Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 69 - She's Mine


__ADS_3

...Wokeh, Bestie, karena kalian semua baik sama akak Otor dan dukungan untuk Babang Mahend dan Naura makin kesini makin bertambah, jadi hari ini akak Otor update bab baru lagi buat kalian💋🥰...


...Selamat membaca ya🤗...


.............


.......


"Aku baru tahu bahwa ternyata sekarang ... kalian sudah bersama. Selamat ya, aku tahu kamu memang sudah sangat lama menyukai dan mengejarnya." Kay tersenyum dipaksakan saat mengatakan kalimat itu pada Anna, wanita yang diam-diam dia kagumi selama ini sekarang sudah menjadi milik pria lain.


AnnaBella hanya tersenyum. 'Lama baru bertemu dengan Kay, kenapa rasanya jadi canggung begini? Apa mungkin karena Alex pernah cemburu padanya?' batinnya. Padahal dulunya mereka berdua sangat dekat dan akrab, kemana-mana selalu bersama. Lebih tepatnya saat Alex belum mengklaimnya sebagai wanita milik pria posesif itu.


Sekarang ini Alex sedang bicara berdua dengan Tuan Harold di ruang kerja milik pria paruh baya itu, maka dari itu Kay jadi memiliki kesempatan untuk mendekati sahabat yang dicintainya itu, sekaligus wanita yang selalu dia rindukan siang dan malam saat Alex memberinya tugas dadakan untuk mengawasi proyek besar di luar kota.


"Mm ... Kay, bagaimana proyek yang kamu awasi itu?" tanya Anna mengalihkan topik pembicaraan. Rasanya aneh saja membahas hubungannya dengan Alex bersama pria itu.


Kay kembali tersenyum dipaksakan. "Semuanya berjalan dengan dengan sangat lancar, makanya aku bisa kembali ke sini lebih cepat dari yang dijadwalkan."


Wanita itu mengangguk mengerti. "Oh."


Hening sejenak sebelum akhirnya Kay kembali angkat bicara.


"An, kita sudah cukup lama baru bertemu, bolehkah aku mengajakmu ke-"

__ADS_1


"Mengajaknya kemana?!" Suara bariton Alex seketika menghentikan ucapan Kay. Pria yang baru saja keluar dari ruang kerja si pemilik rumah pun langsung memeluk pinggang wanitanya dengan posesif.


"Kamu mau mengajak Anna kemana, Kay? Hm." Alex kembali mengulangi pertanyaannya saat melihat Kay hanya diam saja. Hal inilah yang sangat tidak Alex sukai saat dirinya tidak sedang berada di dekat wanitanya itu. Dia paling tidak suka jika ada pria lain yang mencoba mendekati wanita miliknya.


Melihat Alex yang sepertinya salah paham, Kay pun buru-buru menjelaskan pada pria yang juga merupakan atasan sekaligus sahabatnya tersebut. "Tidak, Lex, jangan marah. Aku bukannya ingin mengajak Anna kemana-mana, hanya ke taman belakang saja. Kami cukup lama tidak pernah bertemu, juga tidak pernah saling berkomunikasi lewat telepon, jadi aku ingin mengajak sahabatku bicara berdua. Hanya obrolan biasa sebagai dua orang sahabat."


Cih, sahabat. Alex tersenyum remeh dalam hati. Semenjak Anna Harold kembali muncul dan tiba-tiba menjadi sekretarisnya, dia memang tidak suka melihat kedekatan Anna dan Kay, entah apa penyebabnya. Padahal dulu dia sama sekali tidak peduli akan hal itu, mengingat Anna dan Kay memang sudah sangat dekat sejak beberapa tahun silam.


"Kay, apa kamu pernah mendengar sebuah kalimat yang berkata, tidak ada hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan yang murni, jika bukan dia yang terjebak dalam hatimu, maka kamu yang jatuh hati padanya," ujar Alex. Baginya, persahabatan antara pria dan wanita hanyalah omong kosong. "Bagaimana pendapat kamu mengenai pendapat itu?" tambah Alex kemudian.


Kay tersenyum canggung. Sebab, ungkapan itu memang benar adanya. Selama ini dirinya memang sudah tersesat di dalam hati Anna Harold selama bertahun-tahun, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkannya karena perbedaan status sosial mereka. Anna Harold itu putri dari keluarga Harold yang terkenal kaya raya dan terhormat, sedangkan dirinya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan wanita pujaan hatinya tersebut.


Melihat Kay terdiam, Alex pun bisa mengambil kesimpulan. Sepertinya dia harus mengajak sahabatnya itu untuk bicara 4 mata, bukan sebagai bos dan asisten, apalagi sebagai dua orang sahabat, melainkan sebagai dua orang pria yang mencintai wanita yang sama.


Mendengar Alex menyebut Tuan Harold dengan sebutan 'Papa', sontak AnnaBella mendongak menatap pria itu dengan tatapan aneh.


Papa? Perasaan tadi sebelum Alex masuk ke dalam ruang kerja Tuan Harold, dia masih memanggil pria paruh baya itu dengan sebutan 'Tuan'. Mencurigakan sekali, pikirnya.


Begitu Anna masuk dan menutup pintu ruang kerja Tuan Harold dari dalam, Alex pun kemudian mengajak Kay untuk keluar ke teras samping.


"Langsung saja, Kay, sebagai sesama pria, aku hanya ingin mengatakan padamu dengan tegas bahwa, jangan coba-coba mendekati Anna, karena sekarang dia itu adalah calon istriku," ucap Alex to the point.


Deg.

__ADS_1


Jantung Kay seketika berdebar cepat sekaligus terasa nyeri. Yang tadinya sudah nyeri kini semakin nyeri saja. Baru beberapa jam lalu dia harus menelan pil kekecewaan karena tahu Anna dan Alex sudah jadian, sekarang dia harus kembali merasakan sakitnya patah hati untuk yang kedua kalinya di hari yang sama saat Alex menyatakan bahwa wanita yang dicintainya itu adalah calon istri dari pria tersebut.


"Ta-tapi ... bukannya kamu bertunangan dengan nona Carissa, Lex? Kenapa sekarang kamu malah mengatakan bahwa Anna adalah calon istrimu?" Kay langsung menggigit sudut bibirnya setelah mengucapkan kalimat itu. Sebenarnya bukan itu yang ingin Kay katakan, tapi entah mengapa kalimat pertanyaan bodoh itu terucap begitu saja dan keluar dari mulutnya. Mungkin Kay sangat terkejut dan bingung harus mengatakan apa untuk menanggapi ucapan Alex barusan.


Mendengar nama Carissa disebut, Alex langsung berdecak kesal. "Ck, jangan membahas mengenai perempuan licik itu lagi di hadapanku kalau kamu tidak ingin membuatku marah."


"Baiklah. Aku minta maaf. Aku sebenarnya tidak sengaja mengucapkannya. Sungguh," ucap Kay.


"Sebenarnya ... aku hanya begitu terkejut mendengar pernyataanmu tadi. Dan aku ... turut senang mendengarnya," imbuh Kay sembari tersenyum dipaksakan.


Alex tersenyum sambil berdecih melihat wajah pura-pura bahagia Kay.


"Carilah wanita lain, Kay, karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengalah dan memberikan Anna untukmu," ucap Alex.


Kay tersenyum kecut. "Jangan khawatir. Aku pun cukup tahu diri tentang hal itu," balas Kay. "Seandainya sejak dulu aku tidak memandang rendah siapa diriku, mungkin sudah sejak dulu aku menyatakan perasaanku pada Anna."


Kay men de sah napas panjang setelah berhasil meloloskan kalimat itu dari mulutnya. Setelah sekian lama dia memendam perasaannya terhadap Anna Harold, akhirnya dia memiliki keberanian untuk mengakuinya di hadapan orang lain, meski pun bukan di hadapan wanita pujaannya itu secara langsung. Dan entah mengapa beban yang terasa menghimpit dadanya sejak tadi kini sudah terasa jauh lebih enteng.


"Baguslah kalau kamu tahu diri. Mungkin kedengarannya ucapanku ini sangat jahat, tapi aku hanya tidak ingin persahabatan kita hancur hanya gara-gara kita memperebutkan seorang wanita." Alex berkata sambil menepuk pelan pundak Kay.


Kay tersenyum sembari menatap Alex. "Jangan khawatir, karena aku tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi."


B e r s a m b u n g...

__ADS_1


__ADS_2