
Berbeda dengan Darius yang terkejut dengan kedatangan Monster dari kota Mati. Di tempat Blue Lily berada, dia sedang fokus dengan penelitian Binatang Evolusi Kota mati. Lily tentu tidak ingin menjadi beban, oleh Karena itulah dia mencoba untuk berguna buat Julian.
Ketika dia meneliti kepala Binatang Evolusi tersebut, bawahannya Robot ilmuwan menemukan kejanggalan pada Sel Binatang tersebut.
"Nona Lily, sepertinya Binatang ini tidak murni berevolusi sendiri." ucap Robot Ilmuwan yang memang sudah dari kemarin meneliti Binatang tersebut.
Lily mendekat, dia melihat data di Komputer, benar saja ternyata sel yang membuat binatang tersebut berevolusi bukan karena efek radiasi Nuklir, melainkan hasil pencangkokkan sel berbagai Binatang lainnya.
"Bedebah! Siapa lagi yang menggunakan kecerdasannya untuk menghancurkan Bumi lagi?"
Lily tentu saja sangat marah, jika bukan karena Julian yang menyelamatkan Ras manusia. Gara-gara orang seperti mereka, dia yakin Bumi akan hancur dengan sendirinya.
"Aku harus menemui Julian! Ini tidak bisa aku biarkan begitu saja." Lily yakin kalau masalah tersebut sangatlah serius, karen itu dia tidak mau menunda-nunda lagi bertemu dengan Julian.
Lily menyimpan data-data tersebut pada sebuah Flashdisk, dia akan menunjukannya pada Julian dan Darius untuk mencari solusinya.
...***...
Ke esokan harinya, di tempat Julian berada, dia baru bangun dari tidurnya, karena semalaman dia habis bertarung sengit dengan kesepuluh istrinya.
__ADS_1
Terlihat istri-istrinya masih tergolek lemas di ranjang yang ukurannya seluas, pokoknya luas, bayangkan saja seperdelapan lapangan Bola.
Julian tersenyum, dia beranjak bangun dari tempat tidurnya dengan hati-hati, agar mereka semua tidak terbangun.
Tapi saat dia baru menyalakan Ponselnya yang sengaja dia matikan, tiba-tiba saja dering Ponselnya berbunyi, sehingga niat Julian untuk tidak membangunkan para istrinya, mereka semua malah terbangun semuanya.
"Pagi sayang." ucap Julian pada para istrinya.
Semua istri Julian tersenyum, mereka semua juga mengucapkan hal yang sama seperti yang di lakukan Julian.
Julian mengangkat telepon tersebut, dia terlihat sangat serius ketika mendengar orang di seberang telepon mengatakan sesuatu.
"Siapa sayang?" tanya Celia yang sudah bersiap ke kamar mandi.
"Kak Darius, dia menyuruh aku ke laboratorium." jawab Julian jujur tanpa berniat untuk menutupi siapa yang menelponnya sama sekali.
Celia hanya mengangguk, dia kembali melanjutkan aktivitasnya ke kamar mandi, tanpa banyak bertanya pada Julian.
Istri-istri Julian memang tidak pernah melarang Julian melakukan apapun, mereka juga tidak khawatir sama sekali dengan suaminya itu, pasalnya mereka tahu betapa kuatnya Julian.
__ADS_1
Julian ikut mandi bersama Celia, karena dia juga terburu-buru, lagi pula sudah terbiasa mereka mandi bersama.
...***...
Di tempat Darius berada, Lily sudah ada di sana sedang mengobrol perihal penemuannya tentang data Monster yang berevolusi tersebut.
"Kamu serius Lily?" tanya Darius memastikan.
"Tentu saja, ini aku bawa data-datanya." Lily mengeluarkan Flashdisk tempat menyimpan data tersebut.
Darius menghela napas "sebenarnya, kemarin juga Wan's dan Bee juga melawan Monster berevolusi, dia memiliki sayap dan bisa terbang, aku curiga itu juga hasil rekayasa genetika."
"Memiliki sayap dan bisa terbang? Tapi di kota Mati tidak ada yang seperti itu, mereka kebanyakan seperti T-Rex, hanya ukuran mereka saja yang berbeda-beda." tentu saja Lily terkejut, karena ketika dia berada di kota Mati, tidak menemui Monster yang seperti di katakan oleh Darius.
"Aku juga bingung Lily, apa masih ada orang-orang seperti Profesor Zonk lagi?" ucap Darius tidak berdaya.
"Aku juga memiliki pemikiran kesana, tapi aku harap tidak ada lagi orang seperti dia!" Lily masih mengingat jelas, bagaimana dirinya ketika menjadi bahan uji coba, rasanya dia ingin mati saja, karena tidak cuma satu kali, dua kali dia harus merasakan rasa sakit.
Ketika keduanya sedang berbicara serius, Julian datang tergesa-gesa, karena dia juga penasaran dengan penemuan Lily dan Darius.
__ADS_1