Warisan System Harem

Warisan System Harem
Kasih Sayang Seorang Ibu


__ADS_3

Jacob yang sudah mendapatkan petuah dari Ayahnya, tentu saja sekarang lebih tahu dengan Sistem yang ada dalam tubuhnya. Ia akan berusaha menjadi lebih baik lagi, agar tidak mengecewakan Ayahnya.


"Kamu tidur di sini saja malam ini, Jacob." perintah Julian pada anaknya itu.


"Rencananya juga begitu, Ayah, aku mau mengobrol dengan Ibu." jawab Jacob sambil tersenyum.


"Ya sudah, Ayah mau menemui pamanmu dulu." Julian menepuk bahu anaknya, kemudian pergi meninggalkannya.


Jacob bersender di kursi yang dia duduki, menatap langit-langit paviliun." ternyata Ayah juga dulu seperti aku." gumamnya lirih.


Jacob beranjak dari tempat duduknya, dia kemudian masuk ke dalam Rumah Ayahnya yang megahnya bak istana.


Ketika masuk di berpapasan dengan Sebastian. "Kakek mau kemana?"


"Mau menemui kamu, Kakek melihat Ayahmu sudah pergi tadi." jawab Sebastian tanpa basa-basi.


"Ada apa kek?" tanya Jacob sopan.


Sebastian terlihat menghela napas panjang. "jangan membuat Ibumu khawatir, kamu baru sembuh dari kelainan kamu, dengan kamu yang seperti sekarang, Ibumu jadi kepikiran."


"Jacob tahu Kek, ini Jacob mau bicara dengan Ibu." jawabnya lembut.


"Baguslah kalau begitu, Ibumu ada di kamar." ucap Sebastian seraya pergi meninggalkan cucunya itu.

__ADS_1


Jacob menggelengkan kepalanya, dia tersenyum getir, ternyata karena perubahannya membuat orang-orang terdekatnya khawatir.


Sebenarnya wajar kalau Celia dan Sebastian khawatir, pasalnya Jacob belum tahu mengenai dunia luar, dia saja baru bepergian keluar beberapa hari ini.


Jacob langsung ke kamar Ibunya, dia mengetuk pintu, kemudian masuk setelah Ibunya menyuruh dia masuk.


Jacob duduk di sofa kamar Ibunya. "Bu, apa Ibu marah?" tanya Jacob khawatir.


Celia menggelengkan kepalanya. "Ibu mana bisa marah padamu, kenapa memangnya?"


"Jacob, takut Ibu marah karena perubahan Jacob, maaf yah Bu."


"Kamu ini, Ibu akan mendukung apapun yang ingin kamu lakukan, asalkan itu semua benar."


"Terima kasih yah Bu." Jacob memeluk Ibunya.


"Sama-sama." Celia mengusap punggung anaknya.


Celia memang yang paling mengerti Jacob, di samping dia menjadi sosok seorang Ibu, Celia juga merangkap menjadi teman Jacob, karena dia tahu anaknya itu tidak pandai bergaul.


...***...


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Jacob yang menginap di Rumah Ayahnya, dia bergegas pergi ke Universitas bersama dengan Wan's.


"Tuan muda, kita langsung berangkat atau...." Wan's menghentikan ucapannya.


"Langsung berangkat saja." jawab Jacob singkat.


Wan's mengangguk mengerti, dia melakukan Mobilnya ke Universitas langsung, tanpa mampir ke Rumah Laura seperti biasanya.


Sepanjang perjalanan Jacob hanya menatap kosong keluar jendela. Dia masih memikirkan bagaimana caranya memberitahu Henny tentang keberadaan Laura dan Micel.


Ciittt!


Tiba-tiba Wan's mengerem mendadak, sehingga membuat Jacob terbentur kursi di depannya.


"Astaga, Wan's!" tegur Jacob keras.


"Maaf Tuan, ada keributan di jalan." ucap Wan's menunjukkan kalau di depan memang sedang ada gerombolan anak muda sedang mengerumuni sesuatu.


"Biar saya lihat dulu Tuan muda." Wan's keluar dari Mobil Jacob.


Sementara Jacob menunggu malas di dalam Mobil, lama-lama Jacob penasaran apa yang telah terjadi di depan, akhirnya dia memutuskan untuk turun dari Mobil.


Terdengar dari gerombolan anak muda tersebut yang sedang mengumpat, dan mengucapkan sumpah serapah. Tentu saja Jacob semakin penasaran dengan apa yang terjadi di sana.

__ADS_1


__ADS_2