
"Apa? Makan malam?"
Bella sedikit terkejut mendengar informasi yang baru saja disampaikan oleh asisten Kay.
Bagaimana ini? Aku bahkan belum menyiapkan rencana apapun untuk bertemu dengan wanita licik itu. Batin Bella.
Baru saja dia mendengar nama itu dibahas oleh Aarav dan Alex, sekarang Kay malah memberinya informasi bahwa wanita itu ingin mengajak mereka untuk makan malam bersama.
"Iya, makan malam. Aku sebenarnya tidak begitu yakin kamu akan bersedia, jadi aku tidak langsung mengiyakan ajakannya," jelas Kay.
"Apa kamu sudah menyampaikan hal ini pada presdir Huang?" Anna kembali bertanya.
"Belum. Kamu orang pertama yang aku beritahu."
Bella terdiam, memikirkan solusi untuk masalah yang satu ini. Tapi setelah dia pikir-pikir, dia akhirnya mengiyakan ajakan itu, toh cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu juga nantinya. Apalagi misi kedua yang sedang dia jalankan saat ini juga berkaitan dengan wanita itu.
"Baiklah, Kay, tidak ada masalah jika aku harus menghadiri undangan makan malam itu," putus Anna kemudian.
"Kamu serius tidak apa-apa, Anna? Bagaimana kalau dia kembali menjahatimu seperti sebelumnya, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kay ingin memastikan. Sejujurnya dia cukup mengkhawatirkan gadis itu.
"Kamu jangan khawatir, Kay. Aku janji tidak akan tinggal diam. Kalau dia berani menjahatiku, aku tidak akan segan-segan melawannya," ucapnya yang berapi-api itu lantas membuat Kay tertawa.
"Kalau begitu aku tidak perlu khawatir lagi kamu akan ditindas seperti dulu. Karena sepertinya kamu memang sudah banyak berubah, bukan lagi Anna Harold yang lemah seperti dulu."
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan asisten Kay, Anna pun kembali menghampiri Alex dan Aarav di tempat sebelumnya. Namun, belum sampai dia ruang VVIP restoran yang menjadi tempat tujuannya, tiga orang pria terlihat sedang keluar dari ruangan tersebut. Siapa lagi kalau bukan Alex, Aarav, dan juga Rex, asisten pribadi Aarav. Dengan berlari kecil Anna pun menghampiri ketiga pria itu.
"Kenapa kamu lama sekali?" tanya Alex begitu Aarav dan Rex sudah lebih dulu meninggalkan restoran. "Sedikit lagi kamu terlambat, aku pasti akan langsung meninggalkanmu."
"Maaf, Presdir." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Anna hingga akhirnya dia dan Alex berjalan keluar menuju parkiran restoran. Mengenai ajakan makan malam dari Carissa Harold, biar asisten Kay yang menyampaikan hal itu pada pria tersebut.
"Setelah ini jadwalku kosong, 'kan?" tanya Alex.
"Iya benar, Presdir."
"Kalau begitu kamu saja yang kembali ke kantor, aku masih ada urusan penting yang mesti aku selesaikan," ucapnya. "Oh iya, aku sudah menghubungi Kay untuk datang menjemputmu kemari. Kebetulan posisinya sekarang sedang berada di area dekat sini, jadi dia tidak akan membuatmu menunggu lama."
"Baik, Presdir, tidak masalah. Kalau begitu Anda hati-hati di jalan," pesan Anna begitu melihat presdir Huang hendak memasuki mobil mewahnya.
Sementara itu, disaat Alex sudah duduk di dalam mobilnya, dia diam-diam menatap sekretaris Anna dari balik kaca jendela mobilnya.
"Kita akan pergi kemana, Tuan?" tanya sopir pribadi Alex.
"Jalan saja dulu, nanti akan aku beritahu," jawabnya seraya mengeluarkan ponsel dari dalam saku jasnya. Bersamaan dengan keluarnya ponsel tersebut dari dalam sakunya, sebuah benda berkilaun dengan motif bunga ikut keluar dari dalam sana. Rupanya jepit rambut sekretaris Anna yang terjatuh tadi Alex yang mengambil dan menyimpannya.
Alex tersenyum seraya memasukkan kembali benda tersebut ke dalam saku jasnya yang lain, lalu tangannya mulai menari di atas layar ponselnya seraya mendial nomor seseorang.
Berselang beberapa detik kemudian, suara seorang pria mulai terdengar. "Halo, Presdir Huang. Ada yang bisa saya bantu?"
__ADS_1
"Dokter Aris, apakah kamu ada di tempat? Aku ingin memeriksakan kondisi mataku. Sepertinya mataku mulai bermasalah."😆
.
.
Hawei Group.
Sore hari menjelang jam pulang kantor.
"Sekretaris Anna, apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya asisten Kay.
"Sedikit lagi, Asisten Kay. Tunggu sebentar," jawab sekretaris Anna.
Sore ini rencananya setelah mereka pulang kerja, mereka ingin pergi ke butik untuk mencari jas dan gaun malam untuk mereka kenakan nanti malam saat menghadiri undangan makan malam dari tunangan atasan mereka.
Setelah pekerjaan Anna selesai, dia dah Kay pun segera turun ke parkiran. Namun, saat Kay baru saja melajukan mobilnya meninggalkan lokasi perusahaan, ponselnya tiba-tiba berdering. Setelah dia periksa rupanya panggilan dari salah satu manajer kepercayaan di salah satu kantor cabang Hawei Group yang ada di luar kota.
Eh, tumben manajer Lu menghubungiku. Pasti ada sesuatu hal yang penting yang ingin dia sampaikan. Batin Kay sebelum akhirnya dia menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Manajer Lu. Ada apa?" tanya Kay.
"Halo, Tuan Kaysan. Saya ingin menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting, Tuan."
"Hal penting apa itu, Manajer Lu?" tanya Kay penasaran.
"Begini, Tuan Kaysan, ada masalah besar dengan tanah lahan proyek terbaru kita," jawabnya.
"Apa?! Tanah lahannya bermasalah! Bermasalah bagaimana maksudnya, Manajer Lu? Bukankah sebelumnya baik-baik saja, hanya tinggal menunggu para pemilik tanah itu menandatangani surat perjanjian jual belinya."
Kay jelas terkejut. Bagaimana tidak, Presdir Huang sudah mengucurkan dana yang begitu besar hanya untuk membangun tempat pariwisata yang luasnya puluhan hektare tersebut. Kalau tanah lahannya bermasalah, itu artinya perusahaan mereka akan mengalami banyak kerugian.
Manajer Lu pun kemudian menjelaskan pokok permasalahannya secara rinci pada Kay tanpa ada yang dia tutup-tutupi.
"Gawat!" Kay segera menepikan mobilnya di pinggir jalan setelah mendengar semua penjelasan manajer Lu. Dia harus segera menghubungi presdir Huang agar masalah besar ini bisa segera ditangani.
Sementara itu, Anna hanya diam saja. Melihat wajah serius dan tegang asisten Kay membuatnya menahan diri untuk tidak bertanya meski pun sebenarnya dia merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Lex, ada masalah dengan proyek pariwisata yang kita bangun di kota Z," kata asisten Kay setelah Alex menjawab panggilannya.
"Apa?! Masalah apa maksudmu, Kay?" tanya Alex tidak kalah terkejutnya.
"Begini, bla bla bla ...."
Kay pun menjelaskan panjang lebar pada Alex, dan setelah Alex mengerti permasalahannya pria itu pun memutuskan untuk segera terbang kesana.
"Hubungi Sekretaris Anna untuk segera bersiap-siap. Kita bertiga harus segera terbang kesana 1 jam lagi," titah Alex.
__ADS_1
"Iya, aku mengerti," jawab Kay.
Setelah sambungan teleponnya dengan Alex terputus, Kay pun kembali melajukan mobilnya dengan cepat.
"Anna, kita harus bersiap-siap untuk terbang ke kota Z sekarang juga. Ada proyek besar yang sedang bermasalah di sana," jelas Kay.
"Lalu bagaimana dengan makan malamnya?" tanya Anna. Masih sempat-sempatnya dia memikirkan hal itu.
"Ya tentu saja harus dibatalkan. Makan malam itu sama sekali tidak penting, jadi tidak perlu kamu pikirkan," jawab Kay.
.
.
3 Jam kemudian.
Setelah melalui perjalanan udara selama 2 jam lamanya, Anna, Alex, dan Kay akhirnya sampai di kota tujuan. Kedatangan mereka memang langsung disambut oleh Manajer Lu dan para petinggi perusahaan cabang lainnya.
Usai menikmati jamuan makan malam yang disiapkan oleh Manajer Lu dan yang lainnya, mereka pun memutuskan untuk beristirahat di hotel.
"Anna, apa kamu tidak ingin keluar jalan-jalan sebentar sebelum tidur? Sekarang baru pukul 9 malam, masih terlalu cepat untuk kita tertidur. Kamu pasti belum tahu 'kan kalau kota Z ini sangat indah di malam hari," ajak Kay. Saat ini mereka bertiga sedang di antar oleh salah seorang manajer hotel menuju kamar mereka masing-masing yang letaknya saling berdekatan.
"Boleh. Aku memang belum mengantuk," balas Anna sambil tersenyum.
Sementara itu, Alex yang mencuri dengar percakapan antara Anna dan Kay yang berjalan tepat di belakangnya pun merasa sedikit kesal.
Tega sekali mereka, ingin keluar jalan-jalan tapi tidak ada satu pun yang mengajakku. Batin Alex.
.
.
1 Jam kemudian.
Sejak tadi mata Alex tidak dapat tertidur, memikirkan Anna yang sekarang keluar bersama Kay membuat dirinya tidak bisa tenang. Yang dia lakukan hanyalah menatap angka yang ditunjuk jarum jam yang ada di pergelangan tangannya, dan sesekali dia berdiri di belakang pintu untuk mengintip lewat lubang intip pintu apakah kedua orang itu sudah kembali ke kamarnya masing-masing ataukah masih belum.
"Ck, apa yang sedang aku lakukan? Kenapa juga aku mesti mengkhawatirkannya? Memangnya dia siapaku?" gumam Alex seraya beranjak dari belakang pintu setelah menyadari apa yang dia lakukan selama hampir sejam terakhir.
Pria itu lantas duduk di salah satu kursi mini bar yang tersedia di dalam kamarnya, lalu menuang sedikit wi*e dan menenggaknya hingga habis.
"Akhg ...."
Rasanya tidak cukup jika hanya meminum sedikit saja, Alex terus menuang minuman keras tersebut hingga tanpa sadar dia sudah menghabiskan lebih dari setengah botolnya. Dan sekarang, dia benar-benar mabuk hingga terus meracau tidak jelas tentang Anna.
"Sadar Alex, dia bukan Bella. Dia Anna, gadis bar-bar yang selama ini sangat sangat sangat kamu benci," ucapnya, ingin menyadarkan dirinya sendiri. "Mereka berdua hanya mirip, tapi bukan orang yang sama," ucapnya lagi seraya menenggak minuman langsung dari botolnya.
"Padahal, dokter Aris bilang tidak ada yang salah dengan mataku, lalu kenapa aku sering melihatnya sebagai Bella? Lama-lama aku bisa gila dibuatnya."
__ADS_1
Begitulah, hingga pada akhirnya Alex kehilangan kesadarannya karena sudah mabuk berat.
B e r s a m b u n g ...