Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 70 - Dewa Harapan?


__ADS_3

...Buat yang udah ngedesak Otor di sebelah, ini akak Otor udah update yak wkwkwk...


.......


.......


Balkon lantai dua kediaman Keluarga Harold. Selepas kepergian asisten Kay, kini Alex dan AnnaBella tengah duduk berdua di sana. Tadi saat wanita itu masuk menemui Tuan Harold, pria paruh baya itu meminta putrinya untuk tinggal kembali di kediamannya bersamanya, dan tentunya AnnaBella sama sekali tidak keberatan akan hal itu mengingat kedua nenek sihir penunggu kediaman tersebut sudah didepak dari sana.


"Sayang," Alex menggenggam sebelah tangan Anna lalu menci um nya sekilas, "aku sudah melakukan sesuatu hal yang sangat luar biasa untukmu malam ini, dan sekarang aku ingin menagih hadiahku." Alex tersenyum sambil menatap wanitanya dengan lekat.


"Ha-hadiah? Hadiah apa?" tanya AnnaBella sedikit gugup, apalagi sekarang mereka hanya berdua saja di tempat yang sepi itu, tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Bisa saja Alex meminta hal yang aneh-aneh padanya, misalnya playing horse-horse seperti yang pernah pria itu minta padanya beberapa hari lalu tapi AnnaBella menolaknya.


Melihat wanitanya malah tegang dan gugup, seketika Alex langsung turun dari kursinya dan berjongkok di hadapan wanita tersebut.


"Anna Harold, menikahlah denganku," ucapnya setelah mengeluarkan cincin dari dalam saku jasnya. Entah sejak kapan pria itu menyiapkan cincin berlian untuk melamar kekasihnya.


Melihat hal itu AnnaBella tentu saja dibuat tidak bisa berkata-kata. Bagaimana tidak, lamaran ini begitu mendadak untuknya, dan tentu saja membuatnya bahagia sekaligus terharu.


Melihat wanitanya hanya diam saja tidak melakukan apa pun untuk menanggapi ucapannya, Alex lantas menarik tangan kanan Anna dan menyematkan cincin itu di jari tengah wanita tersebut. "Kali ini kamu tidak memiliki hak untuk menolakku, Sayang, karena kamu adalah hadiah yang aku mau."


Mendengar ucapan yang terkesan memaksa keluar dari mulut pria itu membuat AnnaBella tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Alex ...."


Alex tersenyum kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


.

__ADS_1


.


Beberapa saat kemudian.


Setelah Alex pergi karena malam memang sudah hampir larut, Bella lantas berjalan memasuki kamar yang dulunya merupakan kamar pribadi Anna Harold sebelum gadis itu diusir dari sana. Kamarnya sangat luas dan mewah, sebelas dua belas dengan kamar Bella di rumah kedua orang tuanya dulu. Wanita itu lantas duduk di pinggir ra nja ng kemudian menemukan bingkai berisi foto Anna yang terlihat masih sangat muda di atas nakas, mungkin sekitar umur 18 tahun saat foto itu diambil.


Bella tersenyum sembari ibu jarinya mengusap foto itu. "Lihat," Bella mengangkat cincin yang tersemat di jarinya dan menunjukkannya pada Anna, "sekarang Alex sudah melamar kita berdua. Kamu juga senang, bukan?"


Setelah meletakkan bingkai foto itu kembali ke tempatnya, Bella kemudian berjalan melihat-lihat isi kamar tersebut. Di sudut kamar dia menemukan sebuah pintu yang menghubungkan kamar dengan walk in closet. Di ruangan yang berukuran sedang tersebut Anna menyimpan pakaian beserta koleksi tas, sepatu, jam tangan, serta berbagai macam aksesoris. Dilihat dari banyaknya barang-barang tersebut, Bella bisa menyimpulkan bahwa dulu Anna pasti hidup dengan bermewah-mewahan saat masih belum diusir oleh Tuan Harold.


Mata Bella lantas salah fokus pada sebuah album foto berukuran besar yang ada di dalam lemari, karena penasaran dengan isinya, Bella pun mengeluarkan semuanya kemudian meletakkannya di atas meja rias untuk dia lihat isinya. Rupanya Album itu berisi foto-foto Anna mulai dari gadis itu masih bayi, kanak-kanak, remaja, hingga masuk universitas. Pada halaman terakhir, Bella menemukan sebuah foto saat Anna bersama dengan seorang lelaki yang sepertinya tidak asing. Lelaki itu merangkul dan memeluk leher Anna dari belakang, keduanya terlihat lebih mirip kakak adik ketimbang sepasang kekasih, tapi setahu Bella Tuan Harold juga tidak memiliki seorang putra.


"Siapa ini? Tapi aku seperti mengenalnya." Bella menatap foto itu dengan seksama, mencoba mengingat-ingat sosok lelaki yang terlihat tidak asing di dalam foto tersebut.


D-Dewa Harapan?


Brak!


Bella langsung menjatuhkan album foto itu ke lantai ketika sosok yang baru saja dia pikirkan muncul secara tiba-tiba di hadapannya dan mengejutkannya.


"Selamat, misi kehidupan keduamu berhasil kamu selesaikan," ucap Dewa Harapan.


"Astaga, Dewa ..." Bella memegangi dadanya yang seketika berdebar kencang karena terkejut, "hampir saja aku mati bukan karena gagal menyelesaikan misi, tapi kamu yang mengagetkanku."


Dewa Harapan tidak menanggapi ucapan Bella, pandangannya malah tertuju pada album foto yang kini sudah tergeletak di lantai.

__ADS_1


"Jangan menyentuh barang orang lain tanpa ijin," ucapnya dengan nada sedikit ketus, membuat Bella menatapnya dengan tatapan melongo. Kalau Bella tidak boleh menyentuh barang-barang Anna tanpa ijin, lalu bagaimana ceritanya dia bisa tinggal di sana. Bukankah sekarang dirinya dan Anna sudah menjadi satu, pikirnya.


Bella kemudian mengambil album foto yang tidak sengaja dia jatuhkan, dan seketika wanita itu teringat pada foto penemuan terakhirnya yang dia pikir Anna dan Dewa Harapan yang ada di dalam foto tersebut. Baru saja Bella ingin menunjukkan foto itu pada Dewa Harapan, tapi tiba-tiba sosok itu mengajaknya meninggalkan ruangan tersebut.


"Dewa, aku menemukan sebuah fot-"


"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini, kita bicara di luar saja," ucap Dewa Harapan lalu menghilang begitu saja.


"De-Dewa! Dewa!" panggil Bella seraya menyapukan pandangannya ke sekeliling tapi sosok itu benar-benar sudah menghilang dari sana. "Ck, kenapa dia pergi begitu saja sih? Kenapa tidak bicara di sini saja?" kesal Bella sembari menyimpan album itu kembali ke tempatnya.


"Cepatlah, aku menunggumu di balkon." Suara Dewa Harapan kembali terdengar, tapi sosoknya tidak muncul.


"Iya, iya, tunggu sebentar. Kamu ini aneh sekali."


.


.


Balkon kamar Anna.


Bella berjalan keluar menuju tempat itu, di luar sana sudah nampak sosok Dewa Harapan yang berdiri menunggu dengan posisi membelakanginya. Saat ini yang ada di pikiran Bella hanyalah, apakah dulunya Anna dan Dewa Harapan memiliki hubungan? Tapi jika benar iya, bagaimana bisa seorang manusia bisa menjadi sosok Dewa Harapan seperti sekarang ini. Atau apa mungkin sosok lelaki yang ada di dalam foto bukanlah Dewa Harapan melainkan seorang manusia yang memang hanya mirip dengannya.


"Sekarang kamu sudah berhasil menyelesaikan misi kehidupanmu dengan total waktu 5 bulan 7 hari, dan masih tersisa waktu 6 bulan 23 hari lagi. Lalu apa yang ingin kamu lakukan dengan sisa waktu itu? Apakah kamu ingin menikmatinya sebagai manusia normal atau mungkin kamu ingin menukar waktu 6 bulanmu dengan menyatakan pada salah satu orang terdekatmu tentang identitasmu yang sebenarnya?" tanya Dewa Harapan.


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2