
Malam hari, Kay baru saja kembali ke apartemennya sendiri. Cukup lama dia berada di apartemen Anna karena mengobrol banyak hal dengan gadis itu. Namun, baru beberapa langkah dia memasuki unitnya, bel unitnya tiba-tiba sudah ada yang menekan dari luar. Setelah dia cek di monitor, rupanya Alex yang datang.
"Tidak ku sangka dia datang secepat ini." Kay tersenyum licik, namun dalam sekejap senyuman itu hilang dan berganti menjadi wajah dingin dan datar.
Ceklek. Kay membuka pintu unitnya tanpa berkata sepatah kata pun. Sementara Alex malah menerobos masuk tanpa dipersilahkan oleh si pemilik unit.
Setelah menutup kembali pintu unitnya dengan rapat, Kay menyusul Alex yang kini sudah duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tajam ke depan, kedua alisnya juga ikut mengkerut. Dari ekspresinya sudah bisa dilihat jelas bahwa suasana hatinya pasti sedang tidak baik.
"Kay, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyetujui surat pengunduran dirimu itu. Jadi jangan pernah bermimpi aku akan mengabulkan keinginanmu itu," kata Alex, sambil menatap Kay yang kini sedang berdiri tidak jauh di sampingnya.
Kay tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Sudah saatnya melancarkan rencana yang sudah dia susun dengan Anna.
"Asalkan kamu mau menyetujui permintaanku waktu itu, untuk menjadikan Anna Harold sebagai sekretarismu, tentu saja aku akan langsung membatalkan niatku untuk mengundurkan diri," kata Kay, sambil ikut menyilangkan kedua tangannya di depan dada tidak mau kalah dari Alex.
Mendengar ucapan Kay, Alex langsung menatap sahabatnya itu dengan tajam. Dia sungguh sangat tidak setuju dengan usulan asistennya tersebut. "Kay, jangan coba-coba mempermainkanku. Kamu tahu 'kan kalau aku sangat membenci gadis itu."
Kay tersenyum penuh arti. "Ya sudah, kalau kamu tetap tidak mau menyetujui usulanku untuk menjadikan Anna Harold sebagai sekretarismu, besok kamu harus menyetujui surat pengunduran diriku. Gampang, 'kan?"
Melihat Kay seolah tidak takut kehilangan pekerjaan sebagai asistennya membuat Alex seketika semakin meradang. Dia tidak ingin kehilangan asisten kompeten dan berbakat seperti Kay, tapi dia juga tidak ingin Anna Harold mengambil keuntungan saat menjadi sekretarisnya nanti. Bisa saja saat menjadi sekretarisnya, Anna akan menggunakan segala cara untuk menggoda dirinya. Alex sangat tidak ingin hal seperti itu terjadi padanya.
"Ya sudah, terserah kamu." Alex langsung bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin harga dirinya terinjak-injak karena terus membujuk Kay yang sepertinya sengaja mempermainkan dirinya.
"Dengar Kaysan Lyndon, jangan lupa untuk membuat surat pengunduran dirimu sebanyak mungkin. Kalau perlu, buat seribu lembar," tambahnya dengan penuh penekanan sebelum akhirnya Alex berjalan menuju pintu keluar unit apartemen Kay dengan perasaan jengkel dan kesal yang teramat sangat.
__ADS_1
"Buat apa aku capek-capek membuat surat pengunduran diri sampai 1000 lembar kalau selembar pun sudah kamu setujui?" ledek Kay sambil tersenyum tipis. Dia yakin Alex pasti hanya menggertak.
Sh***it! Kekesalan Alex semakin bertambah saat mendengar Kay membalas ucapannya. Pria itu pun lalu bergegas meninggalkan unit sahabatnya sambil membanting pintu dengan keras.
BAAM!!!
"Cih, dasar tamu tidak tahu diri," gerutu Kay yang ikut kesal karena kelakuan tidak sopan Alex.
"Makan keras kepalamu itu, Lex. Kita lihat, dalam kurun waktu 3 hari ke depan, kamu pasti akan kembali mengemis-mengemis memintaku untuk kembali bekerja padamu. Aku yakin itu," kata Kay berbicara sendiri.
.
.
Dan benar saja dugaan Kay, bahkan belum sampai 3 hari setelah Kay menyerahkan surat pengunduran dirinya, Alex sudah kembali memohon untuk memintanya kembali bekerja. Dan kini Alex bela-bela menemui Kay di Bali karena mantan asistennya itu langsung terbang ke bali untuk liburan setelah menyerahkan surat pengunduran dirinya 2 hari yang lalu. Kapan lagi Kay bisa liburan seperti ini tanpa perlu pusing memikirkan pekerjaan kalau bukan sekarang.
Alex menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mengiyakan permintaan sahabat sekaligus mantan asistennya itu. Dia benar-benar kewalahan menyelesaikan semua pekerjaan tanpa bantuan dari sosok asisten dan sekretaris. Jadi, mau tidak mau, suka atau pun tidak suka, setuju atau pun tidak setuju, Alex terpaksa harus mengabulkan keinginan Kay untuk menjadikan Anna Harold sebagai sekretaris terbarunya.
"Karena sekarang aku sudah setuju, jadi sekarang juga kamu harus ikut aku terbang kembali ke Jakarta," kata Alex.
"Hais, kenapa kamu cepat sekali berubah pikiran? Aku 'kan masih ingin menikmati liburanku. Kapan lagi aku bisa berlibur dan bersantai seperti ini kalau bukan sekarang?" protes Kay. Dia masih belum rela kembali hanya untuk berkutat dengan pekerjaan kantor yang tiada habisnya.
"Enak sekali kamu mau liburan, sementara pekerjaanmu di kantor sudah sangat menumpuk," kesal Alex.
__ADS_1
.
.
Setelah menempuh perjalanan udara selama hampir 2 jam, jet pribadi yang ditumpangi oleh Alex dan Kay pun akhirnya mendarat dengan selamat di rooftoop gedung Hawei Group. Setelah mereka masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai sekian tempat dimana ruangan presdir Hawei Group berada, Alex langsung memerintahkan Kay untuk memanggil Anna datang ke perusahaan siang itu juga. Tanpa menunggu lama, Kay langsung menjalankan perintah tanpa bantahan sedikit pun.
"Aku benar-benar minta maaf Asisten Kay, tapi aku tidak akan pernah datang ke perusahaan kalau bukan Presdir Huang sendiri yang memintaku secara langsung lalu meminta maaf dengan tulus di hadapanku soal tuduhan tak berdasarnya waktu itu," jawab Anna di ujung telepon sana.
Alex yang mendengar pernyataan itu menggunakan kedua telinganya sendiri secara langsung karena Kay me-loudspeaker panggilannya seketika langsung membulatkan matanya.
Sh***it! Dia pasti sengaja mempermainkanku. Kesal Alex dalam hati. Tapi demi kebaikannya dan demi kebaikan perusahaan ke depannya, Alex terpaksa menurunkan egonya.
"Presdir, nona Anna meminta kita untuk bertemu di Sky Restaurant."
Alex mendengus kasar. "Ya sudah. Kita langsung ke sana sekarang."
Sepertinya mereka berdua bersekongkol untuk mengerjaiku. Batin Alex. Meski pun dia sangat kesal, tapi sebisa mungkin pria itu berusaha untuk menahan diri agar emosinya tidak meledak.
Sementara itu diwaktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda, tepatnya di dalam unit apartemen milik Anna. Gadis itu melompat kegirangan karena rencana yang dia susun bersama Kay akhirnya berhasil juga.
"Lihat saja nanti Alexander Huang, aku tidak akan mau menjadi sekretarismu sebelum kamu merendah dan memohon padaku," gumamnya.
Beberapa saat kemudian, Bella sudah lengkap dengan setelan formal yang membuat sosok Anna terlihat ssmakin anggun dan dewasa, lalu menatap presentase misi keduanya pada layar smartphone yang belum bergeser sedikit pun, yang artinya masih 0% pencapaian.
__ADS_1
"Anna Harold! Lihat! Aku akan membuat angka ini bergerak maju demi kamu!" ucapnya berapi-api sambil tersenyum lebar menatap pantulan wajah cantiknya di depan cermin.
B e r s a m b u n g ...