Transmigrasi Menjadi Pelakor

Transmigrasi Menjadi Pelakor
TMP - Bab 58


__ADS_3

Siapa pria itu? Kenapa dia menyebut dirinya sebagai ayah di depan Carissa? Tidak mungkin 'kan Carissa bukan anak kandung tuan. Gumam Alex dalam hati.


Apa aku tidak salah lihat? Gerakan mulut pria itu tadi sepertinya menyebut bahwa dirinya sebagai ayah di depan nona Carissa? Kalau memang benar iya, apa mungkin ini alasannya nona Carissa dan nyonya Irene menyingkirkan Anna Harold? Mereka menyingkirkan Anna Harold karena Anna adalah anak kandung dari tuan Harold. Hm ... sepertinya aku harus mencari tahu sesuatu. Siapa tahu ini bisa membantuku menyelesaikan misi keduaku tepat waktu. Batin Bella.


Sebenarnya Bella dan Alex tidak mendengar apa yang bicarakan oleh Carissa bersama dengan pria paruh baya itu dikarenakan kaca jendela mobil Alex semuanya tertutup dengan rapat. Tapi melihat betapa paniknya Carissa saat didatangi oleh pria asing tersebut serta melihat gerakan mulut dan bahasa tubuh keduanya membuat Bella juga Alex curiga bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres yang disembunyikan oleh wanita itu. Ditambah lagi mereka sempat melihat Carissa marah dan membentak pria tersebut sebelum akhirnya dia memberikan selembar cek lalu pergi dari sana. Sepertinya kedatangan pria itu sangat mengganggu dan tidak diinginkan oleh wanita itu.


"Apa kamu mengenal siapa orang itu?" tanya Alex, memecah keheningan di antara mereka berdua. Karena setahu Alex, Anna dan Carissa adalah saudara, jadi dia berpikir bahwa mungkin saja Anna Harold juga mengenal siapa pria paruh baya tersebut.


Anna menggeleng cepat. "Tidak, aku sama sekali tidak mengenalnya."


Alex menatap sekretarisnya dengan tatapan heran. "Kamu serius tidak mengenalnya? Tapi tadi kalau aku tidak salah lihat, aku melihat orang itu menyebut dirinya sebagai ayah di depan kakakmu."


"Jadi kamu juga melihatnya? Aku pikir tadi aku hanya salah lihat," kata Anna.


Bella pun tidak begitu yakin bahwa Anna Harold yang asli tidak mengenal pria itu. Namun jika dugaannya memang benar bahwa Carissa ternyata bukanlah putri kandung tuan Harold, bukankah hal itu bagus dan sangat menguntungkan bagi Bella, dikarenakan dia bisa menggunakan hal tersebut untuk melancarkan pencapaian misi keduanya jika seandainya dia mampu menemukan bukti kuat yang membenarkan dugaan tersebut, selain dari meminta bantuan Alex untuk mencari tahu bukti kebenaran dari ketiga foto rekayasa yang pernah menyebar tentang Anna Harold yang asli waktu itu.


"Selama ini ku pikir kamu dan Carissa adalah saudara kandung, lalu yang kita lihat barusan itu apa?" Alex masih belum mengerti dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Anna tersenyum. "Mm ... ya, kami memang bersaudara, tapi beda ibu," ungkapnya, membuat Alex semakin terkejut saja dibuatnya.


"Maksud kamu?"


"Nyonya Irene bukanlah ibu kandungku, ibu kandungku yang sesungguhnya sudah meninggal saat beliau berjuang melahirkanku."


Ya, itulah fakta akurat yang Bella ketahui tentang Anna Harold yang selama ini disembunyikan dengan ketat oleh keluarga Harold.


"Benarkah?" Alex semakin dibuat terkejut dan tidak menyangka setelah mengetahui fakta tersebut, namun sejurus kemudian dia langsung merasa bersalah pada Anna. "Mm ... Sekretaris Anna, aku sungguh minta maaf karena sudah membuatmu membahas hal ini. Aku sama sekali tidak ada maksud untuk membuatmu bersedih.


Anna tersenyum. "Tidak masalah. Aku tidak apa-apa kok."

__ADS_1


Pantas saja selama ini nyonya Irene terkesan pilih kasih terhadap kedua putrinya. Bukan hanya itu, nyonya Irena bahkan juga sering menjelek-jelekkan Anna Harold di hadapanku. Sekarang aku baru mengerti, ternyata alasannya karena Anna bukanlah putri kandungnya. Batin Alex.


.


.


Selesai makan malam di restoran terdekat, kini Anna dan Alex sudah kembali ke dalam mobil.


"Selanjutnya kamu mau kemana?" tanya Alex sembari memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. "Oh iya, sebagai bentuk permintaan maafku soal yang tadi, malam ini aku akan membawamu pergi jalan-jalan ke tempat mana pun yang kamu inginkan," tambahnya.


Sejujurnya Alex masih merasa sangat bersalah karena sudah membuat Anna mengingat hal yang cukup menyedihkan di dalam kehidupan gadis itu, jadi dia pikir dengan mengajak gadis itu pergi jalan-jalan sebelum mengantarnya pulang sepertinya adalah ide yang baik untuk menghiburnya.


"Benarkah?" tanyanya tidak menyangka dan langsung dijawab anggukkan oleh Alex.


Setelah berpikir selama beberapa saat, Bella pun lalu teringat pada satu tempat favorit yang dulunya sering dia kunjungi bersama Alex disaat keduanya ingin membuang penat dan stres karena pekerjaan mereka yang menumpuk.


Deg.


"Danau Hijau?" tanya Alex ingin memastikan. Seketika ekspresi wajah pria itu berubah menjadi datar.


"Iya, Danau Hijau. Malam-malam begini jalan-jalan kesana sepertinya akan membantu mengurangi perasaan suntuk dan lelah setelah akhir-akhir ini kita disibukkan oleh banyaknya pekerjaan."


Alex terdiam. Pikirannya kembali menerawang pada kenangan di masa lalu, saat Bella selalu saja memintanya untuk membawa wanita itu ke tempat yang sama. Dan memang, danau buatan tersebut merupakan tempat favorit Bella saat ingin menghilangkan kepenatan disaat selesai lembur bersama Alex.


Melihat Alex malah bengong, Anna pun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah pria itu. "Presdir Huang, Presdir Huang. Kenapa melamun?"


"Hah?" Alex akhirnya tersadar dari lamunanya. "Kamu bilang apa barusan?"


"Aku bilang, kenapa kamu melamun?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Alex malah menatap gadis di sampingnya itu lekat-lekat. "Kenapa kamu memilih tempat itu?"


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan tempatnya?" tanya Anna heran. Bukankah Alex barusan berkata akan mengantar gadis itu kemana pun dia mau.


"Tidak ada yang salah, hanya saja kamu mengingatkanku pada seseorang yang juga sangat menyukai tempat itu," jawabnya sambil tersenyum dipaksakan lalu menyalakan mesin mobilnya.


"Oh." Bella tidak tahu harus berkata apa lagi. Sudah jelas yang pria itu maksud adalah dirinya sendiri.


.


.


Sepanjang perjalanan menuju Danau Hijau, Alex lebih banyak diam. Entah mengapa dia tiba-tiba begitu dalam teringat pada Bella sehingga hal itu cukup mempengaruhi moodnya.


Sesampainya di tempat tujuan.


"Turunlah, aku akan menunggumu di dalam mobil saja," ucap Alex.


"Loh, kenapa kamu tidak ikut turun?" tanya Anna.


"Hari ini aku merasa cukup lelah. Aku duduk disini saja beristirahat sambil menunggumu,"jawabnya.


Melihat wajah sendu pria itu, Bella pun memutuskan untuk keluar sendiri dan tidak bersikeras mengajak Alex.


Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan besar karena memintanya membawaku kemari. Lihat, sekarang dia malah terlihat sedih dan lebih banyak diam. Batin Bella merasa bersalah.


Seketika kembali terbesit di pikirannya untuk mengatakan siapa sebenarnya dia pada Alex agar pria itu tidak lagi bersedih karena kehilangannya, tapi mengingat ada konsekuensi yang harus dia tanggung dari Dewa Harapan jika dirinya melanggar peraturan, Bella pun memilih untuk membatalkan niat sementara waktu. Takutnya hukuman yang akan dia dapatkan itu malah akan merugikan dirinya beserta orang tersayang. Bukannya membuat Alex senang dan bahagia, justru dia malah membuat pria itu bersedih karena harus kehilangan dirinya sebanyak dua kali.


Sebelum aku mempertimbangkan untuk membocorkan identitasku yang sebenarnya padanya, sepertinya aku harus mencari tahu lebih dulu, hukuman apa yang mesti aku tanggung jika aku sampai mengatakan pada orang lain siapa aku sebenarnya. Batin Bella kemudian.

__ADS_1


__ADS_2