membuatnya benar-benar terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Argh!!!" Anna memekik kala membayangkan betapa sakitnya saat anggota tubuhnya membentur lantai marmer.


B e r s a m b u n g ...


__ADS_2