
Sementara Micel memukuli Jacob, Laura terlihat sangat senang, karena dirinya tidak mau memukul Jacob, jadi lebih baik menggunakan tangan orang lain saja.
"Hahahaha... Pukul terus Micel, Ayo pukul!" Laura malah tertawa terbahak-bahak, sehingga Micel menghentikan pukulannya.
"Kenapa kamu malah tertawa? Bantu dong!" tegur Micel lantang.
Laura menggelengkan kepalanya "aku mana berani memukul anak Taipan nomor satu di dunia itu." ucap Laura sambil tersenyum.
Seketika tubuh Micel merinding, dia baru ingat kalau pria yang sedang di pukulinya adalah anak Taipan terkaya di dunia.
Micel menunduk lemas, dia tidak berani memandang Jacob sama sekali. Setidaknya Micel masih sadar diri, kalau dirinya bukanlah tandingan Jacob.
Jacob menghela napas "sudah marahnya?" tanyanya lembut pada Micel.
Micel melirik Jacob "mau marah lagi takut keluargaku akan di deportasi."
__ADS_1
"Apa-apaan sih kamu ini, mana mungkin aku tega melakukan itu pada keluarga gadisku." Jacob memencet hidung Micel.
Micel tersenyum getir, dia mau senang, tapi posisinya menjadi nomor tiga, sehingga dirinya seperti berdiri dia atas dilema.
"Micel, duduk saja dulu, kita ngobrol baik-baik, aku juga sadar kalau aku tidak bisa menjaga Jacob sendirian." Laura menarik Micel dan menyuruhnya duduk di sofa.
Micel menurut, mereka berdua duduk berdampingan, sementara Jacob duduk di seberang keduanya.
Laura buka suara "sebelum semuanya terlambat dan kehormatanmu di ambil buaya ini, sekarang kamu bisa memilih, mau tetap tinggal atau pergi."
Perkataan Laura sangat menohok Jacob, sehingga pria itu hanya bisa tersenyum getir sambil menghela napas berat.
Micel menghela napas "Laura, kenapa kamu masih mau bertahan dengannya, padahal kamu tahu kalau Jacob memiliki wanita lain?"
"Entahlah, mungkin aku sudah tidak waras, atau mungkin aku percaya kalau Jacob bisa merangkul kita. Jujur aku tidak ingin Jacob seperti Ayahnya, tapi mau bagaimanapun tidak ada buah yang jatuh dari pohonnya, apa lagi dia seorang anak Milyarder, dia bisa mendapatkan segalanya." Laura terlihat tidak berdaya saat mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Tunggu dulu, jangan samakan aku dengan Ayah dong, bukankah itu terlalu berlebihan?" ucap Jacob mengintirupsi kedua wanitanya.
"Apa bedanya, sudah jelas kalau masalah wanita kamu akan seperti dia, buktinya Bu Henny saja yang kepala tiga kamu Embay juga." Laura menatap sinis Jacob.
Glek
Jacob menelan ludah, kata-kata Laura benar-benar membuatnya tidak bisa buka suara lagi, karena dirinya yang baru berumur delapan belas tahun sudah berani meniduri wanita dewasa yang umurnya bisa di katakan dua kali lipat darinya.
"Sekarang terserah padamu Micel." ucap Laura sambil menggenggam tangan calon saudarinya itu.
Micel menghela napas "kalau kamu saja bisa menerima Jacob, aku juga mungkin bisa, tapi aku ingin agar Jacob adil dengan kita."
Laura tersenyum getir, ternyata bukan hanya dirinya yang sudah terperangkap dalam jerat cinta Jacob, Micel juga ternyata sama saja.
"Kamu dengar itu Jacob!" tegur Laura tegas.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tahu, aku akan berusaha bersikap adil dengan kalian."
Jacob tentu saja sangat senang, dengan Micel yang sudah menerimanya, tentu dia sekarang tidak perlu khawatir lagi dengan hubungannya. Sekarang Jacob hanya tinggal memikirkan cara, agar Henny juga bisa menerima mereka berdua.