Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 74 - Cara Menyelamatkan David


__ADS_3

Bella jelas merasa shock ketika mengetahui fakta terbaru ini. Rupanya sosok yang selama ini membantu dan menemaninya dalam proses pencapaian misi demi misi untuk hidup kembali ternyata dulunya adalah seorang manusia, lebih tepatnya orang yang dulunya sanga dekat dengan Anna, pemilik tubuhnya, dan mungkin saja saat ini Dewa Harapan juga tengah menjalankan misi untuk hidup kembali sama seperti Bella saat ini. Bisa saja Dewa Harapan kini juga tengah menjalankan misi terakhirnya, tinggal menunggu Bella berhasil menyelesaikan misi ketiganya ini untuk masuk kembali ke tubuhnya kemudian hidup dengan normal seperti manusia biasa pada umumnya. Jika dipikir-pikir, bukankah Bella, Anna, Alex, dan David alias Dewa Harapan saling memiliki keterkaitan sejak awal.


"Anna, kamu tidak apa-apa?" Nyonya Merry bertanya saat melihat wanita muda itu nampak sangat shock setelah melihat kondisi putranya yang sekarang.


AnnaBella menggeleng cepat. "Tidak, Tante, saya tidak apa-apa."


"Kalau begitu duduklah di dekat David, Anna, temani dia berbicara, siapa tahu setelah dia mendengar suaramu, dia bisa segera kembali siuman." Nyonya Merry sangat berharap kedatangan Anna dapat memberikan pengaruh positif untuk kesembuhan putranya. Apalagi saat David sempat siuman sebentar, dia mendegar sendiri secara langsung pernyataan putranya bahwa hanya Anna lah yang bisa menyembuhkan dan menyadarkan dirinya kembali. Entah bagaimana caranya, tidak ada yang tahu pasti.


*


*


Keesokan paginya.


Hampir semalaman AnnaBella menemani David berbicara, namun hingga detik ini pria itu tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Bella juga heran, kenapa seperti ini. Setidaknya 'kan David menunjukkan reaksi dengan sedikit menggerakkan salah satu jari tangannya, tapi ini sama sekali tidak ada tanda-tanda. Aneh, padahal katanya hanya dia yang bisa menyembuhkan pria itu.


"Sayang, kita pulang istirahat ya." Alex membujuk istrinya itu untuk kembali ke rumah. Dengan kondisi Anna yang saat ini tengah hamil, Alex khawatir akan terjadi apa-apa pada istri dan calon bayi yang ada di dalam kandungan jika wanita itu sampai kurang tidur dan kurang !istirahat.


AnnaBella menggeleng. "Tidak, aku tidak akan pergi dari sini sebelum David siuman."


"Tapi, Sayang."


"Dad, aku mohon. Hanya sampai lusa. Setelah itu tidak lagi," pinta wanita itu dengan penuh harap.


"Maksudmu hanya sampai lusa?" Alex jelas tidak mengerti.


'Astaga.' Bella baru sadar kalau dirinya hampir saja salah bicara.

__ADS_1


"Tidak, tidak apa-apa. Bisa minta tolong temani aku ke toilet? Aku ingin buang air, Dad." Bella mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya sudah, ayo." Alex lantas menuntun istrinya itu menuju toilet terdekat.


Saat dalam toilet, Bella mulai memeriksa ponselnya. Waktunya masih tersisa 60 jam, berarti waktu misinya sudah berlalu 12 jam begitu saja.


"Astaga, kenapa waktu berlalu begitu cepat?" gumam Bella. "Apa yang harus aku lakukan untuk membangunkan David?" Wanita hamil itu merasa hampir putus asa. Ini bukan hanya menyangkut hidup dan mati seorang David, melainkan hidup dan matinya pula di masa yang akan datang. Bella tentu tidak rela hanya bisa melihat anaknya kelak tumbuh hanya sampai usia 6 tahun, sebagai seorang ibu, dia pun ingin melihat anaknya tumbuh dewasa, memiliki kehidupannya sendiri dan berkeluarga. Membayangkannya saja membuat hatinya terenyuh. Namun apa mau dikata jika dia gagal menyelesaikan misi kali ini, terpaksa dia harus menerima kenyataan kalau hidupnya sisa 7 tahun lagi.


"Apa aku harus menggunakan bantuan?" Bella bergumam sendiri, seingatnya dia masih memiliki dua hak istimewa yang belum dia gunakan sama sekali, reward dari keberhasilan pencapaian dua misi sebelumnya. Bukankah ini adalah waktu yang tepat untuk menggunakan hak istimewa tersebut, pikir Bella.


"Sepertinya aku harus memanggil Dewa Harapan, aku harus bertanya padanya, bagaimana caranya agar aku bisa menyelamatkan nyawa David." Bella bergumam sendiri.


"Aku sudah ada di sini." Untuk yang kesekian kalinya kemunculan Dewa Harapan mengejutkan Bella.


"Astaga. Untung aku tidak punya riwayat jantung, kalau tidak, pasti aku sudah mati duluan karena ulahmu." Seandainya sosok itu adalah sosok manusia biasa, Bella yakin, dia pasti sudah menoyor kepalanya saking kesal dan terkejutnya.


Bella mengangguk yakin. "Ya, aku ingin menggunakannya sebelum terlambat. Waktuku tidak lama, aku hanya tidak ingin membuangnya dengan sia-sia."


"Good job."


"Dewa, aku ingin tahu, apa yang harus aku lakukan untuk membangunkanmu? Kamu adalah David 'kan? Sekarang aku baru ingat, aku pernah menemukan album foto Anna bersamamu, saat itu sebelum aku sempat menanyakannya, kamu malah menghapus ingatanku dan membuatku pingsan." Bella akhirnya mengeluarkan apa yang bermunculan di ingatannya sejak semalam. Namun sayangnya, Dewa Harapan hanya terdiam tidak menanggapi.


"Dewa, kenapa kamu diam saja?" tanya Bella.


"Nyonya Huang yang terhormat, apa yang menimpa kita berdua ini sama-sama diluar nalar manusia, jadi sebaiknya kamu selesaikan tugasmu dengan baik dan aku pun begitu. Dalam pencapaian misi, kita berdua sama-sama punya pantangan yang tidak boleh dilanggar. Kamu mengerti 'kan apa maksudku?" Dewa Harapan menatap wanita itu dengan ekspresi wajah yang serius.


Bella menarik napasnya dalam-dalam, sepertinya dugaannya sebelumnya benar. "Ternyata kita berdua sama-sama berada di situasi yang sulit. Kalau begitu katakan padaku, bagaimana caranya agar aku bisa menyelamatkan nyawamu? Eh, maksudku menyelamatkan nyawa David."

__ADS_1


"Satu-satunya cara untuk kamu membangunkannya adalah dengan cara mendonorkan darahmu untuknya," jawab Dewa Harapan.


Deg. Bella begitu terkejut.


"Mendonorkan darah? Bukankah wanita hamil sepertiku tidak boleh melakukannya-"


Tok tok tok!


"Sayang! Kenapa kamu lama sekali?! Kamu baik-baik saja, 'kan?!" teriak Alex di depan pintu toilet.


"I-iya, aku baik-baik saja!" Wanita itu balas berteriak. Namun saat Bella ingin memperjelas apa yang dikatakan oleh Dewa Harapan barusan, sosok David versi lain itu tiba-tiba menghilang.


Ceklek.


Pintu toilet terbuka dari luar, menampakkan Alex dengan raut wajah khawatir. "Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?"


"Iya, aku baik-baik saja, Dad," jawabnya sambil tersenyum agak dipaksakan.


"Apa kamu sudah selesai?" Alex kembali bertanya dan langsung dijawab anggukan oleh istrinya. "Kalau begitu keluarlah, Sayang. Kita pergi cari sarapan dulu, kamu pasti lapar 'kan?"


"Ya, tentu saja aku sangat lapar, Dad. Dari tadi penghuni di dalam perut ini sudah protes minta diberi makan." Wanita itu tersenyum sambil mengusap perut buncitnya yang terlihat sudah lebih besar meski pun baru 5 bulan.


Alex ikut tersenyum kemudian mengusap dan mencium perut istrinya. "Sabar, Sayang. Sebentar lagi Daddy akan membawa kalian mencari makan."


Alex dan AnnaBella lantas pergi meninggalkan rumah sakit usai berpamitan pada ibunda David. Bella merasa sangat lega sekali karena tadi Alex tidak mendengar percakapannya dengan Dewa Harapan di dalam toilet.


...________________________________________...

__ADS_1


...Sabar ya Bestie, kalau akak Otor sehat-sehat, cerita ini akan tamat dalam waktu dekat. Maaf sudah membuat kalian menunggu sangat lama🙏🏼...


__ADS_2