
Julian dan Darius berharap kalau semua yang mereka pikirkan tidak terjadi, tapi dengan munculnya sosok Monster-monster tersebut membuktikan ada orang yang mulai merencanakan sesuatu.
Julian menyuruh para Robot Mutan pulang terlebih dahulu, di samping untuk memperbaiki mereka, Julian juga butuh sampel monster-monster tersebut.
...***...
Sementara itu, Jacob baru pulang dari Rumah Henny, setelah Henny beristirahat. Ketika dia sampai di depan Apartemennya, terlihat Laura yang sedang menunggu dirinya sambil memainkan ponsel, duduk bersender di depan pintu.
"Laura!" tegur Jacob sedikit terkejut.
Laura sontak saja menoleh, dia langsung berdiri ketika melihat kekasihnya itu "Jacob! Kamu kemana saja sih?!" tanya Laura sedikit kesal.
Jacob bingung mau berkata apa, tapi dia mencoba untuk tetap tenang "aku ada urusan tadi."
Laura menatap menyelidik Jacob "urusan apa? Aku mencarimu ke Rumah gak ada, untung saja Ibu memberikan alamat Apartemen kamu!"
Jacob menghela napas "kita bicara di dalam yah."
__ADS_1
Jacob membuka pintu Apartemennya, dia masuk ke dalam, di ikuti dengan Laura yang mengekorinya dari belakang.
Jacob mengajak Laura duduk di sofa, dia memikirkan cara agar Laura tidak curiga dengannya, telah bermalam di Rumah Henny.
"Jelaskan padaku, dari semalam nomor kamu tidak aktif, kamu juga tidak berangkat ke Universitas dan kata Ibu kamu juga tidak ke sana?" Laura mencecar pertanyaan pada Jacob, sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Jacob tersenyum getir, dia bingung ingin bicara apa pada Laura, tidak ada alasan yang tepat untuk menghindari pertanyaan Laura, hingga akhirnya Jacob lebih memilih jujur.
Jacob menghela napas "Aku semala di Rumah Ibu Henny."
"Tapi kamu harusnya jangan mematikan ponsel, aku khawatir denganmu Jacob. Setidaknya beri aku kabar." ucap Laura dengan raut wajah sedih.
Laura tahu kalau Jacob pasti butuh kehangatan, sementara dia tidak pernah berani menawarkan itu. Laura pikir menurutnya wajar Pria kaya seperti Jacob mencari wanita lain.
Jacob melebarkan rahangnya tidak percaya, dia pikir dengan ekspresi Laura yang seperti tadi, dia akan marah besar, tapi siapa yang menyangka kalau Laura ternyata tidak marah sama sekali.
"Kamu tidak marah?" tanya Jacob pongah.
__ADS_1
Laura menggelengkan kepalanya "percuma aku marah juga, bukan? Kamu bukan anak kecil yang bakal menurut kalau di perintah, aku sadar posisiku Jacob, tapi tolong setidaknya beri aku kabar, biar aku tidak khawatir."
Jacob tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar perkataan Laura yang terlihat sudah cinta mati terhadapnya.
Jacob memeluk Laura "maaf, aku tidak bermaksud seperti itu Laura, hanya saja, aku takut kamu bakal marah padaku."
Dalam pelukan Jacob, Laura menggelengkan kepalanya "aku tidak bisa marah denganmu, semua yang kamu lakukan tidak akan aku hentikan, asalkan aku hanya ingin tetap bersamamu."
Perasaan Jacob tersentuh, dia sebenarnya merasa bersalah, tapi apa boleh buat, perasaannya kalah dengan syahwatnya, sehingga dia hanya bisa pasrah dengan ke adaan.
Jacob melepaskan pelukannya, dia menatap wajah sang kekasih "sebagai tanda maafku, bagaimana kalau nanti malam kita makan berdua, terserah kamu mau makan di restoran mana."
Wajah Laura langsung berbinar "kamu serius Jacob?"
Jacob mengangguk "Ya, semua terserah kamu."
Laura langsung memeluk Jacob, tanpa di sadari di pintu Apartemen ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka berdua yang sedang berpelukan.
__ADS_1