
3 Hari kemudian.
Masalah yang membuat mereka terbang ke kota Z akhirnya selesai juga. Dan malam ini sebelum mereka kembali ke Jakarta besok pagi, mereka bertiga memutuskan untuk menyempatkan diri menghadiri undangan pesta yang diadakan oleh salah satu pengusaha muda yang dulunya merupakan teman satu kampus dan satu fakultas dengan Alex dan Kay. Kebetulan mereka tidak sengaja bertemu dan temannya itu pun mengundang mereka untuk datang menghadiri pesta yang diselenggarakan malam ini di salah satu gedung.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Anna begitu mobil yang mereka tumpangi berhenti.
"Ya, kita sudah sampai," jawab Kay. "Ayo turun."
Begitu mereka bertiga keluar dari mobil, Kay langsung mengangkat lengan kirinya agar digandeng oleh Anna.
"Ayo masuk," ajak Kay sambil menunduk dan tersenyum menatap gadis itu.
"Presdir Huang?" bisik Anna.
"Tenang saja, Presdir menyuruh kita untuk masuk duluan," balas Kay ikut berbisik, tidak ingin pria kutub di sampingnya itu mendengar. "Ayo," ajaknya lagi sambil tersenyum.
"Oh, ya sudah kalau begitu. Ayo."Anna balas tersenyum, lalu melingkarkan tangannya pada lengan kekar milik asisten Kay.
Sementara itu, Alex lebih memilih berjalan sendirian di belakang keduanya. Saat mereka sama-sama memasuki ruang acara, tatapan Alex tidak pernah lepas dari punggung asisten dan sekretarisnya. Sekilas keduanya terlihat seperti sepasang kekasih jika dilihat dari belakang.
Alex mendengus. Tenang Alex, tenang. Dia itu bukan Bella. Sama sekali bukan Bella. Kamu harus bisa mengendalikan hati dan perasaanmu. Kamu harus tetap merasa baik-baik saja meski pun dia dekat dengan pria mana pun. Jangan hanya gara-gara kamu sering melihat sosok Bella dalam dirinya serta sifat mereka yang memiliki banyak kesamaan, kamu jadi berharap dia kembali mengejarmu seperti dulu. Batinnya mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari perasaan yang selalu mengganggunya akhir-akhir ini.
Begitu memasuki lokasi pesta, kedatangan mereka bertiga langsung disambut hangat oleh Tama, pemeran utama dalam pesta malam ini.
__ADS_1
"Terima kasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk hadir." Tama menyambut para tamunya dengan sangat ramah.
"Selamat menikmati pesta beserta jamuannya," kata Tama lagi diiringi dengan senyuman setelah mereka saling mengobrol basa-basi.
"Terima kasih, Tama. Kalau begitu aku dan Anna ke sana dulu," ucap Kay.
"Silahkan, silahkan. Selamat bersenang-senang," balas Tama.
Begitu Anna dan Kay berjalan menghampiri beberapa orang yang mereka kenal, Alex dan Tama justru fokus menatap punggung mereka berdua dari belakang. Memang sejak tadi siang pria bernama Tama itu nampaknya tertarik pada sekretaris Anna, bahkan sejak mereka pertama kali bertemu. Ditambah lagi malam ini Anna terlihat semakin cantik dengan gaun malam juga riasan yang dia kenakan sehingga membuat mata Tama seolah enggan untuk lepas menatap gadis cantik tersebut.
Tama mengambil segelas minuman dari pelayan yang lewat lalu memberikannya pada Alex. "Lex, ini untukmu."
"Terima kasih," ucap Alex seraya menerima pemberian pria tersebut. Sejak tadi tatapannya juga tidak pernah lepas dari punggung Anna dan Kay, sama seperti pria yang saat ini berdiri di sampingnya.
Alex tidak langsung membalas ucapan tama, dia memilih untuk menenggak minumannya terlebih dahulu sebelum menanggapi ucapan pria di sampingnya.
"Mereka berdua memang sudah berteman dekat sejak dulu," jawab Alex.
"Kamu yakin mereka berdua hanya berteman? Tadinya aku pikir mereka berdua itu sepasang kekasih." Tama kembali berkata.
"Bukan," jawab Alex singkat. Sejujurnya dia merasa sangat malas menanggapi ucapan tama jika harus membahas masalah Anna dan Kay, entah mengapa membuat dadanya seperti terkena tegangan listrik berkekuatan rendah.
"Kalau begitu ... apa aku boleh mendekatinya? Jujur saja, aku menyukai sekretarismu itu sejak pertama kali melihatnya. Selain cantik, dia juga sangat cerdas dan kompeten. Benar-benar gadis idaman yang sempurna," ungkap Tama, yang langsung membuat Alex menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
Entah mengapa udara di sekeliling seketika terasa gerah, membuat Alex langsung menenggak minuman yang masih tersisa di gelasnya hingga tandas.
"Dekati saja kalau dia mau denganmu," ucapnya sambil merem*s gelas minuman yang sudah kosong. Jika saja gelas itu terbuat dari plastik, sudah pasti gelasnya remuk karena ulahnya.
Tama langsung tersenyum lebar saat mendapat izin dari Alex. "Terima kasih, ya. Aku kesana dulu. Nikmatilah pestanya. Oh iya, disana banyak gadis cantik, kamu bisa bersenang-senang dengan mereka jika kamu mau."
Setelah meninggalkan Alex, Tama langsung menghampiri MC yang sedang berdiri di atas panggung. Tidak berselang lama setelah Tama berbisik pada pembawa acara tersebut, pembawa acara itu pun kemudian mengumumkan bahwa pesta dansa akan segera dimulai. Sebagai bintang utama pada acara malam ini, Tama bebas memilih gadis mana pun untuk dia jadikan sebagai pasangan dansanya.
"Cih, trik murahan." Alex berdecih saat melihat Tama mulai berjalan mengelilingi gadis-gadis cantik yang menjadi tamunya malam ini. Alex yakin, yang akan dipilih oleh Tama nanti ujung-ujungnya pasti adalah Anna. Dan benar saja tebakannya itu, setelah Tama memilah dan memilih selama beberapa saat, dia pun akhirnya berhenti tepat di depan Anna sambil mengulurkan tangan kanannya meminta gadis tersebut.
"Nona Anna, apakah kamu bersedia untuk menjadi pasangan dansaku malam ini?" ucap Tama sambil meminta Anna layaknya seorang pangeran yang meminta kesediaan sang putri.
Anna tidak langsung menjawab, gadis itu justru malah mendongak menatap Kay seolah meminta persetujuan dari pria yang sejak tadi selalu bersama dirinya tersebut.
"Apakah boleh?" bisiknya dan langsung mendapat anggukan dari Kay.
Mendapat persetujuan dari Kay, Anna pun akhirnya menyambut uluran tangan Tama dan mulai berdansa berdua dengan pria itu ketika lampu dan musik sudah disesuaikan dengan moment.
Anna dan Tama kini sedang menjadi pusat perhatian. semua pasang mata tertuju pada mereka berdua tanpa terkecuali. Iringan musik romantis mengiringi setiap gerakan teratur diantara keduanya. Membuat banyak pasang mata yang menatap kagum ke arah keduanya. Tampan, cantik, serta serasi. Tiga kata yang mewakili penilaian sebagian besar penonton yang menyaksikan adegan romantis tersebut.
Sementara itu, Alex merasa udara di sekitarnya sudah tidak cukup lagi untuk dia pakai bernapas. Tidak tahan melihat pemandangan yang membuat matanya sakit, dia pun segera meninggalkan tempat tersebut lalu menghubungi seseorang.
"Atur ulang jadwal makan malam kita. Aku punya hadiah kejutan spesial untukmu," ucap Alex lalu mengakhiri sambungan teleponnya dengan Carissa.
__ADS_1
B e r s a m b u n g ...