
Micel yang melihat Jacob pulang, dia langsung pamit ke ayahnya untuk menemui Jacob, tapi ketika dia sudah sampai di Apartemen Jacob, pintunya baru mau di tutup Wan's.
Micel menahan Wan's agar tidak menutup pintunya. Wan's yang sudah pernah melihat Micel, tentu saja dia menurut, apa lagi Micel pernah berdua di kamar Jacob, jadi dia pikir kalau Micel adalah salah satu wanita Jacob.
"Jacob!" Micel akhirnya memberanikan diri buka suara saat melihat Jacob sedang berpelukan dengan Laura.
Sontak Jacob dan Laura yang sedang berpelukan, mereka berdua terkejut dan langsung menoleh secara bersamaan.
Jacob membelalakan matanya saat melihat Micel yang sedang berdiri di pintu dengan mata berkaca-kaca. Sementara Laura tidak tahu siapa wanita yang ada di pintu itu.
"Kamu jahat, Jacob!" Micel berlari keluar dari Apartemen Jacob.
Jacob berdiri mau mengejarnya, tapi Laura menahannya, dengan mencekal tangan Jacob "dia siapa Jacob?" tanya Laura lirih.
__ADS_1
Jacob bingung mau menjawab apa, dia jadi serba salah, tadi harus menjelaskan masalah Henny dan Laura sudah menerimanya, sekarang Micel tiba-tiba muncul di Apartemen. Jacob benar-benar di buat tidak bisa bernapas lega hari itu.
Jacob akhirnya memilih kembali duduk, dia menghela napas berat sambil memijit pangkal hidungnya.
"Jawab Jacob, siapa dia?" cecar Laura lagi.
"Temanku Laura." Jacob tidak salah, memang hubungannya dengan Micel masih sekedar berteman, meskipun dia sudah melihat tubuh polos Micel.
Jacob mengerutkan keningnya "maksud kamu apa, Laura?"
"Ayolah Jac, semalam kamu di rumah Ibu Henny, sekarang ada wanita lain yang terlihat menyukaimu juga. apa kamu masih mau beralasan?" tanya Laura memastikan.
Sakit? Tentu saja, Laura masih sama dengan wanita lainnya, dia pasti merasakan sakit hati, ketika kekasihnya ternyata memiliki wanita lain, tapi karena Laura sudah melihat Ayah Jacob yang bisa membuat sepuluh istrinya hidup rukun, Laura juga sangat yakin kalau Jacob bisa melakukan hal tersebut.
__ADS_1
Karena itulah Laura mencoba mengerti, apa lagi Celia juga sudah begitu baik padanya dan dia sudah merasa cocok dengan Celia.
"Kejarlah dia Jac, kalau kamu benar-benar ingin menerimanya, tapi bilang padanya, kalau kamu memiliki aku dan Ibu Henny, jangan sembunyikan apapun darinya!" Laura lebih memilih mengalah daripada harus berpisah dengan Jacob.
Sikap Laura mirip dengan Celia dulu yang bisa menerima Julian apa adanya. Celia tidak mempermasalahkan Julian memiliki banyak wanita, baginya hidup dengan Julian sudah cukup untuknya, asalkan wanita yang lain juga mau menerimanya.
Jacob tentu saja sangat senang, karena Laura berpikir seperti itu "terima kasih sayang, aku akan membawa dia kemari dan mengenalkannya padamu."
Jacob mengecup kening Laura, dia kemudian mengejar Micel. Sementara itu Laura di sofa menatap langit-langit "apa kau benar seperti ini? Apakah nanti aku tidak akan terluka?"
Masih ada sedikit rasa takut di benak Laura, mengingat pikiran orang itu berbeda-beda, takutnya dia bisa menerima wanita lain, tapi wanita yang lain malah tidak bisa menerima dirinya.
"Sudahlah, aku yakin Jacob pasti bisa seperti Ayahnya jika benar-benar ingin memiliki banyak wanita di sisinya." ucap Laura meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1