
Hawei Group
Anna dan Kay turun dari mobil yang dikemudikan Kay, sedangkan Alex turun dari mobilnya sendiri yang dikemudikan oleh sopirnya sendiri. Keduanya pun lalu mengekor di belakang Alex mengikuti langkah lebar pria itu hingga memasuki lift yang sama. Sesampainya di lantai sekian tempat ruangan mereka berada, Kay langsung menunjukkan meja kerja Anna yang berhadapan dengan meja kerjanya, tepat di depan ruangan presdir Huang.
"Kay!" panggil Alex begitu dia sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Iya, Presdir."
"Berikan laporan ini padanya." Alex menunjuk berkas yang menumpuk banyak di atas mejanya. "Suruh sekretaris baru itu mengerjakannya, setelah selesai berikan padaku."
"Baik, Tuan."
"Dan kamu, wakili aku untuk menemui tuan Keenan di hotel.......
"Ta-pi, Presdir. Apakah kita harus membiarkan sekretaris yang Anna mengerjakan semua ini tanpa dibimbing?" tanya Kay sedikit khawatir, takut Anna melakukan kesalahan dan dimarahi habis-habisan oleh Alex.
"Biarkan saja. Aku ingin melihat, seberapa becus sekretaris pilihanmu itu bekerja sampai kamu mempertaruhkan karirmu hanya untuk membuatnya masuk ke perusahaan ini." Perkataan Alex sukses membuat Kay sulit menelan ludah.
"Ba-baik, Presdir." Kay menunduk sopan lalu mengambil berkas menumpuk itu kemudian dia letakkan di atas meja kerja sekretaris Anna.
"Katakan padaku jika kamu mengalami kesulitan. Presdir sedang memberiku tugas untuk ....," bisik asisten Kay.
Anna mengangguk. "Tenang saja, jangan khawatir. Aku pasti akan langsung meminta bantuanmu." Dia tersenyum setelah mengucapkannya.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Iya, hati-hati."
Setelah Kay pergi, Bella menatap semua berkas yang menumpuk di hadapannya. Pekerjaan yang sangat dia rindukan selama beberapa bulan terakhir.
Semangat! Aku harus membuat presdir Huang terkesan pada Anna dengan hasil pekerjaanku. Batin Bella.
Sementara itu, Alex duduk menunggu di dalam ruangannya sambil menunggu sekretaris barunya selesai mengerjakan tugas yang dia beri.
Lihat saja, kalau dia tidak becus melakukan pekerjaannya, aku pastikan akan membuatnya angkat kaki dari perusahaan ini sebelum dia melancarkan aksinya untuk menggodaku. Batin Alex.
2 Jam kemudian.
__ADS_1
Telepon di meja Anna tiba-tiba berdering, rupanya panggilan dari Alex.
"Iya, Presdir," jawabnya setelah menempelkan gagang telepon itu di telinganya.
"Masuk ke ruanganku dan bawa semua berkas yang sudah selesai kamu kerjakan," titah Alex.
Awas saja kalau dia mengerjakannya asal-asalan. Aku pastikan dia tidak akan bertahan selama 1 minggu di sini. Batin Alex.
"Baik, Presdir."
Tidak berselang lama setelah sambungan telepon mereka terputus, Anna masuk ke dalam ruangan Alex dengan setumpuk map di tangannya. Alex yang melihat hal itu langsung mengerutkan kening.
Dia tidak sedang mempermainkanku, 'kan? Bagaimana bisa dia menyelesaikan sebegitu banyak hanya dalam waktu 2 jam? Batin Alex. Seingatnya, hanya sekretaris Bella yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, tepat, dan rapi, tanpa melakukan sedikit pun kesalahan.
"Silahkan diperiksa dulu, Presdir. Kalau masih ada salah, biar saya perbaiki lagi nanti," kata Anna setelah meletakkan berkas-berkas itu di atas meja Alex.
Cih, dari cara bicaranya, dia seperti sekretaris profesional saja. Gumam Alex memandang sekretaris barunya itu remeh.
Alex mulai memeriksa berkas demi berkas yang baru diselesaikan sekretaris Anna, setelah memeriksa sebanyak tiga berkas, dia belum menemukan sedikit pun kesalahan yang bisa dia gunakan untuk memarahi gadis di depannya.
Ck, kenapa pekerjaannya rapi dan teliti sekali. Aku sama sekali tidak menemukan kesalahan. Batin Alex kesal. Jika dirinya tidak bisa menemukan kesalahan yang diperbuat oleh Anna, itu artinya dia tidak memiliki alasan untuk memarahi gadis yang dibencinya itu.
"Baik, Presdir."
.
.
Hingga sore menjelang malam pun tiba, Alex tidak kunjung menemukan kesalahan dalam hasil pekerjaan sekretaris barunya.
"Bagaimana bisa dia melakukannya? Dimana dia belajar sehingga bisa sehebat ini?" gumam Alex, sambil menatap sekretaris Anna yang sedang fokus bekerja dari balik kaca ruangannya.
"Sekretaris Anna, apa kamu sudah makan?" tanya asisten Kay yang tiba-tiba muncul.
"Eh, Asisten Kay, kamu sudah kembali," kata Anna. "Rencananya aku baru akan memesan makanan setelah pekerjaanku yang satu ini selesai."
"Kalau begitu kamu tidak perlu repot-repot mengerjakannya karena aki sudah membelikan makanan untukmu."
__ADS_1
"Oh, ya? Terima kasih banyak, ya?"
"Sama-sama," jawab Kay. "Oh iya, apa Presdir Huang memarahimu?" tanyanya sedikit khawatir dan setengah berbisik.
Anna menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia memarahiku," jawabnya lalu tertawa.
"Hebat sekali kamu, ya?" Kay ikut tertawa. "Oh iya, ada yang bisa aku bantu, biar kita bisa pulang lebih cepat?"
"Tentu saja banyak," katanya lalu kembali tertawa.
Rupanya, Alex semakin meradang melihat interaksi antara asisten dan sekretarisnya.
Ternyata mereka berdua sedekat itu. Apa jangan-jangan selama ini Kay yang sudah mengajarinya?
.
.
Pukul setengah 9 malam, pekerjaan yang diberikan oleh Alex akhirnya selesai tanpa ada sedikit pun kesalahan yang dilakukan oleh sekretaris Anna. Hal itu tentu saja membuat mood Alex jadi buruk karena dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada gadis bar-bar tersebut. Apalagi saat dia melihat Kay mengantar gadis itu pulang.
"Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua? Kenapa mereka terlihat sangat dekat sekali?" gumam Alex berbicara sendiri. Namun dengan cepat dia segera menepis pikiran itu. "Ah, untuk apa juga aku memperdulikan hal itu. Jika mereka memiliki hubungan spesial, itu artinya aku tidak perlu takut lagi gadis itu akan menggodaku."
Sementara itu di dalam mobil Kay.
"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu?" tanya Kay, sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Apa itu?" tanya Anna penasaran.
"Sebenarnya selama ini kamu kemana? Aku pernah datang beberapa kali mengunjungi apartemenmu, tapi aku tidak pernah menemukanmu."
Anna bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin juga 'kan dia berbicara jujur dengan berkata pindah ke apartemennya untuk membalaskan dendamnya pada Aaron dan Daisy.
"Oh, itu ... aku-"
"Apa kamu pergi belajar agar bisa menggantikan posisi sekretaris Bella yang sudah meninggal?" Pertanyaan Kay seketika membuat Bella terkejut. Bagaimana mungkin Kay bisa berpikir seperti itu tentang Anna. Tapi ... kalau dipikir-pikir boleh juga.
"Mm, ya. Setelah tahu bahwa sekretaris presdir Huang meninggal waktu itu, aku langsung terbang ke luar negeri untuk belajar pada pemanku. Dulunya dia itu sekretaris yang sangat handal."
__ADS_1
"Oh ya, pantas saja kamu bisa sehebat sekarang. Ternyata kamu berguru pada orang hebat."
Huft. Untungnya asisten Kay tidak bertanya siapa pemanku itu.