Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 29 - Perdebatan Dua Orang Sahabat


__ADS_3

Sesampainya di apartemen, Bella langsung mencari informasi tentang kedekatan antara Anna dan Kay di masa lalu. Rupanya, pria bernama lengkap Kaysan Lyndon itu dulunya sering menghibur Anna disaat Anna bersedih karena cintanya ditolak oleh Alex. Di tempat Kay mengajak Anna untuk minum kopi tadi siang, rupanya sudah menjadi tempat favorit keduanya ketika mereka membuat janji untuk bertemu. Satu-satunya tujuan Anna mengajak Kay untuk bertemu adalah, karena gadis itu ingin mendapatkan informasi terbaru tentang Alex dari sang asisten secara langsung. Karena kedekatan mereka sudah layak disebut sebagai teman, Kay bahkan sering mengantar Anna pulang ke apartemen karena gadis itu selalu saja mabuk-mabukan di bar setiap kali pernyatan cintanya ditolak mentah-mentah oleh Alex.


"Oh, jadi ternyata seperti itu. Pantas saja tadi asisten Kay langsung memesan kopi dan cake tanpa bertanya lebih dulu padaku. Rupanya mereka berdua berteman cukup akrab. Tapi kalau mereka berteman, lalu kenapa asisten Kay terus memanggil Anna dengan sebutan nona? Bukankah seharusnya kalau mereka memang berteman, lebih bagus jika dipanggil nama saja," gumam Bella sembari berpikir.


"Ah, sudahlah. Untuk apa aku terlalu memikirkan hal itu. Lebih baik mulai sekarang, aku pasang telinga baik-baik menunggu kabar terbaru dari asisten Kay."


.


.


1 Minggu kemudian, Hawei Group.


Plak!


"Laporan macam apa ini?! Kamu ini sebenarnya bisa bekerja atau tidak, hah?!" bentak Alex pada sektetaris baru yang dia pilih seminggu yang lalu.


"Sa-saya minta maaf, Presdir." Sekretaris baru itu menunduk takut saat Alex membanting map yang isinya sudah dia perbaiki sebanyak beberapa kali, tapi tetap saja salah.


"Maaf, maaf. Kamu pikir rekan kerja sama kita akan memaklumi kalau kita hanya meminta maaf terus? TIDAK!" bentaknya kembali di ujung kalimatnya. "Kamu aku pecat! Cepat tinggalkan perusahaan ini!"


Karena tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan hanya untuk memohon dan membela diri, sekretaris baru itu pun segera pergi secepat kilat dari hadapan Alex, sebelum pria itu semakin marah padanya.


"KAY!!! KAYSAN!!!" teriak Alex pada asistennya. Saat ini dia sungguh sangat marah karena menganggap bahwa orang kepercayaannya itu tidak pernah becus menyeleksi para calon kandidat yang ingin menjadi sekretarisnya.


Tidak berselang lama, asisten Kay pun muncul di hadapannya. Itu karena ruangan pria itu hanya bersebelahan dengan ruangan atasannya. Lebih tepatnya satu ruangan dengan sekretaris presdir dengan posisi meja mereka yang saling berhadapan di samping kiri dan kanan pintu masuk ruangan Alex.


"Iya, Presdir. Ada apa Anda memanggil saya?" tanya asisten Kay.


"Kamu ini bagaimana sih, Kay? Menyeleksi calon sekretaris saja kamu tidak bisa. Orang yang kamu pilih itu sama sekali tidak bisa diandalkan," kesal Alex.


Mendengar ucapan sang atasan, Kay langsung memutar bola mata dengan malas sambil menghela napasnya dengan kasar. Setelah itu dia menatap arlojinya yang sedikit lagi menunjuk waktu jam istirahat.


Enak saja dia. Mentang-mentang bos, seenaknya saja melemparkan semua kesalahannya padaku. Batin asisten Kay tidak terima.


"Kenapa kamu mendengus?! Mau melawanku, hah?!" bentak Alex kemudian, sambil berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang seolah-olah menantang Kay untuk baku hantam.


Sementara itu, asisten Kay masih tidak menjawab. Dalam hati dia mulai menghitung mundur sambil terus menatap arlojinya. Lima, empat, tiga, dua, satu.


BRAK!!! Kay tiba-tiba saja menggebrak meja kerja Alex, sehingga membuat Alex begitu terkejut. Kay merasa sangat emosi melihat kelakuan sahabat sekaligus bosnya tersebut yang suka sekali menyalahkan dirinya ketika tidak puas dengan sekretaris baru yang dia pilih sendiri. Tapi sepertinya kali ini yang paling parah karena sektetaris baru itu hanya bisa bertahan 1 minggu saja, yang lain bahkan bisa bertahan paling lama 25 hari.

__ADS_1


"Iya! Aku memang ingin melawanmu! Kenapa,  kamu mau marah? Mau memecatku lagi? Oh, tidak bisa. Sekarang sudah masuk wajtu jam istirahat." Kay tidak mau kalah dari Alex, pria itu juga ikut berkacak pinggang sama seperti bosnya itu. Sehingga jika ada yang melihat mereka dari luar, sudah pasti menyangka bahwa kedua pria itu pasti mau adu kekuatan.


"Kamu-" Alex mengepalkan tangannya erat. Dia ingin memberi pelajaran pada Kay tapi sekarang memang sudah masuk waktu jam istirahat. Seperti biasa, di luar jam kerja, mereka akan bersikap layaknya dua orang sahabat. Kay tidak perlu lagi bersikap sopan dan patuh pada perintah presdir Hawei Group tersebut.


"Lex, aku tidak terima kalau kamu terus menyalahkanku seperti ini. Bukankah minggu lalu kamu sendiri yang berulah. Kamu mengusir Anna Harold tanpa mewawancarainya terlebih dahulu. Padahal, dari sekian banyak calon kandidat yang aku seleksi, dialah yang memiliki kinerja paling bagus dan paling pantas menggantikan posisi sekretaris Bella."


"Hentikan omong kosongmu itu, Kay. Gadis itu sama sekali tidak bisa bekerja. Dia bisa mendapatkan nilai sempurna, itu karena dia dibantu olehmu. Jangan pikir aku tidak tahu kalau kalian berdua itu dari dulu memang sudah berteman dekat."


"Kamu yang omong kosong, Lex. Tega-teganya kamu menuduhku dan Anna yang bukan-bukan. Aku dan Anna memang cukup dekat dan berteman sejak dulu, tapi aku sama sekali tidak melakukan kecurangan agar bisa membantunya lolos melewati seleksi. Nilai sempurna yang dia dapatkan, itu murni dari hasil pekerjaannya sendiri. Kalau kamu tidak percaya," Kay beranjak sebentar menghampiri mejanya, mengambil sebuah map, lalu melemparkan map itu ke atas meja kerja Alex, "lihat dan periksa sendiri menggunakan mata kepalamu."


"Berhenti membicarakan hal omong kosong, Kay. Apa pun yang kamu katakan aku tidak akan percaya. Gadis bod*h seperti dia, mana pantas menjadi sekretarisku."


"Terserah kamu lah, Lex. Percuma aku bicara dan menjelaskan semuanya padamu. Kamu terlalu egois. Kamu bukan lagi Alex yang dulu aku kenal. Alex yang dulu tidak akan pernah mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan." Karena kesal dan kecewa, Kay memutuskan untuk pergi dari hadapan Alex. Dia sungguh lelah hati dan lelah fisik menghadapi sikap Alex akhir-akhir ini.


"Kay! Berhenti! Kamu mau kemana?! Aku belum selesai bicara!" teriak Alex.


"Bicara saja dengan tembok! Aku malas berdebat dengan orang egois dan kekanakan seperti kamu!" balas asisten Kay sembari berjalan menuju pintu keluar. Namun langkahnya terhenti ketika sudah berada di ambang pintu. "Dan satu lagi, kalau kamu ingin memecatku, pecat saja! Aku sudah tidak peduli lagi!" tambahnya sebelum akhirnya melenggang pergi dari sana.


"KAY!!! KAYSAN LYNDON!!! BERHENTI DI TEMPAT!!!" teriak Alex, tapi tetap saja asistennya itu tidak mempedulikannya. "S**hit! Makin melunjak saja dia. Mentang-mentang aku tidak bisa memecatnya."


Alex menjatuhkan dirinya di atas kursi kebesarannya, lalu bersandar di sandaran kursi sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Dia sungguh merasa sangat frustasi karena tidak kunjung menemukan orang yang tepat untuk menggantikan posisi Bella. Ditambah lagi Kay, orang kepercayaannya itu sedang merajuk karena ulahnya.


"Bulls*it!" Alex melempar map itu ke tempat sampah. Rasa bencinya pada Anna Harold membuatnya enggan untuk menerima kenyataan.


.


.


Di sebuah coffe shop, masih di area perkantoran Hawei Group. Kay sedang mengaduk-aduk kopi yang dia pesan beberapa menit lalu tanpa pernah sekali pun meminumnya. Kelakuan sahabat sekaligus bosnya itu benar-benar membuat batas kesabarannya habis. Tidak tahukah Alex betapa Kay sudah merasa sangat bosan karena harus rutin menyeleksi puluhan orang setiap bulannya hanya untuk menjadi sekretaris sementara pria itu. Dan yang lebih parahnya lagi, sepertinya sekarang Kay harus kerepotan lagi karena Alex baru saja memecat sekretaris yang baru 1 minggu atasannya itu pekerjakan.


Saat Kay tengah melamun, sesosok pria bertubuh besar dan tinggi tiba-tiba muncul dan berdiri tepat di samping mejanya. Siapa lagi kalau bukan Alexander Huang, bosnya yang sangat menyebalkan itu. "Aku minta maaf, Kay. Aku tahu aku yang salah."


Kay tidak menjawab. Dia malah mendengus kasar sambil membuang pandangannya ke arah lain, tidak ingin menatap Alex yang saat ini sedang membuatnya kesal.


Melihat Kay mengabaikannya, Alex duduk di seberang meja pria itu tanpa dipersilahkan. Selama beberapa saat mereka saling diam. Alex yang sudah bersahabat dengan Kay semenjak mereka masih kecil cukup mengenal seperti apa sifat sahabatnya itu. Jika Kay sudah diam seperti ini, itu artinya Kay pasti benar-benar marah padanya.


"Kay, aku benar-benar minta maaf soal yang tadi. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud untuk-"


"Kamu pasti belum melihat file yang aku berikan padamu tadi 'kan?" Kay langsung memotong ucapan Alex. Dia sangat yakin akan hal itu mengingat baru 15 menit yang lalu dia meninggalkan Alex di ruangannya dan sekarang pria itu sudah menyusulnya ke sana.

__ADS_1


"Itu ... aku ...." Alex tidak tahu harus berkata apa.


Kay berdecih, semakin yakin dengan apa yang dia tuduhkan bahwa Alex pasti belum melihat isi file yang dia berikan. "Cih, jangan bilang kalau kamu kemari karena ingin membujukku agar aku kembali membuka iklan di internet untuk mencarikan sekretaris baru untukmu."


Alex mendengus. Tepat seperti dugaan Kay. Dia terpaksa membuang harga dirinya demi membujuk sahabat sekaligus asistennya tersebut. Karena sebenarnya dia tidak mampu mengerjakan semuanya seorang diri. Jabatannya sebagai presiden direktur perusahaan besar jelas membuatnya tidak punya waktu mengurusi hal-hal kecil seperti itu. Sebenarnya ada divisi tertentu yang bertugas untuk itu, tapi Alex hanya mempercayakan hal satu ini hanya pada Kay.


"Ya, mau bagaimana, Kay. Kamu tahu 'kan kalau aku sangat membutuhkan sekretaris baru untuk meringankan pekerjaanku."


"Ya sudah, terserah kamu. Lakukan seperti yang kamu inginkan." Kay tersenyum sinis lalu bangkit dari duduknya. "Oh iya, jangan lupa juga untuk mencari asisten baru untuk meringankan pekerjaanmu. Karena mulai detik ini, aku memutuskan untuk mengundurkan diri." Kay melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat itu.


Alex sungguh terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut sang asisten. "K-Kay, jangan bercanda. Siapa yang mengijinkanmu mengundurkan diri?" Alex berusaha mengikuti langkah Kay dari belakang, tapi Kay sama sekali tidak mempedulikannya dan malah masuk ke dalam mobil.


Tok tok tok! Alex mengetuk kaca pintu mobil Kay.


"Kay! Jangan pergi dulu! Ayo kita bicara baik-baik!" teriak Alex.


"KAY! KAYSAN!!! KAYSAN LYNDON!!!" Sekeras apa pun Alex berteriak memanggil namanya, tapi Kay tetap saja mengabaikan Alex dan malah pergi dengan mobilnya.


"Brengsyek kamu, Kay!!! Pergi sana jauh-jauh dan jangan pernah kembali lagi!!! Kalau perlu, buat surat pengunduran diri sebanyak-banyaknya!!!" teriak Alex saking kesal dan geramnya. "Akh!!! Dasar sahabat tidak tahu diri," makinya sambil menendang ke udara.


.


.


Unit Anna.


Ting Tong, ting tong.


Bella bergegas bangkit dari tempat tidur setelah mendengar bel unitnya ditekan beberapa kali.


"Akhirnya, kurir pengantar makanan datang juga. Aku memang sudah sangat kelaparan," gumamnya seraya berjalan membukakan pintu. Namun, dia justru sedikit dikejutkan dengan sesosok pria yang berdiri di balik pintu unitnya.


"Selamat siang, Nona. Maaf mengganggu," sapa pria itu.


"Asisten Kay?"


B e r s a m b u n g ...


...__________________________________________...

__ADS_1


...Naskah 1718 kata/bab loh ini🤭 Jadi jangan bilang pendek lagi ya😅 Otor sengaja buat panjang biar kalian puas bacanya, karena cerita ini hanya bisa up 1 bab/hari....


__ADS_2