
20 Menit setelah Alex masuk ke dalam kamar mandi, pria itu akhirnya keluar lengkap dengan pakaian rumahan. Dia mencari istrinya di kamar, tapi Anna tidak ada di sana. Begitu keluar dari kamar, Bibi asisten rumah tangga tiba-tiba lewat.
"Bi, Anna mana?" tanya Alex.
"Nyonya Anna sedang senam yoga di rooftop, Tuan," jawab si Bibi.
Samar-samar Alex pun mendengar suara musik yang biasa mengiringi saat istrinya sedang senam hamil, jadi dia berpikir bahwa Anna benar-benar ada di atas sana.
"Sebaiknya aku susul saja," gumam Alex, tapi baru saja kakinya menginjak anak tangga pertama, ponsel yang ada dalam genggamannya tiba-tiba berdering, alhasil dia pun mengurungkan niat untuk menyusul istri tercintanya.
"Ada apa, Kay?" tanya Alex. Rupanya asisten Kay yang menelepon.
"Tuan, saya baru saja mengirim file penting di email Anda, tolong diperiksa dulu," kata Kay.
"Baiklah." Begitu sambungan teleponnya dengan Kay terputus, Alex lantas bergegas masuk ke dalam ruang kerjanya.
*
*
__ADS_1
Tanpa terasa Alex berada di dalam ruang kerjanya selama berjam-jam, dan akhirnya file yang dikirim oleh Kay baru selesai dia periksa. Begitu keluar dari ruang kerjanya, Alex langsung mengerutkan keningnya heran ketika samar-samar dia mendengar musik pengiring senam hamil milik istrinya masih terputar.
"Aneh. Tidak mungkin Anna masih senam sampai jam segini." Alex melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, rupanya dia tidak sadar kalau sekarang sudah siang. Karena firasatnya kurang baik, pria itu lantas berlari menaiki tangga menuju rooftop, khawatir terjadi sesuatu pada istrinya.
"Anna! Anna!" teriak Alex begitu sampai di atas sana. Jelas tidak ada yang menyahut karena wanita itu memang tidak pernah naik ke tempat tersebut sejak pagi.
Alex mematikan musik yang masih terputar, kemudian berjalan mencari istrinya di balik tanaman hias yang ada di atas sana, tapi Anna tetap tidak ada di mana pun.
"Apa jangan-jangan dia lupa mematikan musiknya setelah selesai melakukan senam hamil di sini? Tapi bagaimana mungkin seperti itu?" Alex bergumam kemudian berlari menuruni tangga kembali ke lantai bawah.
Sesampainya di lantai bawah, Alex langsung masuk ke dalam kamar, istrinya tidak ada di mana pun, di kamar mandi pun tidak ada. Alex kemudian mencarinya di ruang tengah, ruang tamu, tapi tetap tidak ada. Terakhir Alex mencari istrinya di dapur, tapi di sana hanya ada si Bibi yang sedang mencuci sayur dan buah.
'Jangan-jangan ....'
Bahkan di dalam hati pun Alex tak kuasa membayangkan kemungkinan terburuk.
"Saya tidak melihatnya, Tuan. Saya pikir nyonya sedang ada di kamar. Terakhir kali saya melihat nyonya saat dia menyuruh saya menyetel musik di rooftop, setelah itu saya tidak pernah melihatnya lagi sampai sekarang," jelas si Bibi. "Oh iya, saya juga baru beberapa menit sampai di rumah, Tuan, habis belanja kebutuhan dapur di supermarket," tambahnya.
Setelah mendengar penjelasan si Bibi, Alex hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. "Anna ... kenapa kamu keras kepala sekali?"
__ADS_1
Dengan wajah gusar Alex menyambar kunci mobilnya kemudian segera pergi meninggalkan rumah.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di rumah sakit tempat David dirawat.
"Bangunlah." Davidya membantu Anna untuk bangun usai melakukan donor satu kantong darah untuk David. Selanjutnya dokter dan perawat tinggal melakukan proses transfusi darah kepada pasien yang membutuhkan, yaitu David. "Terima kasih karena kamu sudah bersedia menolong adikku, dan maaf atas sikap kasarku padamu tempo hari."
Tadi pagi Davidya sengaja datang ke kediaman Alex dan Anna karena dia memang ingin menemui wanita itu. Selama 2 hari terakhir kondisi David semakin menurun, semakin memburuk saja saat Anna tidak pernah datang menjenguknya. Karena sangat takut kehilangan adik satu-satunya, Davidya akhirnya memutuskan untuk datang menemui Anna dan Alex. Pucuk dicinta, tidak disangka Anna justru tengah bersiap kabur dari Alex saat wanita itu sampai di sana.
"Tidak apa-apa, Kak Davidya. Aku bisa mengerti perasaan Kak Davidya dan tante Merry. Selama hampir 1 setengah tahun David terbaring tidak berdaya di rumah sakit, kalian pasti sangat bersedih, dan itu semua karena salahku," ucap AnnaBella.
Davidya tersenyum. "Sekarang kita tidak perlu lagi saling menyalahkan. Intinya sekarang kamu sudah berusaha untuk menolong David, meski pun harus membahayakan kondisi calon bayimu." Wanita itu berkata sambil menyentuh perut Anna. "Aku harap kalian berdua baik-baik saja, dan tidak terjadi masalah apa pun padamu mau pun kandunganmu, karena kalau sampai terjadi apa-apa, aku pasti akan merasa sangat bersalah, ditambah lagi tuan Huang pasti akan menuntut dan memenjarakanku."
AnnaBella justru tertawa mendengar ucapan wanita itu.
"Tenang saja, Kak Davidya, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Aku berani jamin." AnnaBella berkata dengan sangat yakin.
"ANNA HUANG!!!" Suara teriakan Alex memenuhi seisi ruangan tempat istrinya dan Davidya berada, dan tentunya hal itu membuat semua orang terkejut.
Alex lantas berjalan mendekati istrinya dengan marah, kemudian mencengkram pergelangan tangan AnnaBella dengan kuat. "Berani-beraninya kamu melakukan ini dan kabur dariku, Anna!"
__ADS_1