Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 45 - Untuk Apa Aku Takut?


__ADS_3

Rapat siang ini telah selesai. Anna, Alex, beserta Kay keluar bersama-sama dari ruang meeting. Seperti biasa, Anna dan Kay pasti akan makan siang bersama, tapi entah mengapa siang ini Alex juga ingin bergabung bersama mereka berdua.


"Presdir, sesuai perintah Anda, saya sudah memesan restoran untuk kita tempati makan siang bersama hari ini," kata sekretaris Anna, sambil berjalan di belakang presdir Huang bersama asisten Kay.


"Hem. Apa jadwalku sore ini sudah kamu ganti?" tanya Alex ingin memastikan, sambil terus berjalan ke arah depan menuju lift khusus pimpinan.


"Sudah, Presdir. Sesuai dengan permintaan Anda, saya sudah mengundur jadwal meeting dengan pihak perusahaan Xx menjadi besok pukul 10 pagi. Saya juga sudah menghubungi pihak mereka untuk mengkonfirmasi," jawab sekretaris Anna.


"Bagus."


Ketiganya pun lalu bersama-sama masuk ke dalam lift hendak turun ke lantai dasar. Di teras gedung tepatnya di depan pintu masuk utama sudah ada mobil yang disiapkan oleh sopir pribadi Alex untuk digunakan mengantar mereka ke tempat tujuan. Namun, begitu mereka sampai di lobi, tidak disangka-sangka Carissa ternyata sedang menunggu tunangannya di sana.


"Alex!" Carissa berjalan cepat menghampiri prianya sambil memamerkan senyuman termanisnya.


Soal penolakan Alex semalam dia tidak ingin mempermasalahkannya lagi apalagi sampai membahasnya, karena hal itu tentu saja akan membuat dirinya malu sendiri. Saat ini wanita itu sedang berusaha membuat hubungannya dengan Alex menjadi lebih dekat dan lebih baik lagi. Dengan begitu, lambat laun Alex pasti akan menerimanya dan tertarik padanya, serta tidak akan ada lagi penolakan terhadapnya di kemudian hari.


"Carissa, kenapa kamu tiba-tiba ada disini?" tanya Alex. Sejujurnya dia merasa kurang nyaman dengan kedatangan tunangan tak dianggapnya tersebut. Bisa saja wanita itu mengacaukan rencana makan siang yang telah mereka atur sebelumnya, dan benar saja dugaan Alex tersebut.


"Aku ingin mengajak kamu keluar makan siang. Ini sudah masuk waktu jam istirahat, 'kan? Ayo kita makan siang berdua," jawabnya, sambil masih tersenyum. Kini kedua tangan Carissa sudah bergelayut manja di lengan kiri Alex. Sejenak wanita itu menatap tidak suka pada adik sekaligus rivalnya, tapi sejurus kemudian dia kembali tersenyum saat mendongak menatap wajah tampan nan dingin milik prianya.


Melihat tatapan tidak suka yang sempat dilemparkan oleh Carissa terhadap Anna, Kay pun memutuskan untuk tidak tinggal diam saja dan membawa Anna pergi bersamanya. Sudah cukup Carissa menyakiti Anna selama ini. Dia tidak ingin ada adegan pertengkaran antar kakak beradik itu hanya karena didasari motif cemburu.


"Mm, Lex, lebih baik rencana makan siangnya kita tunda dulu. Siang ini kamu temani saja nona Carissa untuk makan siang bersama di restoran yang sudah kita pesan sebelumnya. Aku dan Anna biar mencari restoran lain saja," kata Kay. "Ayo, Anna." Tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun, Kay segera menarik pergelangan tangan Anna untuk pergi dari sana, meninggalkan Alex yang masih berdiri di tempat bersama dengan tunangannya.


Sementara itu, Alex hanya bisa menatap punggung Anna dan Kay yang berlalu dari hadapannya tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Entah mengapa dia merasa tidak suka saat melihat Kay memegang tangan sekretarisnya itu dengan erat.


"Ayo, Sayang." Carissa menarik lengan Alex untuk keluar dari gedung perkantoran, dan pria itu pun hanya menurut saja.


.


.

__ADS_1


Sesampainya di restoran terdekat, Anna dan Kay mulai mengobrol sambil menunggu pesanan mereka siap. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan.


Sementara itu, masih di restoran yang sama namun di sudut yang berbeda. Tanpa mereka sadari, ternyata diam-diam ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka berdua. Siapa lagi kalau bukan Alex? Rupanya, saat ini pria itu sedang duduk di lantai dua bersama dengan tunangannya. Dia tidak jadi membawa Carissa ke restoran yang telah dipesan oleh sekretarisnya sebab dia ingin mengawasi gerak-gerik sekretaris Anna dan asisten Kay.


Melihat kedekatan Anna dengan Kay, tanpa sadar Alex mulai mengepalkan tangannya. Terutamanya saat dia menyaksikan Kay memasang jepitan pada rambut sekretaris Anna. Jika ada orang lain yang melihat, orang-orang pasti akan mengira bahwa merek berdua adalah sepasang kekasih.


Oh, jadi rupanya seperti itu. Pantas saja dia tidak pernah mengejarku lagi. Ternyata sekarang dia sudah putar haluan dan beralih pada Kay. Batin Alex, kesal sekaligus cemburu.


"Lex, kamu sedang lihat apa sih?" tanya Carissa, membuat Alex seketika mengalihkan pandangannya. Takut ketahuan kalau sebenarnya dia sedang memperhatikan kedekatan sekretaris Anna dan asisten Kay.


"Tidak, tidak ada apa-apa," jawabnya berbohong, sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


Rupanya Carissa tidak bisa dia bohongi, tadi saat dia melihat Alex terus menatap ke arah lain, tepatnya ke arah lantai bawah, dia bisa melihat dengan jelas bahwa tunangannya itu tengah menatap Anna dan asisten Kay yang nampaknya sangat dekat dan akrab.


Si al. Sepertinya aku harus segera menyingkirkan ja**ng itu, sebelum dia berhasil menggoda Alex dan merebutnya dariku. Batin Carissa dengan kesal.


Beberapa saat kemudian. Carissa melihat Anna beranjak dari mejanya, sedangkan asisten Kay masih duduk di tempat. Carissa yakin jika Anna pasti ingin pergi ke toilet, seperti kebiasaan banyak wanita setelah selesai makan,


Tepat seperti dugaan Carissa, sesampainya dia di toilet, Anna memang benar sudah ada di sana sedang merapikan penampilannya.


"Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini?" Carissa berkata dengan nada sinis sambil mengeluarkan lipstik dari dalam tasnya, lalu menimpa lipstik yang sudah mulai menipis di bibirnya sehabis makan.


Sebetulnya Bella sedikit terkejut dengan kemunculan wanita licik itu yang tiba-tiba. Tadinya dia berpikir bahwa Alex dan wanita itu sedang pergi ke restoran mewah yang telah dia pesan sebelumnya untuk makan siang mereka bertiga, tidak tahunya presdir Huang bersama tunangannya itu malah pergi ke restoran yang sama yang dia kunjungi bersama Kay.


Aku yakin, nona Carissa pasti hanya ingin mencari masalah denganku. Lebih baik aku segera pergi dari sini dan tidak menggubris ucapannya. Batin Bella, seraya beranjak menuju pintu keluar toilet.


Namun sayangnya, langkahnya seketika dihadang oleh Carissa. "Mau kemana kamu? Aku masih ada urusan denganmu."


"Apa mau Anda, Nona Carissa?" Anna menatap tajam wanita yang ada di hadapannya itu.


Melihat adiknya itu memanggilnya dengan sebutan tidak seperti biasanya, Carissa pun semakin emosi. Apalagi saat melihat bagaimana cara Anna menatapnya. "Cih, lihat bagaimana caramu memanggil kakakmu sendiri. Dan tatapanmu itu, apa kamu tidak takut melawanku, hah?!"

__ADS_1


Bella alias Anna tersenyum, lalu bersidekap sambil terus menatap tajam pada Carissa, membuat wanita yang ditatap itu semakin marah saja lalu mendorong tubuh Anna hingga bersandar pada dinding tembok.


"Berani sekali kamu! Dengar! Aku peringatkan padamu! Jangan pernah berani-berani menggoda Alex, apalagi berniat untuk merebutnya dariku!" Carissa memperingati Anna dengan penuh penekanan.


Bukannya takut, Anna malah balas mendorong tubuh Carissa hingga hampir jatuh terduduk di lantai toilet.


"Kamu! Berani sekali kamu melawanku!" teriak Carissa. Semakin emosi saja dia karena Anna sudah berani membalas perbuatannya.


Dulu, saat Carissa dan nyonya Irene menindas Anna, gadis itu hanya diam saja dan tidak berani melawan. Tapi sekarang jelas jauh berbeda, karena yang ada di dalam tubuh Anna adalah jiwa Bella, wanita pemberani yang tidak mudah untuk ditindas.


"Untuk apa juga aku takut padamu, Nona Carissa? Apa yang mesti aku takutkan dari perempuan licik sepertimu," balas Anna, sambil tersenyum remeh dan merapikan pakaiannya yang sempat didorong oleh wanita di hadapannya itu.


Diremehkan oleh seseorang yang juga dia anggap remeh, tentu saja membuat Carissa semakin emosi.


"Perempuan si alan!" Carissa mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke pipi Anna, tapi dengan cepat Anna menangkap pergelangan tangan wanita itu dan menamparnya balik.


Plak!


"Argh!" pekik Carissa seraya memegangi pipinya yang seketika terasa kebas dan perih akibat dari tamparan keras dari Anna.


"Tamparan ini untuk membalas fitnah keji yang pernah kamu tuduhkan padaku. Asal kamu tahu, cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan bukti kebenaran tentang foto-foto itu dan menunjukkan bukti kebenarannya pada semua orang." Anna segera keluar dari toilet setelah mengatakan kalimat tersebut.


Sementara itu, Carissa hanya bisa terperangah melihat sifat Anna yang kini sudah berubah 180°. Anna yang dulunya manja dan lemah, sekarang sudah berani melawan bahkan menamparnya. Carissa benar-benar dibuat meradang melihat sikap sok berani gadis itu.


"Kurang ajar! Berani sekali dia menamparku! Lihat saja nanti. Aku pasti akan membuat perhitungan dengannya! Argh!"


B e r s a m b u n g ...


...__________________________________________...


...Ini bab pertama dari 3 bab yang akan Otor upload malam ini ya Bestie, jadi jangan sampai like dan komentarnya di skip ya, yang diberi like hanya bab terakhir saja 😉...

__ADS_1


__ADS_2