
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari kedua Anna bekerja sebagai sekretaris presdir Hawei Group. Pagi ini dia datang lebih awal sebab dijemput oleh asisten Kay. Karena kemarin asisten Kay belum sempat memperkenalkan Anna pada karyawan lainnya akibat banyaknya pekerjaan, maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkannya sebagai sekretaris presdir yang baru.
Kedatangan Anna disambut baik oleh para karyawan lainnya, termasuk para manajer. Namun, ada beberapa orang yang saling berbisik karena dulunya mereka pernah melihat Anna mengejar-ngejar presdir Huang sambil menyatakan cinta. Bahkan ada juga yang berpikir bahwa Anna datang kesana karena ingin menggoda bos mereka, tidak murni ingin menjadi sekretaris presdir saja.
"Tidak tahu malu sekali ya. Padahal 'kan sekarang presdir Huang sudah bertunangan dengan nona Carissa Harold."
Tidak tahu saja mereka kalau gadis yang berdiri di samping asisten Kay, yang baru menjabat sebagai sekretaris presdir sejak kemarin itu juga merupakan putri dari keluarga Harold. Ditambah lagi Bella memang sengaja tidak memakai nama Harold di belakang nama Anna saat memperkenalkan diri.
Ya, tuduhan mereka sebenarnya sangat benar, dan tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan utama Bella membawa Anna ke Hawei Grup adalah semata-mata karena dia ingin menjadi pelakor dengan cara merebut Alexander Huang dari tunangannya, yaitu kakak perempuan Anna, Carissa Harold. Tapi sungguh, Bella sama sekali tidak ada niat untuk menggunakan trik kotor dan murahan sama seperti yang dia lakukan saat ingin merebut Aaron dari Daisy. Itu karena Alex dan Aaron adalah dua pria yang memiliki kepribadian berbeda, berbanding 180 derajat. Aaron adalah sosok pria mata keranjang yang sangat gampang tergoda hanya dengan melihat wanita yang lebih muda, lebih cantik, dan lebih seksye dari kekasihnya. Sedangkan Alex, dia adalah pria dingin yang tak tersentuh. Sama sekali tidak mudah digoda oleh gadis mana pun. Bahkan ibarat kata, jika dia digoda oleh gadis cantik yang tidak mengenakan sehelai benang pun, sehelai bulu romanya pun tidak akan merinding.
Entah wanita seperti apa yang disukai oleh pria tersebut, Bella pun tidak tahu karena dulunya pria itu tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis mana pun selama bertahun-tahun. Fakta bahwa Alex dan Carissa Harold bertunagan pun baru Bella ketahui setelah dia mendapat misi kedua untuk merebut Alex dari tunangannya dan membuat pria itu jatuh cinta padanya.
Mendapat misi membuat Alexander Huang jatuh cinta pada Anna dan merebutnya dari tunangannya, tentunya adalah misi yang sangat berat dan sulit bagi Bella. Hingga detik ini pun Bella masih belum tahu bagaimana caranya nanti agar dia bisa membuat pria itu jatuh cinta pada Anna. Sementara waktu misi keduanya sudah berjalan hampir 1 bulan, tapi presentase angka pencapaian misinya masih belum juga meninggalkan angka 0%.
Bella bertekad untuk membuat Alex jatuh cinta padanya dengan caranya sendiri. Entah cara seperti apa itu, yang pasti bukan dengan cara kotor dan menjijikkan yang bisa membuat Alex semakin ilfil dan benci pada Anna. Hal pertama yang menjadi tahap awal yang saat ini sedang Bella lakukan adalah, mengubah pandangan Alex terhadap Anna. Dengan Alex tidak lagi membenci Anna tentu akan lebih memudahkan Bella nantinya membuat Alex jatuh cinta pada Anna, meski pun kemungkinan berhasilnya sangat minim.
"Presdir Huang akan segera tiba!" Suara salah seorang pengawal pribadi Alex mengintrupsi indera pendengaran para karyawan yang ada di lantai yang sama dengan ruangan presdir berada, memberi peringatan bahwa sebentar lagi presdir Huang akan lewat di depan mereka. Itu artinya, mereka harus berdiri dari tempat mereka masing-masing untuk menyambut kedatangan atasan mereka tersebut dengan penuh hormat.
Setelah Alex memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya, dia langsung memanggil sekretaris Anna untuk menyusul masuk ke dalam ruangannya juga. Karena kemarin dia tidak punya cara untuk memarahi sekretaris barunya tersebut, hari ini dia berencana untuk mengerjai gadis itu. Jika nanti Anna sampai melakukan kesalahan maka Alex akan langsung meluapkan kekesalannya dengan cara memarahi gadis itu habis-habisan. Meski pun pada kenyataannya Anna adalah calon adik iparnya tapi Alex tidak peduli. Ditambah lagi dia tahu kalau nama Anna memang sudah dicoret dari kartu keluarga Harold.
"Ada yang bisa saya bantu, Presdir?" tanya Anna, begitu menghadap di depan meja presdir Huang.
"Aku belum sempat sarapan sebelum ke kantor. Tolong belikan aku sarapan?" jawab Alex, memberi titah.
"Baik, Presdir." Anna mengangguk mengerti.
"10 Menit," tambah Alex sebelum Anna beranjak dari ruangannya.
10 Menit adalah waktu yang diberikan Alex untuk Anna pergi membeli sarapan. Jika lewat dari itu, maka sudah pasti Alex akan menggunakan alasan itu untuk meluapkan kekesalan terpendamnya terhadap Anna.
"Baik, Presdir." Anna kembali mengangguk mengerti seraya berlari keluar dari ruangan Alex.
Cih, lihat betapa bodoh dan cerobohnya dia. Dia bahkan tidak bertanya aku ingin sarapan apa. Apa dia pikir aku akan memakan makanan apa pun yang dia belikan untukku? Dasar bo doh. Pasti dia tidak tahu kalau aku tidak boleh sembarang makan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ada bagusnya juga dia tidak bertanya, memang itu yang aku inginkan sejak kemarin, membuatnya melakukan kesalahan, karena sejak dia muncul kembali, dia memang sudah membuatku kesal hanya dengan melihat wajahnya itu. Batin Alex.
Sementara itu, sebagai orang yang lama menjadi sekretaris kepercayaan Alex, Bella tentu saja sangat tahu apa yang disukai juga tidak disukai oleh pria itu. Begitu pula dengan apa yang boleh dan juga tidak boleh dimakan oleh pria tersebut. Jadi tanpa bertanya pun Bella sudah pasti tahu apa yang harus dia beli untuk atasannya tersebut.
__ADS_1
Berselang beberapa menit kemudian, Alex terus menatap stopwatch di layar ponselnya. Sudah 8 menit 30 detik berlalu, tapi hingga detik ini tanda-tanda kemunculan Anna belum juga terlihat.
Alex tersenyum licik. "Aku yakin, dia pasti akan terlambat dan salah beli makanan. Akhirnya, aku memiliki kesempatan untuk memarahi dan melampiaskan kekesalanku padanya."
Membayangkan bahwa dirinya bisa memarahi dan menghukum Anna setelah gadis itu melakukan dua kesalahan sekaligus, tentu saja membuat Alex seketika menjadi bersemangat. Kapan lagi dia bisa memiliki hiburan menghukum gadis bar-bar yang sangat dibencinya itu.
Sementara itu di tempat lain, Anna berlari terburu-buru memasuki lobi hotel menuju lift khusus pimpinan.
"Permisi! Permisi! Maaf! Aku buru-buru!" teriak Anna sambil terus berlari secepat mungkin.
"Auwh!" pekik salah seorang karyawan yang tidak sengaja ditabrak oleh Anna. Untungnya wanita itu tidak sampai terjatuh.
"Kalau jalan pakai mata dong!" makinya.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja. Aku buru-buru!" ucap Anna, sekilas menoleh untuk meminta maaf pada wanita yang tidak sengaja dia tabrak barusan, lalu kembali berlari secepat mungkin menuju lift.
Ketika Bella berhasil memasuki lift tanpa kendala, gadis itu mulai meringis kesakitan. Tadi dia sempat terpeleset dan hampir terjatuh, sehingga membuat pergelangan kaki kanannya terkilir. Tapi demi membuat presdir Huang terpukau dengan performa sekretaris Anna, Bella berusaha menahan rasa sakit yang dia rasakan. Apalagi saat melihat waktu yang diberikan oleh presdir Huang hanya tersisa kurang dari 30 detik lagi, buru-buru dia berlari keluar ketika pintu liftnya terbuka.
Semoga saja aku tidak terlambat. Batinnya sambil terus berlari secepat mungkin menuju ruangan presdir Huang.
"Tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, sat-"
Ceklek.
"Ini, Presdir, menu sarapan Anda!" Anna tiba-tiba muncul di balik pintu ruangan Alex sambil bernapas ngos-ngosan.
Sh**it. Gagal sudah rencanaku mengerjainya. Batin Alex kembali kesal. Padahal, tadinya dia sudah sangat bersemangat karena berpikir bahwa rencananya pasti akan berhasil.
"Akh-" Anna meringis tertahan seraya memperbaiki posisi berdirinya. Dia harus menahan rasa sakit ini sampai dia berhasil keluar dari ruangan presdir Huang.
Anna berusaha keras berjalan tegap tanpa harus terlihat pincang. Berjalan menuju meja sofa lalu menghidangkan menu sarapan yang dia beli tadi di atas meja tersebut dengan rapi.
Ssh .... Tadi waktu aku berlari kenapa rasa sakitnya tidak begitu terasa, tapi kenapa setelah tidak lari lagi malah terasa sakit sekali? Batinnya sambil berusaha keras menahannya.
Melihat menu sarapan yang terhidang di atas meja sofa adalah menu sarapan kesukaannya membuat Alex tidak bisa protes. Lagi-lagi sekretaris barunya itu tidak melakukan kesalahan, membuat Alex semakin kesal saja karena tidak punya alasan untuk memarahi dan menghukum gadis itu.
Bagaimana bisa dia tahu menu sarapan kesukaanku? Dia 'kan tidak bertanya. Apa jangan-jangan Kay yang sudah memberi tahunya? Batinnya.
__ADS_1
Niat hati ingin memarahi dan mengerjai Anna dengan cara membuat gadis itu bolak-balik naik turun perusahaan hanya untuk membelikan menu sarapan untuknya, tapi justru tidak kesampaian karena Anna sama sekali tidak melakukan kesalahan dengan membeli menu sarapan yang salah. Bahkan gadis itu berhasil kembali tepat waktu.
Begitu Anna keluar dari ruangan Alex, dia langsung berjongkok di depan pintu sambil memijat pergelangan kakinya yang kesakitan.
"Ssh ... sakit sekali."
"Sekretaris Anna, kamu kenapa?" Kay yang baru muncul seketika menjadi panik. Pria itu ikut berjongkok saat melihat Anna berjongkok. "Tadi aku melihat kamu berlari-lari seperti dikejar setan? Memangnya kamu darimana? Apakah kakimu terkilir karena berlari?" tambahnya memberondongi Anna dengan beberapa pertanyaan.
Anna mengangguk sambil menahan sakit. "Iya, kakiku terkilir. Tadi Presdir Huang menyuruhku untuk membeli sarapan, tapi dia hanya memberiku waktu selama 10 menit saja. Makanya aku berlari terburu-buru."
Kay langsung mendengus kasar mendengar penjelasan Anna. "Dia benar-benar keterlaluan. Mentang-mentang bos, jadi suka memerintah seenaknya," kesal Kay. "Ayo, mari aku bantu kamu duduk di kursimu."
Kay memapah Anna lalu membantu gadis itu duduk di kursinya. Setelah itu dia melepas sepatu hak tinggi yang digunakan oleh Anna agar memudahkannya mengurut pergelangan kaki gadis itu.
"Aku yang salah. Aku lupa memberi tahumu bahwa Presdir Huang itu selalu sarapan di kantor. Jadi kamu memang wajib menyiapkan menu sarapan sebelum dia datang," ucap Kay dengan raut wajah bersalah. "Maaf, karena aku, kamu jadi seperti ini," tambahnya sambil terus memijat kaki gadis itu.
"Kenapa harus minta maaf? Ini sama sekali bukan salahmu," kata Anna.
Aku yang salah, Kay, aku yang ceroboh. Jelas-jelas aku tahu persis seperti apa kebiasaan presdir Huang, tapi aku malah lupa dan tidak menyiapkan kebutuhannya. Batin Bella.
Krek.
"AAAKH!!!" Anna seketika memekik keras saat Kay tiba-tiba saja memutar kakinya dengan cepat hingga menimbulkan bunyi 'krek'.
Melihat Anna memekik keras hingga mengagetkan karyawan-karyawan lainnya justru membuat Kay tertawa.
"Coba gerakkan kakimu. Apakah sudah mendingan?" ucap Kay sambil masih tertawa.
Anna mengikuti intruksi yang dikatakan oleh pria itu. "Eh, sudah tidak sakit sama sekali. Kamu hebat sekali, Asisten Kay."
Kay tersenyum seraya bangkit dari posisinya. "Syukurlah. Aku merasa sangat lega mendengarnya."
"Terima kasih banyak, Asisten Kay. Sebagai ungkapan terima kasihku, aku akan mentraktirmu makan siang saat jam istirahat nanti," ucap Anna, tersenyum senang pada Kay.
Sementara itu, Alex yang memang sudah kesal karena tidak kunjung bisa melampiaskan kekesalannya pada Anna, kini semakin kesal saja setelah melihat Kay memijat kaki gadis itu. Bahkan sarapannya tidak dia habiskan karena selera makannya sudah hilang begitu saja.
B e r s a m b u n g ...
__ADS_1