Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 24 - 100% Mission Completed


__ADS_3

Ting.


Aaron berjalan keluar dari lift. Di tangannya sudah ada 1 buah paper bag yang berisi makanan pesanan sang pujaan hati. Dari kejauhan, Aaron langsung mengerutkan dahinya begitu melihat sebuah koper berwarna hitam dengan ukuran sedang tergeletak di depan pintu unitnya. Eh, tidak. Unit itu bukan lagi milik Aaron, melainkan sekarang sudah dia berikan pada Anna untuk dijadikan sebagai jaminan karena pria itu ingin menikahi putri bungsu keluarga Harold.


Aaron tidak ingin berpikir negatif tentang Anna. Tidak mungkin Anna mengusirnya. Mereka berdua saling mencintai, dan sebentar lagi mereka akan bertunangan, lalu menikah. Begitu pikir Aaron.


Ketika Aaron sudah semakin dekat, jantung pria itu berdetak lebih cepat dari sebelumnya, firasatnya mulai tidak enak. Apalagi setelah membaca pesan pada secarik kertas yang ditempelkan oleh Anna di atas kopernya.


"Terima kasih atas segalanya. Cintamu, Anna," ucap Aaron sambil membaca tulisan pada kertas selembaran tersebut. "Apa maksudnya ini? Kenapa Anna membawa koperku keluar? Tidak mungkin 'kan dia mengusirku setelah aku memberikan semuanya untuk dijadikan sebagai jaminan?" gumamnya.


Aaron sadar, dia sekarang sudah kembali menjadi pria miskin yang tidak punya apa-apa lagi. Dia sudah menyerahkan segala yang dia punya untuk Anna. Niatnya sih untuk naik level dengan menjadi anggota baru di keluarga Harold yang kaya raya dan terpandang. Dia belum sadar saja kalau ternyata dia sudah ditipu oleh gadis yang sangat dia cintai.


"Apa Anna sedang bercanda? Atau mungkin dia sedang mengerjaiku?" gumam Aaron seraya menekan password untuk membuka pintu, tapi sayangnya password yang dia masukkan salah.


"Loh, kenapa bisa salah? Apa mungkin aku salah tekan?" gumam Aaron. "Ya, sepertinya aku keliru."


Aaron sama sekali tidak pernah berpikir bahwa Anna sudah mengganti sandi unit tersebut. Karena meski pun dia sudah menyerahkan unit itu pada Anna, tapi dia belum memberitahukan apa password nya. Jadi tidak mungkin Anna Harold akan macam-macam padanya apalagi sampai mengusirnya. Begitu pikir Aaron.


Namun ternyata Aaron salah menduga. Lagi-lagi password yang dia tekan salah. Dia sudah beberapa kali mencoba, tapi tetap saja salah. Seketika Aaron menjadi semakin panik, perasaannya semakin tidak enak. Tidak mungkin Anna tega melakukan hal itu padanya, mereka berdua saling mencintai.


"Damn! Apa mungkin selama ini Anna sudah menipuku?!"


"Selamat pagi. Dengan saudara Aaron Ken?" Tiba-tiba seorang laki-laki menyapa Aaron dari arah belakang. Aaron yang penasaran langsung menoleh sambil memutar badan. Saat ini tepat di hadapannya sudah berdiri dua orang pria berseragam polisi.


"Y-ya, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?" jawab Aaron. Dalam sekejap borgol langsung melingkar di pergelangan tangannya, membuat Aaron seketika menjadi panik. "Loh, ada apa ini, Pak?! Kenapa Bapak menangkap saya? Salah saya apa, Pak?!"


"Saudara Aaron, Anda terpaksa kami tangkap atas dasar kasus percobaan pembunuhan pada mendiang saudari Bella Chintya Adinatha, istri Anda," jelas salah satu aparat tersebut.


"Tapi, Pak, Bella meninggal karena kecelakaan, bukan karena saya yang membunuhnya," jelas Aaron. Dia berusaha membela diri.


"Silahkan jelaskan nanti di kantor polisi," kata polisi tersebut sambil menyeret Aaron pergi dari sana.


Aaron yang tidak terima ditangkap tentu saja memberontak. Namun sekuat apa pun dia meronta ingin melepaskan diri, tenaganya tentu tidak cukup kuat untuk melawan kedua aparat berbadan tegap tersebut.


.


.

__ADS_1


"100% Mission Completed."


Di tempat lain, Bella langsung melompat kegirangan saat mendapatkan notifikasi bahwa misi kehidupan pertamanya sudah tuntas 100 persen.


"Yes! Aku berhasil! Aku berhasil!" teriaknya sambil meneteskan air mata bahagianya. Tidak peduli jika sekarang dia sedang berada di tempat umum dan sedang menjadi pusat perhatian orang-orang.


Setelah berjuang selama 5 setengah bulan, Bella akhirnya bisa mewujudkan tujuan hidup terbesarnya kenapa dia sangat ingin mendapatkan kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya setelah meninggal. Perjuangannya tidak sia-sia, bahkan masih tersisa waktu setengah bulan lagi dari batas waktu yang telah ditentukan.


TIN!


Bella begitu terkejut saat sebuah mobil sport mewah berhenti tepat di hadapannya. Wanita itu langsung mengernyitkan dahinya karena tidak tahu siapa pemilik mobil keren tersebut.


Ketika kaca mobil tersebut terbuka, Bella langsung melongo.


"Kamu-"


"Masuk!" teriak seorang pria yang ada di balik kemudi mobil tersebut.


"Ke-kenapa ...?" Bella bingung harus berkata apa, tidak menyangka bahwa Dewa harapan sekarang sudah berubah wujud menjadi manusia dan mengendarai sebuah mobil mewah.


"Tidak usah banyak bicara. Cepat masuk!" titahnya.


Setelah Bella masuk ke dalam mobil, Dewa Harapan kembali melajukan mobilnya membelah keramaian lalu lintas kota.


"Kenapa kamu bisa tiba-tiba muncul dengan wujud seperti ini dan mengendarai mobil?" tanya Bella. Dia masih sangat penasaran dengan hal itu, karena biasanya ciri khas pria tersebut selalu mengenakan pakaian serba putih, tapi sekarang malah berpakaian serba hitam. Mobil yang dia kendarai pun juga berwarna hitam.


"Aku hanya ingin berterima kasih dengan cara manusia," jawabnya dengan santai, sambil menatap lurus ke depan dan fokus mengemudikan mobil.


"Maksudnya?" tanya Bella kurang mengerti.


"Kamu sudah menyelesaikan misimu lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan. Itu artinya, kamu sudah membantuku meringankan beban pekerjaanku, jadi aku ingin berterima kasih padamu."


"Oh, seperti itu." Bella menganguk mengerti. "Lalu sekarang kamu ingin membawaku kemana?"


"Liburan bersama," jawabnya dengan santai.


"Hah?" Bella tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Seorang Dewa Harapan yang pada dasarnya bukan manusia ingin membawanya untuk pergi liburan bersama? Apa Bella tidak salah dengar?

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan misi keduaku?" tanya Bella kemudian. Dia sebenarnya sudah sangat penasaran dengan tujuan hidup keduanya yang hingga detik ini belum dibocorkan oleh Dewa Harapan.


"Bagaimana apanya? Yang jelas, pasti akan lebih sulit dari misi yang sebelumnya. Jadi sebelum kamu kembali berjuang untuk menyelesaikan misi kehidupanmu yang kedua nantinya, nikmati dulu waktu dua minggumu ini untuk liburan. Kamu bebas melakukan apa pun dimulai dari sekarang hingga 2 minggu ke depan."


Bella pun akhirnya memilih untuk menuruti ucapan Dewa Harapan. Kapan lagi dia bisa hidup bebas seperti layaknya manusia normal jika bukan sekarang. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.


.


.


Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya sampai di Bali. Sesaat setelah mereka sampai di sana, Dewa Harapan langsung menyewa 1 buah villa termewah untuk dia tempati bersama Bella selama 2 minggu ke depan.


"Dewa, dari mana kamu mendapatkan uangnya?" bisik Bella.


Dewa Harapan tersenyum sambil berdecih. "Cih, kenapa kamu mesti memikirkan hal yang tidak begitu penting? Aku membawamu kemari karena ingin mengajakmu refreshing, jadi tidak usah banyak berpikir. Dan mulai detik ini, lakukan saja apa yang kamu mau, asalkan bisa membuatmu senang dan bahagia. Ingat, waktumu sisa 13 hari 7 jam lagi," katanya lalu berlalu dari hadapan Bella.


Bella menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga sih. Untuk apa juga aku memikirkan masalah itu? Dia itu begitu hebat, jadi bisa melakukan apa pun. Masalah uang yang begitu banyak dia dapat darimana, dia hanya tinggal menggerakkan jari telunjuknya saja sudah bisa mengubah daun jadi uang."


*


*


*


Selama berhari-hari tinggal di Pulau Dewata, Bella benar-benar menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dan mengunjungi berbagai destinasi wisata. Sementara Dewa Harapan, sosok Dewa yang sekarang sudah berubah wujud menjadi seorang manusia itu kerap kali membuat Bella tepuk jidat dan geleng-geleng kepala karena kelakuannya. Pasalnya, hampir setiap hari dia mengadakan pesta dan membawa bule-bule seksye yang cantik untuk berpesta bersamanya di kolam renang.


"Ck, ck, ck. Aku tidak percaya jika sebelumnya dia adalah Dewa Harapan. Kenapa kelakuannya sekarang malah lebih mirip dengan iblis?" Bella berlalu naik ke kamarnya, seharian jalan-jalan membuatnya lelah dan ingin langsung beristirahat.


Baru saja Bella hendak memutar gagang pintu kamarnya, tiba-tiba suara deheman seorang pria terdengar tepat di belakangnya.


"Ekhm! Jangan kira aku tidak tahu apa yang kamu ucapkan tadi," katanya sambil bersidekap dan menatap Bella dengan tajam.


"Ti-tidak-tidak. A-ku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku tarik kata-kataku tadi. Anggap saja aku tidak pernah mengucapkannya," ucap Bella sedikit gelagapan karena takut mendapatkan hukuman dari Dewa Harapan. "Kalau begitu, selamat bersenang-senang kembali. Hehe. Aku istirahat duluan. Dah."


Dengan cepat Bella langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


...__________________________________________...


*Note : Bab berikutnya akan update pukul 00.00 Wita.


__ADS_2