
Keesokan paginya.
Saat berada di dalam lift menuju lantai ruangannya, Bella kembali memeriksa penampilan wajahnya di cermin. Ini untuk yang kesekian kalinya semenjak dia keluar dari rumah. Hari ini demi menuruti keinginan Alex, dia hanya menggunakan make up serba tipis di wajahnya sebelum dia berangkat ke kantor. Mulai dari foundation, bedak, alis, lipstik, dan lain sebagainya, semuanya dia kenakan serba tipis. Dengan begini mungkin Alex tidak akan marah lagi padanya perihal riasan wajah.
Begitu gadis itu keluar dari lift, seseorang tiba-tiba saja menyapanya.
"Selamat pagi, Sekre-taris An-na." Seorang karyawan wanita menyapa gadis itu dengan terbata sambil memperhatikan seluruh penampilan sekretaris Anna dari atas sampai ke bawah. Sepertinya penampilan sekretaris presdir tersebut terlihat ada yang kurang dibandingkan hari biasanya.
"Pagi juga, Manajer Hani," balas Anna sambil tersenyum canggung. Dia yakin, manajer keuangan itu pasti salah fokus dengan penampilan wajahnya pagi ini.
"Sekretaris Anna? Apa kamu sedang sakit? Kenapa kamu nampak pucat sekali pagi ini?" tanya Manajer Hani.
Anna menggeleng sambil tersenyum. "Tidak Manajer Hani, aku baik-baik saja. Aku sehat."
"Sekretaris Anna, kalau kamu tidak enak badan tidak usah masuk kerja, jangan terlalu dipaksakan. Aku yakin, presdir Huang pasti bisa mengerti kok kalau kamu mengambil cuti karena sakit," kata Manajer Hani khawatir saat melihat wajah pucat gadis itu.
"Tidak, Manajer Hani, aku sungguh baik-baik saja," katanya berusaha meyakinkan.
Manajer Hani yang tidak percaya kalau sekretaris Anna baik-baik saja pun segera menempelkan punggung tangganya di kening gadis itu.
"Benar juga ya, badan kamu sama sekali tidak hangat. Tapi ... kenapa pagi ini kamu terlihat pucat sekali?" tanyanya sambil menatap wajah gadis itu dengan seksama.
"Oh itu, mungkin pagi ini aku terlihat pucat karena aku tidak memakai-"
"Lipstik!" Manajer Hani berseru sambil memotong ucapan Anna. Setelah menemukan akar permasalahannya, wanita itu pun dengan cepat mengambil sesuatu dari dalam saku roknya. Sesuatu yang wajib dia bawa kemana pun dia pergi, tidak boleh sampai lupa.
__ADS_1
Astaga! Mata Anna seketika membulat saat melihat wanita berusia 30-an itu ternyata mengeluarkan lipstik merah terang dari dalam saku roknya. Lipstik merah menyala yang selama ini menjadi ciri khas seorang Manajer Keuangan Hani.
"Sekretaris Anna, ini adalah senjataku untuk memikat hati para pria. Muah. Cantik, bukan?" Manajer Hani tersenyum lalu menggerakkan bi bir merah terangnya dengan begitu sensual. Dan tiba-tiba, wanita itu juga mengoleskan lipstik yang sama di bi bir Anna.
"Manajer Hani, apa yang kamu laku---" Anna seketika dibuat panik. Mata gadis itu seketika terbelalak ketika merasakan ujung lipstik milik Manajer Hani mendarat di bibirnya.
"Nah, sudah." Manajer Hani tersenyum puas. "Luar biasa. Senjataku ini juga terlihat sangat cocok denganmu, Sekretaris Anna. Hari ini kamu terlihat sangat jauh berbeda, terlihat lebih cantik, lebih seksye, lebih dewasa, dan juga lebih hhhot." Cara Manajer Hani menyebut kata 'hot' berbeda dari orang kebanyakan. Wanita itu bahkan sampai menggigit sedikit bi bir bawahnya sendiri setelah selesai mengucapkan kalimat itu.
Ting! Tiba-tiba lift khusus pimpinan terbuka, menampakkan Alex bersama dengan dua orang pengawalnya keluar dari sana.
Si al. Aku merasa seperti sedang dijebak. Batin Anna sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Apalagi sekarang Alex sudah menatapnya dengan tatapan tajam.
Sementara itu, Manajer Hani yang melihat tatapan tak bersahabat atasan mereka terhadap sekretarisnya lantas berbisik, "Apa kamu habis melakukan suatu kesalahan besar, Sekretaris Anna?"
Ya, kesalahan terbesarku pagi ini adalah bertemu denganmu, Manajer Hani. Sepertinya pertemuan kita ini akan membawa petaka untukku. Jawab Bella hanya dalam hati.
"Sekretaris Anna, bye, aku masih banyak urusan." Wanita itu lantas berlalu meninggalkan Sekretaris Anna dengan gaya berjalannya yang sok centil dan sok kecantikan.
Sementara itu, Anna yang melihat Alex berjalan ke arahnya dengan tatapan yang seperti ingin memakannya hidup-hidup hanya bisa berdiri mematung di tempat sembari menelan ludahnya dengan susah payah.
"Ikut aku ke ruanganku," titah Alex lalu berlalu dari hadapan gadis itu.
"Ba-baik, Presdir."
Habislah aku kali ini. Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin, presdir Huang pasti akan marah padaku gara-gara lipstik si alan ini. Batinnya. Andai dia bisa kabur, dia pasti sudah melakukannya sejak tadi. Tapi sayang, Alex sudah terlanjur melihat semuanya.
__ADS_1
Begitu mereka berdua masuk ke dalam ruangan Alex, Alex langsung menarik tangan Anna hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya.
"Akh-" Anna memekik tertahan karena terkejut, apalagi dalam sekejap dia sudah masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Kamu ingin menggoda siapa dengan bibir semerah ini, hm?" tanya Alex tepat di dekat telinga sekretarisnya membuat bulu kuduk gadis itu merinding.
Anna menggeleng cepat. "Ti-tidak. Aku tidak ingin menggoda siapa pun," jawabnya sambil menelan ludah dengan susah payah. Melihat wajah Alex yang sangat mengintimidasi dari jarak yang sangat dekat membuat nyali gadis itu semakin menciut.
"Lalu, untuk apa kamu memakai lipstik seperti ini, hm?" Alex bertanya sembari mengusap bibir Anna menggunakan ibu jarinya. Entah mengapa dia sangat tergoda melihat bibir ranum gadis itu dari jarak yang sangat dekat. "Apa kamu sedang berusaha menggodaku?"
Menggodanya? Mana mungkin aku melakukan hal memalukan seperti itu?!
"Ak-aku ... aku ...."
Anna tidak tahu harus menjawab apa. Disaat seperti ini dia malah merasa serba salah di hadapan Alex. Pria itu begitu posesif! Takutnya jika dia salah menjawab, pria itu akan semakin marah, tapi jika coba dia pikir-pikir, mungkin Alex akan senang jika dirinya mengakui tuduhan pria tersebut.
"Y-ya, aku ... aku sengaja memakai lipstik seperti ini ... untuk menggodamu," ucapnya malu-malu. Dia merasa seperti gadis penggoda saja. Padahal, beberapa waktu lalu dia pernah menjadi pelakor dengan merebut Aaron dari Daisy. Apa mungkin dia sudah lupa itu?
Alex tersenyum, lalu dengan perlahan menarik tengkuk Anna dan mencium bi bir gadis itu, kemudian me lu mat dan me nye sap nya dengan lembut, tapi entah mengapa ciuman ini malah mengingatkan Alex pada Bella, saat dia mencuri ciuman dari wanita yang dicintainya itu dengan cara berpura-pura mabuk. Namun Alex memilih untuk tidak peduli, baik ini Anna mau pun Bella, bagi Alex hanya kedua wanita ini yang mampu membuat hatinya berdesir.
Semakin lama ciuman keduanya semakin panas, bahkan sekarang kedua tangan Anna sudah mengalung di leher Alex, sementara tangan Alex sendiri sudah bergerak naik turun mengusap punggung gadis itu. Dan disaat yang bersamaan, Mr. Max pun terbangun dari tidur panjangnya.
Alex membopong tubuh wanitanya menuju kamar yang ada di ruangannya tanpa sedikit pun melepaskan pangutan mereka. Pagi-pagi begini bukannya sarapan pakai sandwich mereka malah sarapan pakai cinta. Salah sendiri, kenapa Mr. Max pakai acara bangun segala, jadi 'kan Alex jadi pengen main kuda-kudaan.
B e r s a m b u n g...
__ADS_1
..._________________________________________...
...Halo Bestie, setelah sekian purnama Otor akhirnya up juga🤧😅 Entah mengapa setelah membaca komentar salah satu pembaca setia novel ini tadi malam, hati Otor jadi tergerak untuk up lagi😅 (Berterima kasihlah kalian semua pada kak @Retno PalupiðŸ¤)...