
Usai sarapan di salah satu restoran terdekat, Alex justru melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan jalan menuju rumah sakit.
"Loh, Dad, kita mau ke mana? Bukankah seharusnya kita kembali ke rumah sakit," tanya AnnaBella.
"Kita kembali ke rumah dulu, Sayang. Kamu harus istirahat, semalam kamu kurang tidur dan kurang istirahat. Ya, aku mengerti David itu sangat berjasa dalam hidupmu, dan seharusnya sebagai suamimu aku harus berterima kasih padanya karena dia pernah menyelamatkan hidupmu, tapi aku juga tidak mau sampai terjadi apa-apa padamu dan calon anak kita hanya gara-gara kamu kurang istirahat."
"Tapi, Dad."
"Sayang, berhenti memikirkan orang lain, pikirkan dirimu sendiri dan calon anak kita. Oke, aku tahu kamu ingin tetap di sana sampai pria itu terbangun, tapi kamu juga harus tetap istirahat 'kan? Ingat, kamu itu sedang hamil." Alex menjeda ucapannya sejenak sambil menatap wajah istrinya yang mendadak jadi sendu. "Oke, kamu tenang saja, aku berjanji akan mengantarmu kembali ke sana nanti sore, tapi seharian ini kamu harus istirahat baik-baik di rumah. Deal?"
"Deal." AnnaBella akhirnya tersenyum. Yang dikatakan oleh suaminya memang benar, dia harus memikirkan keadaannya dan keadaan calon bayi dalam kandungannya. Mengenai waktu pencapaian misi ketiganya yang sangat singkat itu, bukankah dia masih memiliki waktu yang cukup. Lagi pula, dia juga sudah tahu bagaimana cara menyelamatkan nyawa David.
*
*
Saat petang menjelang, Alex benar-benar memenuhi janjinya untuk membawa istrinya menjenguk David saat jam pulang kerja. Saat mereka sampai, mereka melihat nyonya Merry beserta Davidya sedang berbicara dengan dokter di depan ruang perawatan pria itu.
"Tuan David menderita penyakit aneh dan langka, sangat jarang ditemui penyakit seperti ini. Selama 30 tahun saya menjadi dokter, baru kali ini saya menemukan penyakit seperti ini," jelas dokter pria paruh baya tersebut.
"Kalau begitu apakah anak saya bisa disembuhkan, Dok?" Raut wajah Nyonya Merry nampak sangat khawatir.
__ADS_1
"Bisa. Tentu saja bisa. Semua penyakit itu pasti ada obatnya, tapi terkadang menemukannya itu yang sulit."
"Lalu, obat apa yang bisa menyembuhkan putra saya, Dok?" Nyonya Merry kembali bertanya.
"Ya, karena sebelumnya saya bilang penyakit Tuan David adalah penyakit aneh yang sangat langka, untuk sembuh pun Tuan David harus mendapatkan donor darah dari seorang wanita hamil. Darah wanita hamil itu memiliki antibodi khusus, jika pada umumnya antibodi itu berbahaya bagi calon penerima, justru Tuan David sangat memerlukannya. Tapi ...." Dokter itu terlihat agak ragu melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa, Dok?" Kali ini Davidya yang angkat bicara.
"Tapi kalau pun ada yang mau dan cocok, wanita hamil sebenarnya tidak dianjurkan untuk melakukan donor darah, karena bisa membahayakan kondisi janin dalam kandungan. Ibu hamil yang melakukan donor darah berpotensi membuat bayinya lahir prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah. Dengan kata lain, melakukan donor darah saat hamil dapat memengaruhi tumbuh kembang janin mau pun saat bayinya terlahir nantinya," jelas dokter tersebut.
Mendengar hal itu Nyonya Merry hanya bisa menangis, wanita paruh baya itu nampak sangat terpukul. Entah mengapa dia tidak begitu yakin anaknya bisa diselamatkan, mengingat menyelamatkan nyawa David sama dengan membahayakan nyawa orang lain, yaitu si calon bayi yang masih ada di dalam perut ibunya. Sebagai seorang ibu dengan dua anak, nyonya Merry tentu sangat paham bahwa tidak ada satu pun ibu mau pun orang tua yang menginginkan buah hatinya mengalami masalah dalam tumbuh kembang. Semua ibu, khususnya orang tua di dunia ini tentu menginginkan anaknya lahir dengan sehat dan tumbuh serta berkembang dengan baik.
"Saya bersedia mendonorkan darah saya, Dok."
"Sayang, kamu ini bicara apa?" Alex kurang mengerti dengan keputusan dadakan yang dibuat oleh istrinya itu.
"Dad," AnnaBella mendongak menatap wajah suaminya, "hanya aku satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawa David." Wanita itu mencoba memberikan pengertian pada suaminya.
"Tidak, Sayang, sampai kapan pun aku tidak akan pernah memberimu ijin untuk melakukannya," tegas Alex tidak setuju.
"Tapi, Dad-"
__ADS_1
"Tuan Alexander Huang yang terhormat!" Ucapan kakak perempuan David tiba-tiba memotong ucapan Anna. "Asal kamu tahu, adikku, David, dia tidak sadarkan diri selama hampir 1 setengah tahun, itu semua gara-gara istrimu! Kalau David tidak sok pahlawan dengan menyelamatkan nyawanya, dia pasti tidak akan berdiri di hadapanmu dan tidak akan pernah menjadi istrimu seperti sekarang! Harusnya sekarang yang berada di posisi adikku adalah perempuan tidak tahu diuntung itu! Bukan David kami!" Wanita yang lebih tua dari Alex tersebut langsung jatuh terduduk di lantai sambil menangis pilu, adik yang dia sayangi sejak kecil kini terbaring kritis tak berdaya di atas ranjang perawatan rumah sakit. Entah David akan pulih seperti sedia kala atau mungkin ini adalah akhir dari kisah hidupnya.
"Kak Davidya, bangunlah." AnnaBella berusaha membantu wanita itu untuk bangkit, tapi sayangnya Davidya langsung menepis tangannya dengan kasar, hampir saja wanita hamil itu terjatuh, untungnya ada Alex yang dengan sigap menahan istrinya.
"Jangan sentuh aku!" teriak Davidya. "Kalau sampai terjadi apa-apa pada adikku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu sampai kapan pun!" Davidya kembali berteriak dengan penuh penekanan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Anna. Matanya yang merah dan berair menatap tajam dan benci pada wanita hamil itu.
"Vidya, apa yang kamu katakan? Tenangkan dirimu, Nak. Kita ini sekarang berada di rumah sakit, tenanglah." Nyonya Merry mencoba menenangkan putrinya, sembari memberi kode pada Anna dan Alex untuk pergi dulu sampai emosi Davidya mereda.
Melihat gerakan tangan mengusir nyonya Merry, Alex segera menarik tangan istrinya agar segera pergi dari sana, tapi sayangnya AnnaBella justru bersikeras tidak mau pergi. Ini bukan hanya tentang balas budi, melainkan ada misi kehidupan yang harus dia tuntaskan. Manusia biasa mana pun tidak akan pernah mengerti dengan hal itu, termasuk Alex.
"Sayang, ayolah," bujuk Alex.
"Tidak, Dad. Aku harus menyelamatkan nyawa David," ucap AnnaBella dengan wajah sendu dan memelas. Memohon kepada sang suami untuk mengijinkannya mendonorkan darahnya untuk pria itu.
"Iya, Sayang, aku mengerti. Tapi kamu lihat 'kan Nyonya Merry menyuruh kita untuk pergi. Setidaknya sampai emosi Davidya mereda."
AnnaBella menundukkan kepalanya, mau tidak mau dia harus menurut. Sepertinya ini memang bukan saat yang tepat untuk menyelamatkan nyawa David.
...______________________________________...
...Hola Bestie, untuk para pembaca setia karya-karya akak Otor yang ingin mengetahui kapan jadwal update karya-karya akak Otor yang sedang on going silahkan bergabung di grup "Informasi Jadwal Update" milik akak Otor ya😊TQ🙏🏼...
__ADS_1