
Begitu sekretaris Anna sudah keluar dari mobil dan berdiri di sampingnya, Alex pun kemudian berkata, "Kamu sedang apa? Kenapa lama baru keluar dari mobil?"
"Oh, it-itu ...." Bella bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin 'kan dia jujur pada Alex dan mengatakan bahwa dia mengecek notifikasi di ponselnya terlebih dahulu sebelum keluar dari mobil, bisa-bisa Alex curiga. "Oh, aku tadi sedang merapikan riasanku," jawabnya asal sambil memasang senyuman lebar di hadapan pria itu.
Alex menatap wajah Anna dengan seksama disertai tatapan menyelidik. "Untuk apa kamu merapikan riasan? Apa kamu ingin menarik perhatian pria lain?"
Bella hanya bisa menelan ludah dengan susah payah mendengar pertanyaan Alex.
Astaga! Kenapa pria ini begitu posesif dan pencemburu? Batinnya.
"Ti-tidak. Aku sama sekali tidak ada niat untuk menarik perhatian pria lain," jawab Anna cepat sambil menggelengkan kepalanya.
"Lain kali jangan mengenakan riasan saat keluar rumah. Aku tidak suka kalau kamu menarik perhatian pria lain," bisik Alex, lalu segera beranjak menuju pintu masuk gedung perkantoran disusul oleh kedua pengawalnya.
Sementara Bella, wanita itu hanya bisa berdiri mematung di tempat setelah mendengar ucapan Alex. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu. Kenapa dia begitu posesif sekali.
Astaga. Belum juga satu jam, tapi rasanya aku sudah hampir gila dibuatnya. Bagaimana mungkin wanita karir dengan jabatan sektetaris sepertiku bisa keluar rumah tanpa mengenakan riasan? Apa dia sudah gila? Kenapa dia sampai segitunya? Sekalian saja tutup wajahku pakai helm dan masker biar tidak ada yang bisa melihatnya." Batin Bella kesal lalu segera berlari menyusul langkah Alex.
.
.
__ADS_1
Sesampainya di depan lift, mereka bertemu dengan Kay yang sudah lebih dulu menunggu di sana.
"Loh, bukannya kalian berdua tadi sedang ada urusan? Apa sudah selesai?" tanya Kay.
"Sudah selesai." Alex menjawab dengan datar lalu segera masuk ke dalam lift begitu pintu liftnya terbuka.
"An, memangnya kamu dan Alex ada urusan apa tadi?" Kay berbisik karena penasaran.
Anna yang baru saja mendapat peringatan dari Alex pun menjadi serba salah. Dia tidak ingin meladeni Kay tapi takut pria itu malah tersinggung. Ingin menjawab pertanyaannya tapi takut Alex akan kembali marah padanya.
"Itu-"
"Sekretaris Anna," panggil Alex.
"I-ya, Presdir.
"Mana daftar schedule ku minggu ini? Aku ingin memeriksanya," kata Alex. Mau tidak mau Anna pun bergerak untuk berdiri di sampingnya.
Anna menatap Kay dengan tatapan tidak enak hati, tapi Kay justru tersenyum seolah mengisyaratkan bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Ini, Presdir." Anna memberikan sebuah map pada Alex, dan Alex pun membacanya sampai mereka sama-sama keluar dari lift.
__ADS_1
"Asisten Kay," panggil Alex.
"Iya, Presdir."
"1 Jam lagi kamu gantikan aku untuk menemui klien dari pihak Bara Holdings. Mulai sekarang kamu yang pegang proyek itu," titah Alex.
Mendengar perintah dari Alex, Anna dan Kay kemudian saling menatap keheranan.
"Kenapa begitu tiba-tiba, Presdir?" tanya Kay.
"Tidak usah banyak protes, lakukan saja seperti yang ku perintahkan."
"Ba-ik, Presdir. Kalau begitu saya pergi dulu." Dengan berat hati Kay berpamitan. "An, aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati," balas Anna.
Sementara itu, Alex justru malah tersenyum penuh kemenangan dalam hati saat melihat sahabat sekaligus asistennya itu masuk kembali ke dalam lift.
Mulai sekarang aku akan membuatmu semakin sibuk dengan banyak proyek agar kamu tidak bisa lagi mendekati wanitaku. Batin Alex.
"Sektetaris Anna, ikut aku masuk ke dalam ruanganku!" titah Alex kemudian.
__ADS_1
"Baik, Presdir."