
Sementara Julian pergi ke Vlasir, sebuah sosok Monster sangat besar muncul di New Island, tempat keluarga Julian berada.
Groaaarr
Boommm
Boommm
Monster tersebut menembakkan bola-bola Api dari mulutnya layaknya naga, hanya dalam hitungan detik kota yang Monster tersebut serang luluh lantak.
Tolong!
Tolong!
Argghh... sakit!
Jeritan-jeritan warga Kota tersebut terdengar, mereka semua berlarian tanpa arah melihat sosok Monster tersebut.
Monster itu terus mengamuk, Militer mulai bergerak, para relawan berusaha menyelamatkan para warga yang panik.
"Semuanya! Pergi ke ruang bawah tanah!" teriak salah satu Relawan.
Ribuan orang berdesakan masuk ke dalam ruang bawah tanah, sementara Monster tersebut masih terus mengamuk.
__ADS_1
Rafael yang sudah mendeteksi keberadaan Monster tersebut, dia mengirim beberapa Robot untuk menahan serangan Monster tersebut.
Para Militer juga sampai dan menembaki Monster tersebut dengan senjata berat.
Booommm
Booommm
Suara tembakan Tank dan jet tempur mengarah ke Monster tersebut, tapi serangan mereka tidak melukai sama sekali tubuh Monster itu.
Monster itu berbalik menyerang dengan bola-bola apinya, beberapa Tank dan jet tempur hancur terkena serangan Monster tersebut.
Boommm
Boommm
"Bedebah! Kalau begini caranya tidak bisa kita menghentikannya!" ucap salah satu prajurit Militer.
"Siapkan peluru Tungsten!" teriak Komandan Militer.
Peluru Tungsten di siapkan di tank dan Jet tempur, para Militer memberondong Monster tersebut dengan Peluru tersebut, sayangnya semua itu sia-sia kulitnya sangat keras.
...***...
__ADS_1
Sementara itu di bawah tanah Rumah Julian berada, semua istri Julian dan anak-anaknya sudah berkumpul di sana.
Mereka semua sedang menonton layar yang menunjukkan monster-monster yang sedang mengamuk di Vlasir dan New Island.
Jacob yang sudah di beritahu oleh Darius untuk membawa keluarga kekasihnya masuk ke dalam Bunker bawah tanah milik Ayahnya, dia masih cemas, karena Laura belum dia selamatkan, sementara Micel, Henny dan Luri sudah dia bawa ke sana.
"Paman, aku harus pergi mencari Laura, tolong buka pintunya." pinta Jacob dengan raut wajah cemas.
"Kamu gila Jacob! Di luar sana bahaya! Laura pasti sudah berkumpul di Bunker kota!" Darius tidak memperbolehkan Jacob keluar.
"Tidak paman, aku ingin memastikan sendiri, kalau Laura baik-baik saja." Jacob benar-benar mengkhawatirkan Laura.
"Jac, pamanmu benar, di luar sangat berbahaya." Celia mencoba menenangkan anaknya.
"Tapi Bu, Laura...." Jacob tidak bisa berkata-kata.
"Dengar baik-baik Jacob, tidak ada yang boleh keluar dari sini, kamu harus mematuhi perintah Ayahmu! Karena hanya dia yang bisa mengendalikan ini semua." ucap Darius memastikan.
Jacob teringat dengan kekuatannya. "apa jika aku sama seperti Ayah, Paman akan membiarkan aku pergi?"
Sontak saja ucapan Jacob membuat semua Istri Julian yang ada di dalam sana terkejut, termasuk Celia. Karena mereka tahu betul bagaimana kekuatan Julian.
"Jac, kamu jangan bercanda, Ayahmu bu...." Darius belum selesai bicara, Jacob sudah melayang ke atas, sehingga membuat dia tertegun.
__ADS_1
Semua istri Julian menutup mulutnya tidak percaya, termasuk Celia yang terkejut karena anaknya memiliki kekuatan seperti Julian.
"Bagaimana Paman? Apa aku boleh pergi?" Jacob menoleh ke arah Ibunya. "Bu, Jacob mau menyelamatkan Laura, bukankah Ibu yang mengatakan kalau aku harus melindungi semua wanitaku, tanpa pilih kasih?" ucap Jacob yang turun dari melayangnya.