
Lily dan yang lainnya tidak menyadari keberadaan orang tersebut, mungkin jika yang di sana Julian akan beda lagi ceritanya.
Julian yang sebenarnya sudah memiliki kekuatan Dewa, pasti dapat merasakannya. Sayangnya Julian sudah tidak memikirkan untuk berpetualang lagi. Dia lebih memilih untuk menyejahterahkan seluruh rakyat di Bumi.
Namun, kenyataannya tidak semudah yang Julian bayangkan, meskipun dia sudah berusaha keras agar bisa menyetabilkan Ekonomi seluruh Dunia, nyatanya masih ada kasta di antara mereka.
Sebenarnya itu semua bukan salah Julian, melainkan karena polah pikir semua orang berbeda-beda, ada yang ingin maju, sehingga dia bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan. Begitupun sebaliknya, mereka yang malas pasti akan berada dalam kalangan bawah.
Takdir juga berperan penting atas mereka yang perjuangkan. Mungkin kehebatan Julian bisa di katakan dia setidaknya sudah mengurangi pengangguran di seluruh Dunia hingga 99%, dengan uang pemberian Sistem, Julian membangun berbagai perusahaan untuk menampung mereka para warga untuk bekerja.
...***...
Lily membawa kepala Monster tersebut ke laboratoriumnya, dia bekerja dengan beberapa Robot ilmuwan buatan Julian.
Lily memang tinggal seorang diri, dia juga menolak untuk tinggal di laboratorium Darius, alasannya dia ingin memuaskan hasratnya sebelum dia menjadi Mutan sebagai ilmuwan yang bisa leluasa melakukan apapun seorang diri.
Julian tidak mau m ngambil resiko, dia akhirnya membuat Robot ilmuwan untuk membantu Lily, sekaligus mengawasinya agar tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Monster-monster Sialan, tau begitu aku membuat senjata tajam dulu!" gerutu Lily sambil meletakkan kepala Monster di meja penelitian.
__ADS_1
"Selamat datang kembali nyonya." Robot ilmuwan memberikan sambutan pada Lily.
"Kamu bedah semuanya dan cari tahu semua sel-selnya, aku mau mandi dulu!" perintah Lily pada Robot ilmuwan.
"Di mengerti Nyonya."
Lily meninggalkan tempat tersebut untuk membersihkan diri, karena tubuhnya penuh dengan peluh dan darah Monster tersebut.
Sementara para Robot ilmuwan saling berkumpul, mereka akan melakukan pembedahan bersama-sama.
...***...
Mobil Jacob berhenti di depan Rumah Laura, mereka berdua keluar Mobil. Jacob langsung menghampiri Laura.
"Ini Rumah kamu, Laura?" tanya Jacob sambil memerhatikan Rumah Laura yang cukup kecil itu.
Laura mengangguk "sangat kecil bukan? Jika di bandingkan dengan Rumah kamu bagaikan langit dan Bumi." ucap Laura tidak berdaya.
"Tidak usah berkata seperti itu, aku juga tidak tinggal di Rumah Ayah." jawab Jacob mencoba merendah.
__ADS_1
"Loh, kenapa? Bukannya kamu tinggal di sana juga?" tanya Laura terkejut, karena mana ada orang yang tidak mau tinggal di istana Julian.
"Adalah alasannya, aku tinggal di Apartemen Diamond Lewis."
Laura menggembungkan pipinya "sama saja kalau begitu, Jacob!"
"Bedalah, aku kan tinggal sendirian." jawab Jacob enteng.
"Ih... maksudnya, sama saja mewahnya, Apartemen Diamond Lewis kan Apartemen nomor satu di Kota ini!" ucap Laura sedikit kesal.
Apartemen yang di tinggali Jacob memang sangat mewah, Jika di bandingkan dengan Rumah Karina, mungkin bisa di bilang sama besarnya, tapi fasilitas di sana jangan di tanya, semuanya nomor Wahid.
"Ya, sudah kamu masuk gih, sudah malam ini." Jacob melihat Arlojinya yang melingkar di tangan kirinya.
Laura mengangguk, dia tanpa permisi mengecup pipi Jacob dan berlari meninggalkannya, Jacob terasa Dejavu sama ketika dia di cium Micel.
"Apa wanita sukanya seperti ini? Di televisi padahal aku melihat berpelukan sambil... Ah sudahlah, apa yang kamu pikirkan Jacob!"
Jacob bergegas masuk Mobil lagi dan menyuruh Wan's kembali ke Apartemen-nya, setidaknya dia sekarang sudah senang karena tidak pingsan di dekat Wanita.
__ADS_1