
Singkat cerita, waktu berlibur Bella dan Dewa Harapan sudah habis, dan sekarang sudah waktunya Dewa Harapan kembali serius dengan tugasnya, juga Bella harus kembali fokus untuk menjalankan misi kehidupannya yang kedua.
"Apa misiku berikutnya?" tanya Bella dengan harap-harap cemas. Sekarang dia dan Dewa harapan sedang duduk berseberangan di sebuah kursi. Hari ini Bella sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta seorang diri dikarenakan Dewa Harapan sudah kembali ke wujud aslinya.
"Baiklah, memang sudah waktunya aku memberitahukanmu," jawab Dewa Harapan. Sejenak Dia menjeda ucapannya. "Karena misi kali ini lebih sulit dari yang sebelumnya, maka waktunya otomatis lebih lama dari waktu misi yang sebelumnya, yaitu ... 1 tahun."
"Hah? 1 Tahun? Kenapa lama sekali?" tanya Bella sedikit terkejut. 1 Tahun bukanlah waktu yang sebentar.
"Oh, jadi menurutmu waktu 1 tahun itu terlalu lama, ya?" Dewa Harapan tersenyum penuh arti. "Baiklah kita lihat, apakah setelah kamu tahu apa misi berikutnya kamu masih bisa berkata bahwa waktu 1 tahun itu terlalu lama."
"Memangnya apa misinya? Cepat katakan, kamu membuatku penasaran saja," desak Bella.
"Baiklah akan aku jelaskan. Jika sebelumnya misi pertamamu adalah mewujudkan keinginan terbesarmu sebelum kamu meninggal, maka ... misi keduamu ini adalah mewujudkan keinginan terbesar Anna yang tidak mampu dia wujudkan sebelum dia akhirnya memilih untui bunuh diri," jelas Dewa Harapan.
"Apa?!" Bella sedikit terkejut sekaligus penasaran. "A-apa itu?" tanyanya kemudian dengan sedikit deg-degan. Entah apa keinginan terbesar Anna Harold sebelum gadis itu bunuh diri.
"Yang pertama, kamu harus membuat Anna Harold kembali diakui oleh keluarganya, terutama tuan Harold ayah kandung Anna."
Mendengar ucapan Dewa Harapan membuat Bella kembali terkejut. "Apa? Jadi selama ini penyebab tidak ada satu pun keluarga yang datang mencari Anna, itu karena dia sudah dibuang oleh keluarganya sendiri? Begitu?"
"Jangan menyela saat aku berbicara. Tentang masalah yang Anna alami sebelum dia meninggal, semuanya akan segera kamu ketahui dengan lebih mendetail pada data baru yang akan kamu download nantinya, jadi dengarkan saja baik-baik apa yang aku katakan padamu. Aku hanya akan menjelaskan inti pokok dari misi yang kedua ini. Selebihnya, kamu akan mengetahuinya setelah mempelajari data-datanya sendiri." Dewa Harapan menjeda ucapannya sebentar. "Juga ... ingatanmu tentang Anna di masa lalu akan aku kembalikan perlahan-lahan."
"Apa? Jad-" Bella langsung membungkam mulutnya sendiri dengan tangan ketika dia Kembali mengingat bahwa Dewa Harapan tidak ingin ucapannya disela saat berbicara.
Apa ini artinya aku dan Anna dulunya saling mengenal? Tadi Dewa Harapan mengatakan bahwa dia akan mengembalikan ingatanku tentang Anna di masa lalu. Apa ini berarti semua memori yang berkaitan dengan Anna di masa lalu memang sengaja dihilangkan saat aku menjalankan misiku yang pertama? Tapi untuk apa? Batin Bella, bingung sekaligus penasaran.
"Yang kedua, kamu harus membuat pria yang sudah mematahkan hati Anna di masa lalu putus dari tunangannya. Kemudian setelah itu kamu harus membuat pria itu jatuh cinta padamu yang sekarang sebagai Anna sebelum waktu 1 tahun yang telah aku tentukan habis."
Astaga. Ternyata di misi yang kedua ini aku harus kembali menjadi pelakor. Batin Bella. Rasanya dia ingin menepuk jidatnya sendiri.
"Jika ada yang ingin kamu tanyakan maka tanyakanlah. Aku sudah selesai berbicara," kata Dewa Harapan kemudian.
"Memangnya siapa laki-laki itu?" tanya Bella. Sosok laki-laki yang menolak cinta Anna secara berkali-kali hingga akhirnya membuat Anna bunuh diri karena patah hati di masa lalu memang sudah lama membuatnya penasaran.
Dewa Harapan terdiam sejenak, lalu kemudian menunjukkan sebuah foto tepat di depan wajah Anna menggunakan layar tabletnya. "Aku tidak perlu menjelaskannya lagi. Kamu lebih mengenal pria ini lebih dari siapa pun."
__ADS_1
Mata Bella seketika membulat karena terkejut. Dia tidak menyangka bahwa ternyata orang yang membuat Anna patah hati adalah ... "PRESDIR HUANG?!"
*
*
Biasanya setelah orang kembali dari liburan, dia akan merasa sangat senang dan bersemangat. Namun, hal yang berkebalikan justru dirasakan oleh Bella. Bagaimana tidak, pria yang harus dia buat jatuh cinta adalah Alexander Huang, pria yang sangat sulit dijangkau oleh wanita mana pun. Bella yang merupakan sekretaris Alex di kehidupan sebelumnya tentu saja paling tahu seperti apa karakter pria itu. Pria itu sangat dingin dan cuek pada lawan jenis. Setahu Bella, selama 5 tahun dia menjadi sekretaris pria itu, tidak pernah ada satu pun wanita yang dekat dengannya.
"Kalau dari awal aku tahu bahwa di misi kali ini pria yang harus aku buat jatuh cinta adalah presdir Huang, maka waktu 1 tahun tidaklah cukup. Bahkan menghabiskan waktu seumur hidup pun aku tidak yakin akan berhasil. Hua ...."
Bella langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempar tidur. Sekarang ini dia sudah sampai di unit apartemen lama milik Anna Harold.
"Dewa Harapan bilang, dia akan mengembalikan semua ingatanku tentang Anna Harold di kehidupan sebelumnya. Apakah ini penyebab kepalaku sering sakit saat berusaha mengingat siapa Anna Harold saat menjalankan misiku sebelumnya? Itu semua karena Dewa Harapan memang sengaja menghilangkan ingatanku tentang Anna," gumam Bella, dan sepertinya memang seperti itu.
"Tapi kenapa sampai detik ini aku belum bisa mengingat apa pun tentang Anna Harold di masa lalu?" gumam Bella. "Ah, entahlah. Lebih baik sekarang aku beristirahat. Besok aku baru akan memikirkan bagaimana cara menuntaskan misi kehidupanku yang kedua ini."
Bella beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Seperti kebiasaan orang-orang pada umumnya, sebelum tidur malam, Bella ingin menyikat gigi lalu membersihkan wajahnya terlebih dahulu. Namun, disaat rutinitasnya itu hampir selesai, tepatnya saat Bella membasuh wajahnya dengan air untuk membersihkan busa sabun yang tersisa tuk yang terakhir kalinya. Seketika di otaknya terputar memori kenangannya di masa lalu bersama Anna.
Flash back on.
Anna berusaha untuk mengejar Alex, tapi langkah gadis cantik itu malah dihadang oleh dua orang pengawal pribadi Alexander Huang.
"Minggir! Jangan halangi aku!" teriak Anna.
Mengetahui bahwa putri dari keluarga Harold tersebut akan kembali membuat onar, Alex pun memerintahkan agar sekretarisnya yang turun tangan untuk menangani gadis itu.
"Sekretaris Bella, atasi dia. Aku akan menunggumu di ruang meeting. 10 Menit lagi kamu harus menyusulku ke atas," titahnya sebelum akhirnya masuk ke dalam lift.
Bella mengangguk sopan. "Baik, Presdir."
Bella melangkah dengan penuh wibawa dan percaya diri menghampiri Anna. Ini untuk yang kesekian kalinya putri dari keluarga Harold itu menambah daftar pekerjaannya.
Bella memasang wajah tersenyum. Hanya dengan gerakan tangan dia mampu mengusir kedua pengawal pribadi yang menghadang langkah Anna.
"Kak Bella, tolong bantu aku. Kali ini ... saja. Aku sudah mem-booking satu restoran hanya untuk mengajak Alex makan malam berdua denganku malam ini. Tolong bantu aku untuk membujuknya Kak, kali ini ... saja. Please ..." bujuk Anna.
__ADS_1
Bella memaksakan diri untuk tetap memasang senyuman lebar di depan Anna. Meski pun sebenarnya dia merasa sangat kesal dengan sikap bar-bar dan arogan gadis cantik itu, tapi sebisa mungkin dia harus bersikap ramah pada putri dari kolega bisnisnya tersebut.
"Nona Anna, mari ikut saya."
"Tapi-"
"Nona Anna, apakah Anda ingin saya kembali melaporkan kelakuan Anda yang seperti ini pada tuan Harold?" Meski pun sedang mengancam, tapi Bella tetap memasang wajah tersenyumnya.
Anna yang takut ulahnya akan kembali diadukan pada sang papa pun tidak bisa berbuat apa-apa, takut fasilitasnya kembali dicabut karena perbuatannya sendiri seperti sebelum-sebelumnya. Dan entah mengapa setiap ancaman sekretaris Bella selalu saja bisa membuatnya mati kutu. Karena tidak punya pilihan lain, Anna pun mengikuti keinginan sekretaris Bella yang saat ini sedang menuntunnya untuk berjalan menuju pintu keluar gedung perusahaan.
Sepanjang Bella menuntunnya menuju pintu keluar, Anna terus-terusan saja memasang wajah sedih dan cemberut. Dan disaat Bella sudah menuntunnya hingga keluar dari gedung hingga sampa tepati di samping mobilnya, gadis itu tiba-tiba saja mengatakan sesuatu pada Bella.
"Aku sangat iri padamu, Kak Bella," katanya, sambil tersenyum kecut.
"Iri padaku? Kenapa?" tanya Bella penasaran, sambil mengerutkan keningnya. Wajahnya masih saja memamerkan senyuman ramah yang dibuat-buat.
Anna mengerjap-ngerjapkan matanya yang sudah berkaca-kaca. "Ya karena Kak Bella bisa selalu dekat dengan Alex kapan pun dan dimana pun. Kak Bella bisa melihat wajah tampannya dari dekat sampai puas. Bahkan juga beredar kabar bahwa dia tidak bisa hidup tanpamu."
Seketika senyuman yang selalu menghiasi wajah Bella perlahan memudar. Sebagai sesama perempuan, dia bisa tahu kalau Anna Harold pasti sedang cemburu padanya.
Bella berdehem. "Ekhm. Nona Anna, Anda tidak perlu iri apalagi cemburu pada saya. Saya ini wanita yang sudah bersuami, jadi tidak mungkin saya akan menjalin hubungan dengan presdir Huang. Meski pun kami sangat dekat melebihi siapa pun, tapi tidak akan ada yang dinamakan hubungan spesial selain hubungan atasan dengan bawahannya."
Seketika wajah sendu Anna berubah jadi cerah. "Jadi ternyata Kak Bella sudah menikah?"
Bella menjawab sambil mengangguk mengiyakan. Senyuman di wajahnya kembali mengembang. Namun kali ini bukan lagi senyuman paksa yang dibuat-buat seperti sebelumnya. Dia cukup senang melihat gadis bar-bar ini kembali bersemangat.
"Yes! Berarti kalau begitu aku tidak punya saingan," ucap Anna kegirangan.
Flash back off.
Hosh ... hosh. Napas Bella terengah-engah ketika kembali mengingat kenangan waktu itu.
"Astaga." Bella memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar lebih cepat.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1