
Sementara di Rumah Julian, mereka sedang menyambut Laura dengan penuh kehangatan dan kedamaian.
Di kota Mati tempat terjadinya serangan Nuklir dulu, seorang wanita dengan rambut biru sedang di kejar binatang yang berevolusi akibat radiasi Nuklir.
Groarr
Groarr
Bintanga tersebut memiliki gigi tajam seperti harimau, hanya saja mereka berjalan dengan dua kaki seperti T-Rex. Ukuran badannya lebih besar dari manusia, tubuhnya di penuhi dengan duri tajam, dan Kulitnya cukup tebal. Pistol tidak akan bisa menembus kulit mereka.
Wanita tersebut berlari sambil membawa kepala Binatang tersebut, mungkin karena itulah kelompoknya mengejar dia.
"Sialan! Mereka ini tidak mau menyerah juga!" gumam Wanita itu kesal.
Blue Lily, dia tidak di nikahi oleh Julian, sekarang dia bisa di katakan sebagai profesor yang membantu Julian dan Darius. Hobinya yang penasaran dengan sesuatu yang baru, membuat dia sampai di Kota Mati tersebut.
Boomm
Boomm
Blue Lily menembakkan beberapa Bom ke arah mereka, sehingga binatang-binatang tersebut ada yang terhempas.
Namun, Jumlah mereka sangat banyak, sehingga Blue Lily terus di kejar oleh mereka. Jika itu bukan binatang Evolusi genetika, mungkin Lily bisa membantainya dengan mudah.
__ADS_1
Lily juga tidak bisa menggunakan teknik Transparan-nya, karena baunya sudah tercium oleh mereka semua.
Groaaarrr
Bintang Evolusi yang lebih besar muncul di hadapan Lily, sehingga dia terpaksa berhenti dan melawan mereka semua.
Bang
Bang
Perisai Transparan Lily dia lemparkan ke monster-monster tersebut, tapi perisainya tidak tajam, sehingga mereka hanya tersungkur dan bangkit lagi.
"Brengsek! Granat juga habis!" gerutu Lily kesal, karena senjata hanya tinggal senapan Laser saja, yang notabenya hanya bisa menggores para Monster itu.
Ciub
Ciub
"Cepatlah Rafael!" gumam Lily sambil menembaki mereka dan bertahan dengan perisai Transparannya.
Bang
Bang
__ADS_1
Perisai transparan Lily terus di terjang monster-monster tersebut, tapi Lily masih menahannya.
Semakin lama, ketahanan tubuh Lily semakin lemah, sehingga mengakibatkan perisainya juga semakin menipis.
"Bedebah kamu Rafael!" teriak Lily kesal, karena tidak kunjung mendapatkan bantuan juga, padahal dia hampir mencapai batasnya.
Boommm
Boommm
Tiba-tiba saja suara ledakan menghancurkan bagian belakang kelompok Monster tersebut, sontak saja insting Monster mereka yang cerdas langsung menoleh ke atas langit.
Terlihat Alpa dan Teen yang datang membantu Lily, mereka turun sambil menembaki para Monster, hingga mereka semua berlarian kabur, bahkan Monster yang besar juga ikut kabur, karena mereka tahu ada bahaya mendekat.
Lily merebahkan tubuhnya di tanah "sialan kamu Rafael! Aku kira kamu tidak akan menolongku." ucap Lily kesal.
"Posisi kamu sangat jauh, mereka juga sudah terbang dengan kecepatan penuh, lagi pula kamu terlalu nekat datang kemari, bukankah aku sudah bilang, di sini bahaya!" Rafael berbicara menggunakan tubuh Alpa.
"Terserah kamu sajalah, Yang pasti aku mendapatkan bahan uji coba!" Lily beranjak dari berbaringnya, mereka semua kemudian pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka, terlihat orang berkostum ketat, dengan penutup kepala yang menggunakan masker wajah. Memerhatikan kepergian mereka semua, dia menaiki Monster tadi sambil mengelus-elusnya.
Setelah Lily, Alpa dan Teen tidak terlihat, orang tersebut menyuruh Monster itu membawanya pergi dari sana.
__ADS_1