
Siang hari, Anna dan Alex baru saja selesai membahas kerjasamanya dengan perusahaan IY Jewelry, perusahaan yang bergerak di bidang perhiasan dan aksesori.
IY Jewelry didirikan oleh Aarav Raymond sahabat baik Alex yang juga merupakan seorang make up artist (MUA) terkenal. Selain menjadi pendiri IY Jewelry, Aarav juga bertanggung jawab mendesain semua perhiasan yang diproduksi oleh perusahaannya sendiri. Segala bentuk perhiasan dan aksesori yang diproduksi oleh perusahaannya kesemuanya merupakan hasil karya desain dan gambar pria tersebut.
Kini Anna dan Alex tengah melihat katalog produk IY Jewelry yang saat ini sedang dalam proses produksi, dan rencananya bulan depan akan segera launching. Sementara Hawei Group bertugas untuk memasarkannya.
"Perhiasan dan aksesorisnya bagus dan cantik-cantik. Desainnya terlihat simpel tapi sangat menarik. Saya yakin, produk ini pasti akan laku keras di pasaran. Apalagi konsumennya tidak mencakup batasan usia. Siapa pun bisa mengenakan perhiasan dan aksesoris cantik ini, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia sekalipun," puji Anna setelah berulang kali melihat gambar-gambar indah dan cantik tersebut.
"Yang dikatakan sekretaris Anna sangat benar, mengingat sekarang ini banyak orang yang membeli perhiasan untuk investasi di masa depan. Salah satu contohnya adalah emas yang harganya bisa dijangkau oleh kalangan bawah, menengah, hingga ke atas," ucap Alex.
Selain berlian dan emas, IY Jewelry juga memproduksi perhiasan yang terbuat dari titanium dan mutiara.
"Terima kasih atas pujiannya." Aarav tersenyum senang. "Tapi aku masih punya satu produk eksklusif yang hanya akan aku tunjukkan pada kalian berdua, produk ini tidak akan pernah dijual di pasaran, dan hanya akan diproduksi satu buah saja." Aarav mengeluarkan sebuah benda menyerupai album kecil lalu dia berikan untuk dilihat oleh Alex dan sekretaris Anna.
"Wah, cantik sekali." Anna menatap kagum desain gambar cincin berlian berbentuk mahkota pengantin tersebut. "Sepertinya cincin ini sengaja didesain khusus untuk seseorang yang sangat spesial," tambahnya sembari tersenyum menatap Aarav.
Aarav tersenyum. "Ya, aku sengaja mendesainnya untuk calon istriku. Itu adalah cincin yang akan aku berikan saat kami bertunangan nanti."
"Wah, beruntung sekali gadis itu. Wanita mana pun pasti akan merasa sangat bahagia dan beruntung diperlakukan dengan sangat spesial seperti calon istri Anda," ucap Anna sambil kembali tersenyum.
Alex yang saat itu sedang menyesap kopi miliknya tanpa sengaja tersedak mendengar penuturan sekretarisnya barusan. "Uhhuk-uhuk!"
Entah mengapa dia merasa bahwa Anna sedang memberinya kode untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Aarav terhadap calon istrinya.
Astaga! Ada apa denganku? Kenapa aku selalu berpikir yang tidak-tidak? Batin Alex. Dia sendiri merasa sangat aneh pada dirinya sendiri. Padahal, selama 1 bulan ini Anna menjadi sekretarisnya, gadis itu sama sekali tidak pernah melakukan tindakan apa pun untuk menggodanya. Tapi entah mengapa dia selalu berpikir berlebihan. Apa mungkin karena Anna sangat mirip dengan Bella?
"Pelan-pelan, Presdir." Anna menyodorkan sebotol air mineral ke arah Alex.
__ADS_1
Sementara Aarav tidak terlalu menghiraukan Alex yang tersedak, pria itu justru malah fokus menanggapi ucapan Anna tadi dengan senyuman.
"Aku juga punya sesuatu untuk seseorang yang beruntung." Aarav menengadahkan sebelah tangannya pada seorang pria yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Seorang pria yang tidak lain adalah asisten pribadi Aarav sendiri. "Rex."
"Iya, Tuan." Pria bernama Rex itu lalu menyerahkan sebuah kotak perhiasan berwarna pink muda berbentuk persegi pada tuannya.
"Ini untukmu, Sekretaris Anna." Aarav tersenyum seraya mengansurkan kotak perhiasan itu ke hadapan Anna.
"Apa ini, Tuan Aarav?" tanya Anna. Tidak menyangka akan mendapatkan hadiah dari pimpinan IY Jewelry tersebut.
Aarav lagi-lagi tersenyum. "Kalau kamu penasaran, bukalah."
Tanpa menunggu lama-lama Anna pun segera membuka kotak perhiasan kecil tersebut. "Wow, cantik sekali." Anna menutup mulutnya dengan tangan, lalu tersenyum pada Aarav. "Terima kasih banyak, Tuan Aarav. Saya benar-benar menyukainya."
"Pakailah, jepitan rambut itu pasti sangat cocok untukmu."
"Baik." Anna melepaskan jepitan rambut yang semula dia kenakan lalu meletakkan di atas meja, tepat di samping tasnya. Setelah itu dia menyematkan jepitan mutiara berbentuk bunga tersebut ke sisi kiri rambutnya.
"Sebelumnya aku memang sudah sangat yakin bahwa jepitan rambut itu pasti sangat cocok jika dipakai olehmu," puji Aarav. "Oh iya, Rex, berikan kotak yang satunya lagi," pintanya lagi pada asistennya.
"Baik, Tuan."
"Alex, ini untukmu. Berikan pada nona Carissa, calon istrimu." Aarav mengansurkan kotak perhiasan berwarna merah dengan bentuk hati tersebut ke hadapan sahabatnya sambil tersenyum.
Mendengar Aarav menyebut nama tunangannya di hadapan Anna, entah mengapa Alex merasa kurang nyaman. Apalagi dulunya kedua gadis bersaudara itu memperebutkan dirinya dengan cara mereka masing-masing, hingga pada akhirnya yang menang adalah Carissa, bukan gadis yang sedang duduk di sampingnya.
"Ekhm." Alex berdehem seraya melirik sekilas ke arah Anna, dia sangat yakin bahwa gadis itu pasti merasa cemburu mendengar nama Carissa disebut. "Terima kasih."
__ADS_1
Alex memilih untuk menyimpan kotak perhiasan itu ke dalam saku bagian dalam jasnya sendiri. Sengaja tidak dia berikan untuk disimpan oleh sekretarisnya karena takut gadis itu akan merusak atau pun membuang perhiasan tersebut. Itu adalah pemberian dari Aarav, jadi dia harus menghargai pemberian itu dengan menyimpannya baik-baik sebelum diberikan pada Carissa.
"Sama-sama. Oh iya, kapan kalian berdua akan menikah? Seingatku kalian berdua sudah bertunangan sejak setengah tahun yang lalu," tambah Aarav dan semakin membuat Alex merasa tidak nyaman. Apalagi saat melihat Anna sudah berdiri dari tempat duduknya.
"Permisi, saya pamit ke toilet sebentar," ucap Anna. Tanpa sengaja tasnya menyeret jepitan rambut miliknya yang sebelumnya dia letakkan di atas meja. Jepitan rambut itu kemudian terjatuh ke lantai tepat di samping sepatu Alex. Hal itu tentu saja tidak disadari oleh Anna.
Apa aku bilang? Dia pasti merasa sangat cemburu sekarang. Mendengar nama Carissa saja sudah membuatnya pergi meninggalkan meja, bagaimana nanti kalau mereka bertemu? Mungkin akan terjadi perang dunia ketiga. Batin Alex sambil tersenyum tipis. Entah mengapa dia malah merasa bangga sekarang karena diperebutkan oleh dua putri dari keluarga Harold.
"Kami belum ada rencana untuk ke arah sana," katanya menjawab pertanyaan Aarav barusan.
.
.
Sementara itu, Anna segera menjawab panggilan dari asisten Kay setelah dirinya masuk ke dalam toilet.
"Ada apa? Kenapa kamu menyuruhku untuk menjauh dari presdir?" tanya Anna.
Tentu saja dia meninggalkan meja bukan karena cemburu pada Alex maupun Carissa. Sama sekali tidak seperti yang dipikirkan oleh Alex tentangnya, karena sebenarnya jiwa yang ada di dalam tubuh Anna bukanlah jiwa Anna yang begitu tergila-gila pada Alex, melainkan jiwa milik Bella yang sedikit pun tidak memiliki rasa cinta terhadap atasannya itu. Bella hanya menganggap presdir Huang sebatas atasan saja. Tidak lebih.
"Aku harap kamu tidak akan terkejut setelah mendengar apa yang akan aku sampaikan padamu nanti," jawab Kay. Setahunya, sekretaris Anna tidak tahu kalau dia sedang keluar untuk menjemput kakak perempuan gadis itu di bandara.
"Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan padaku? Kamu membuatku penasaran saja. Apakah ada kaitannya dengan pekerjaan atau tidak, hm?" tanyanya penasaran. Setelah 5 detik menunggu, Kay tidak kunjung menjawab. "Kay, ada apa? Kenapa kamu diam saja?" tanyanya lagi.
"Mm ... Anna, besok malam ...."
"Besok malam kenapa? Cepat katakan katakan, jangan membuatku semakin penasaran, Kay."
__ADS_1
"Mm ... besok malam nona Carissa ingin mengajak kita makan malam bersama," jawab Kay pada akhirnya.
B e r s a m b u n g ...