Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 23 - Cinta Yang Dimanfaatkan


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu bulan lamanya Anna tidak pernah bertemu dengan Aaron. Selama 3 minggu terakhir Bella menghabiskan waktunya untuk menemani mama dan papanya. Terutama sang mama yang sempat mengalami gangguan mental karena kehilangan putri satu-satunya.


Selama hampir sebulan ditemani oleh Anna, kondisi nyonya Adinatha akhirnya sudah sangat membaik dan bisa dikatakan sudah kembali normal.


Hari ini Bella memutuskan untuk menemui Aaron. Setelah mendapatkan apa yang dia mau dengan bantuan sang papa, tuan Adinatha, Bella akhirnya memutuskan untuk menemui Aaron untuk yang terakhir kalinya dan membereskan semua urusannya yang memiliki sangkut paut dengan pria yang sangat dibencinya itu.


"Semoga saja semuanya berjalan sesuai rencana," gumam Bella seraya berjalan keluar dari dalam unit lama Anna.


1 Bulan tidak pernah bertemu dengan Aaron, Bella memang sudah mempersiapkan sesuatu dengan sangat matang. Rencananya untuk menuntaskan misi kehidupan pertamanya hingga 100 persen akan dia selesaikan hari ini juga.


.


.


Sesampainya di depan pintu unit Aaron, Anna langsung menekan bel unit pria tersebut. Kedatangannya pagi ini sama sekali tidak diketahui oleh pria itu, dengan alasan dia ingin memberikan kejutan untuk Aaron dengan kedatangannya.


Tidak berselang lama kemudian Aaron pun datang membukakan pintu untuknya.


Melihat siapa yang datang, Aaron langsung memeluk Anna erat-erat. "Sayang, aku sangat merindukanmu. Akhirnya setelah sebulan berpisah kita bisa bertemu lagi," kata Aaron. "Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mau datang kemari," tambahnya sembari melepaskan pelukan dan menangkup kedua pipi Anna dengan mesra menggunakan kedua tangannya.


"Karena aku ingin memberimu kejutan," jawab Anna. Gadis itu memasang wajah termanisnya, membuat Aaron semakin tergila-gila saja.


"Sebulan tidak pernah bertemu, kamu terlihat semakin cantik saja, Sayang," ucap Aaron seraya menarik tangan Anna untuk masuk ke dalam unitnya. Begitu pria itu sukses membawa Anna masuk, dia tidak mau lagi melepaskan pelukannya pada gadis itu.


Meski pun merasa risih dengan perlakuan Aaron, tapi Anna tetap membiarkan Aaron memeluknya. Tidak apa-apa, karena ini untuk yang terakhir kalinya. Puas-puaskanlah dirimu untuk memelukku. Batinnya sambil tersenyum licik.


Setelah Aaron benar-benar merasa puas memeluk Anna, pria itu pun lalu bertanya, "Sayang, bagaimana? Apakah papa dan mamamu sudah memberikan restu untuk kita menikah?"


Anna terdiam. Gadis itu menatap mata Aaron lekat-lekat, seolah-olah dia juga sangat mencintai pria itu sama seperti Aaron mencintainya. Namun, tiba-tiba saja dia menunduk dan memasang wajah sedih.

__ADS_1


"Hei, ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba bersedih?" Aaron bertanya sembari mengusap lembut pipi Anna.


"Ron." Tiba-tiba Anna menggenggam tangan Aaron yang sedang mengusap lembut pipinya. "Apa kamu mencintaiku?" tanyanya kemudian.


"Kamu ini bicara apa, Sayang? Tentu saja aku sangat mencintaimu. Kalau aku tidak mencintaimu, untuk apa juga aku mencampakkan Daisy demi kamu?" jawab Aaron.


"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, lalu apakah kamu rela melakukan apa pun untukku?"


"Tentu saja, Sayang," jawab Aaron dengan penuh keyakinan. "Memangnya kamu ingin aku melakukan apa untukmu?" tanyanya kemudian.


Anna terdiam sejenak sebelum menjawab. "Papa bilang ... kalau kamu ingin menjadi bagian dari keluarga Harold ... kamu harus memberikan jaminan untukku, untuk keluarga kami," ungkap Anna dengan nada yang terdengar agak ragu, seolah-olah dia merasa tidak enak mengatakan hal itu pada Aaron.


"Jaminan?" Aaron menatap Anna dengan penuh tanya. "Jaminan apa maksudmu, Sayang?"


"Maksudnya ... apa yang bisa kamu jadikan sebagai jaminan untuk bisa menjadi bagian dari keluarga Harold kami? Apa yang bisa kamu berikan padaku jika kamu ingin menikahi aku yang statusnya sebagai putri bungsu dari keluarga Harold? Bisakah kamu memberikan segala yang kamu punya untukku? Begitu maksud orang tuaku," jelas Anna.


Kenapa tidak aku menyerahkan semuanya pada Anna. Toh, setelah nanti aku menjadi menantu dari keluarga Harold yang kaya raya, aku pasti akan mendapatkan pengganti yang berlipat-lipat ganda dari apa yang aku berikan padanya. Batin Aaron. Meski pun dia sangat mencintai Anna, tapi jiwa materialistisnya tetap saja meronta.


"Lalu ... apakah kamu ingin menyerahkan hak kepemilikan apartemen ini beserta saham yang kamu miliki atas namaku?" tanya Anna.


"Oh, tentu saja, Sayang. Asalkan kita bisa menikah secepatnya, semua itu akan dialihkan atas namamu."


Anna tersenyum sambil mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. "Aku sangat yakin papa pasti akan langsung merestui hubungan kita."


"Map apa itu, Sayang?"


"Oh, ini berkas pengalihan kepemilikan unit apartemen ini beserta saham yang kamu miliki atas namaku. Papa yang sudah menyiapkan semuanya. Katanya, jika kamu setuju dan menandatanganinya sekarang juga, minggu depan kita akan langsung bertunangan."


"Benarkah, Sayang?" Mata Aaron langsung berbinar mendengar cerita bohong yang diucapkan oleh Anna, tanpa menunggu lama-lama pria itu langsung membubuhkan tanda tangannya di atas berkas peralihan kepemilikan yang diberikan oleh Anna padanya satu per satu.

__ADS_1


Anna tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Kena kamu bod*h. Dulu kamu merebut semuanya dariku karena memanfaatkan rasa cintaku padamu. Kini keadaan sudah berbalik, sekarang aku yang merebut semuanya kembali karena memanfaatkan cintamu pada Anna.


"Sudah, Sayang." Aaron menyerahkan map yang baru saja selesai dia tanda tangani isinya pada Anna.


"Sayang, aku merasa sangat bahagia ... sekali, karena sebentar lagi kita akan segera menikah," katanya lalu mencium pipi Anna. Wajah pria itu terlihat berbinar saking bahagianya.


Anna tersenyum. "Aku juga."


Keduanya lalu saling bersitatap. Lama kelamaan Aaron mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium Anna. Namun ketika jarak antar wajah mereka sudah sangat menipis dan hanya tersisa kurang dari 5 senti, tiba-tiba Anna menahan bibir Aaron.


"Aku lapar. Bisakah kamu membelikanku makanan?"


"Ka-mu lapar, Sayang?" tanya Aaron terbata dan langsung dijawab anggukan oleh Anna. Gagal sudah dia bermesraan dengan gadis itu.


"Kalau begitu aku pesankan makanan untukmu," kata Aaron. Rasanya ogah untuk mengakhiri kemesraan mereka.


"Tidak mau. Aku maunya sekarang. Aku sudah sangat kelaparan." Anna berkata dengan manja sambil menggelayutkan tangannya di lengan Aaron. Karena tidak bisa menolak keinginan gadis yang sangat dicintainya itu, Aaron pun terpaksa menurut. Daripada nanti Anna nanti merajuk karena mengira dirinya tidak sayang lagi pada gadis itu.


"Ya sudah, kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Aaron.


"Aku mau rice box ksc yang ada di depan apartemen."


Setelah memastikan bahwa Aaron sudah benar-benar keluar, Anna pun segera masuk ke dalam kamar Aaron untuk mengemasi barang-barang pria itu ke dalam koper. Setelah itu dia menulis sebuah pesan di selembar kertas lalu ditempelkan di atas koper. Koper itu kemudian Anna letakkan di depan pintu unit.


"Cih, selamat tinggal. Selamat menikmati kehidupan barumu dengan mendekam di sel tahanan." Bella berlalu pergi setelah mengganti password unitnya dengan password yang baru. Jadi otomatis Aaron tidak akan bisa lagi masuk ke dalam sana.


Rupanya, dengan bantuan tuan Adinatha, sang papa, Bella berhasil menemukan rekaman CCTV perbuatan jahat Aaron dan Daisy sesaat sebelum Bella meninggal, dan bukti itu sudah dia serahkan pada polisi. Tinggal menunggu polisi menjemput Aaron sebentar lagi.


B e r s a m b u n g ...

__ADS_1


__ADS_2