
"Cih, berani sekali dia mengancamku," gumam Alex sembari menyaksikan Anna diseret pergi oleh dua orang pengawal pribadinya dari balik dinding kaca ruangan.
Begitu Anna hilang dari pandangannya, Alex pun lalu melanjutkan sesi wawancara dengan dua orang kandidat yang tersisa.
"Presdir, saya mohon ijin keluar sebentar, saya baru ingat kalau saya masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan di luar," pamit asisten Kay.
Sebenarnya bukan urusan pekerjaan, tapi karena dia hanya mencari alasan agar bisa mengejar Anna sebelum gadis itu pergi jauh.
Sementara itu di lantai dasar, kedua pengawal pribadi Alex baru saja menyeret Anna keluar dari lift.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Anna seraya berusaha memberontak agar dia bisa segera terlepas dari kedua pria bertubuh besar yang tengah menyeretnya saat ini. Namun, seberapa kuat pun dia meronta, tetap saja kedua pengawal itu tidak melepaskannya.
"Aku bilang lepaskan! Kalian berdua tuli, ya? Aku bilang, aku bisa jalan sendiri!" kesal Anna. Seandainya dia jago beladiri, sudah pasti dia menghajar kedua pria menyebalkan itu hingga babak belur.
"Lepaskan! Kalian berdua menyakiti tanganku, tahu tidak?! Kalau kalian tidak mau melepaskanku, aku akan melaporkan kalian berdua ke polisi!" ancam Anna kemudian, tapi kedua pengawal itu sama sekali tidak bergeming, mereka baru melepaskan Anna ketika mereka sudah berada tepat di depan pintu keluar gedung perkantoran.
"Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan tugas dari presdiri Huang. Permisi," kata salah satu pengawal tersebut sebelum keduanya berlalu dari hadapan Anna.
"Dasar pengawal juelek! Menyebalkan! Jomblo seumur hidup baru tahu rasa!" teriak Anna mengatai kedua pengawal menyebalkan itu.
Ck, presdir Huang benar-benar keterlaluan. Jahat sekali dia pada Anna. Batin Bella dengan kesal seraya mendongak menatap gedung tinggi menjulang tersebut.
Seandainya tidak ada misi yang harus aku selesaikan, sudah pasti aku tidak akan pernah datang lagi ke perusahaan ini, apalagi setelah pemiliknya mempermalukanku dan mengusirku dengan sangat tidak hormat seperti ini. Batin Bella. Dia benar-benar sangat marah, kesal, dan kecewa dengan sikap Alex yang begitu kejam pada Anna.
Duh, tanganku sampai sakit dan merah-merah begini lagi gara-gara dua pengawal menyebalkan itu. Dasar, pengawal sama bos sama-sama menyebalkan. Wahai Alexander Huang, ku buat kau jatuh cinta pada Anna baru tahu rasa kamu.
Karena merasakan kesal yang teramat sangat pada Alex, Bella sampai-sampai berpikir untuk menggunakan hak istimewa yang dia dapatkan dari pencapaian misi sebelumnya untuk membuat Alex jatuh cinta padanya.
Tapi setelah dia pikir-pikir lagi, dia pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. Sekarang ini masih diawal-awal dia menjalankan misi keduanya, baru masuk minggu kedua, masih ada waktu 11 bulan 2 minggu lagi. Tidak ada yang tahu apa saja yang akan dia alami ke depannya. Jangan sampai dikemudian hari dia mengalami kesulitan dan lebih membutuhkan bantuan itu ketimbang saat ini.
Karena percobaan pertamanya untuk dekat dengan Alex gagal, Bella pun memutuskan untuk kembali ke apartemen Anna. Dia ingin pulang agar bisa memikirkan cara lain untuk mendekati pria itu lagi di lain waktu dengan cara yang berbeda. Namun, baru saja Anna beranjak dari tempatnya berdiri, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Nona Anna!"
Anna menoleh. "Asisten Kay?"
Kini asisten Kay sudah berdiri tepat di hadapan Anna. "Nona Anna, Anda baik-baik saja?"
__ADS_1
"Iya, aku tidak apa-apa, Asisten Kay. Kenapa kamu menyusulku?" tanya Anna penasaran.
"Oh, itu ...." Tiba-tiba mata asisten Kay tertuju pada pergelangan tangan Anna yang memerah karena ulah kedua pengawal pribadi Alex.
"Pergelangan tangan Anda memerah, Nona, mau saya bantu belikan salep?" tawar pria tersebut kemudian.
Sebenarnya tujuan utamanya menyusul Anna adalah, karena dia ingin meminta maaf atas perilaku tidak sopan Alex yang sudah menuduh putri bungsu dari keluarga Harold tersebut berbuat curang saat mengikuti seleksi pemilihan sekretaris baru.
"Tidak usah, tidak apa-apa, Asisten Kay. Nanti bekas kemerahan ini juga bisa hilang dengan sendirinya tanpa perlu diobati," tolak Anna sambil tersenyum. "Kalau begitu aku pergi dulu, Asisten Kay, terima kasih banyak untuk hari ini."
"Nona Anna, tunggu!" cegah Asisten Kay ketika melihat Anna hendak berlalu pergi dari hadapannya.
Sontak Anna menghentikan langkahnya saat mendengar asisten Kay menahannya untuk pergi. "Ada apa?" tanyanya.
"Mm ... saya ingin mengajak Anda untuk minum kopi di kafe biasa. Saya ingin membicarakan sesuatu dengan Anda. Apa Anda punya sedikit waktu? Sebentar saja," ucapnya setengah memohon.
Asisten Kay ini sejak dulu memang sangat sopan sekali pada Anna, itu karena dia tahu persis siapa Anna Harold yang sebenarnya.
Anna terdiam sejenak sembari berpikir. Sepertinya ada untungnya juga dia menerima ajakan pria ini. Sekesal apa pun dirinya pada Alex sekarang ini, toh ujung-ujungnya mau tidak mau dia juga harus tetap kembali lagi ke perusahaan itu demi melancarkan pencapaian misi keduanya.
Sepertinya tidak ada salahnya aku mencoba berteman dengan asisten Kay. Karena! dia pasti bisa banyak membantuku ke depannya. Batin Bella.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya juga sudah meminta ijin pada presdir Huang untuk keluar," jawab asisten Kay.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo," ajak Anna.
.
.
Sesampainya di coffe shop terdekat. Asisten Kay langsung memesan kopi dan cake untuk menemani mereka berdua mengobrol.
"Cappucino dua sama cheese cake dua."
"Maaf. Aku pesan americano ice saja sama brownies cake," celetuk Anna meralat pesanan yang dibuat oleh asisten Kay untuknya. Dia itu sebenarnya alergi keju, jadi menolak kue yang dipesankan oleh asisten Kay untuknya.
"Oh, ya sudah. Dia pesan yang lain," kata asisten Kay pada pemilik kedai tersebut. Pria itu nampak sedikit bingung karena Anna meminta menu lain selain yang dia pesan untuk gadis itu.
__ADS_1
Asisten Kay lalu duduk di seberang meja Anna.
"Maaf, tadi saya pikir Nona Anna ingin memesan menu seperti biasanya," ucap asisten Kay sambil tersenyum.
Hah, seperti biasanya? Apakah Anna dan asisten Kay sering minum kopi bersama di tempat ini? Batin Bella.
"Ah ... itu ... aku hanya ingin mencoba menu lain dari tempat ini saja," jawab Anna sambil tersenyum agak dipaksakan.
Sepertinya setelah pulang dari sini, aku harus mencari tahu sedekat apa Anna dan asisten Kay di masa lalu. Batin Bella. Karena semua informasi itu ada di smartphone yang diberikan oleh Dewa Harapan untuknya.
Keduanya pun lalu mengobrol sambil menunggu pesanan mereka siap.
"Nona, saya mewakili presdir Huang meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Anda. Presdir Huang tadi benar-benar sudah sangat keterlaluan menuduh Anda yang bukan-bukan," kata asisten Kay.
Anna tersenyum dipaksakan. "Tidak apa-apa, Asisten Kay. Aku tahu, dari dulu dia memang sangat membenciku."
"Jangan bilang seperti itu, Nona. Presdir Huang sebelumnya tidak pernah sekasar itu pada Anda. Tapi ... tapi semuanya berubah semenjak sekretaris Bella meninggal," ungkap asisten Kay.
"Memangnya apa yang terjadi dengan presdir Huang setelah sekretaris Bella meninggal?" tanya Anna penasaran. Lebih tepatnya Bella yang penasaran. Dia sebenarnya memang sangat penasaran akan hal itu sejak dia mulai menjalani hari-hari barunya sebagai Anna Harold, tentang kehidupan seperti apa yang mantan atasannya itu jalani setelah dirinya tiada.
"Bisa dibilang presdir Huang sangat terpukul dengan kematian sekretaris Bella yang tiba-tiba. Bukan hanya itu, dia juga menjadi sangat sensitif dan gampang marah setelahnya," jelas asisten Kay.
"Oh, ya?" Bella merasa sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Seketika kekesalannya pada Alex menguap begitu saja setelah tahu bahwa mantan atasannya itu ternyata merasa begitu kehilangan sosok dirinya.
"Apa mungkin dia seperti itu karena kehilangan orang yang selalu dia andalkan selama ini?" ucap Anna.
Asisten Kay mengangguk. "Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tapi aku yakin, perasaan itu pasti lebih dari sekedar perasaan kehilangan saja."
"Perasan seperti apa yang kamu maksud, AsistenKay?" tanya Anna dengan tatapan menyelidik.
Menyadari gadis yang ada di hadapannya adalah Anna Harold, gadis yang selama ini mengejar-ngejar sang atasan, asisten Kay pun memutuskan untuk mengakhiri pembahasan. Dia tidak ingin gadis itu cemburu pada orang yang sudah tiada.
"Ah ... lupakan saja, Nona. Silahkan nikmati kopinya, sambil kita membahas sesuatu yang lebih penting dari itu." Asisten Kay mencoba mengalihkan pembicaraan. "Nona Anna, saya tahu Anda sangat menginginkan posisi sekretaris presdir, dan sebagai orang yang menyeleksi ratusan calon kandidat selama 6 bulan terakhir, saya akhirnya bisa merasa tenang setelah bertemu dengan Anda. Menurut saya, Anda satu-satunya orang yang paling tepat menggantikan posisi mendiang sekretaris Bella."
"Tapi bagaimana caranya, Asisten Kay? Bukannya presdir Huang sudah menolakku tadi," tanya Anna. Dalam hati berkata, tidak sia-sia dirinya menerima tawaran pria itu untuk minum kopi bersama, karena sepertinya dia akan mencapai apa yang dia inginkan dengan bantuan pria itu.
Asisten Kay tersenyum. "Tenang saja, Nona, saya punya cara lain."
__ADS_1
"Apa itu?" tanyanya penasaran.
B e r s a m b u n g ...