Warisan System Harem

Warisan System Harem
Membuka Perasaan


__ADS_3

Di dalam Mobil, Jacob terlihat canggung, dia tidak mau menatap Luri sama sekali, mungkin karena Jacob takut tidak bisa mengontrol dirinya.


Luri buka suara. "Jac, kenapa kamu selama ini selalu membatasi dirimu dengan orang lain?"


Luri selalu memerhatikan Jacob, jadi wajar saja kalau dia tahu Jacob membatasi diri, setiap berpapasan dengan wanita, bahkan pernah sekali dia berpapasan dengannya juga Jacob lebih memilih menghindar.


"Tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin salah pergaulan." Jacob sengaja menjawab dengan sedikit menyinggung Luri.


Benar saja, Luri menundukkan kepalanya, dia merasa kalau Jacob selalu mengingatkan dirinya yang salah pergaulan, setiap malam bersenang-senang di bar. Meskipun dia tidak pernah satu kamar dengan pria, tapi nyatanya kalau di sentuh pria pasti pernah saat mabuk.


"Jac, apa kamu mau menjadi temanku, kalau aku mau berubah?" tanya Luri lirih.

__ADS_1


Jacob menghela napas. "aku mau berteman dengan siapa saja, urusan kamu mau berubah atau tidak, itu tidak ada hubungannya sama sekali denganku, Luri."


"Tapi.... Kamu seolah tidak mau menjadi temanku, aku tahu telah salah memilih teman, tapi jika tidak seperti itu, aku benar-benar kesepian, di rumah tidak ada Ayah dan Ibu, aku setiap hari sendirian karena mereka selalu bekerja, sekalinya pulang mereka langsung tidur, aku tidak tahu harus melampiaskan kekesalanku pada siapa, menurutku hanya ini cara satu-satunya agar aku melupakan kejenuhan ku di rumah, meski hanya sejenak."


Luri terlihat bersedih, dia berbicara jujur pada Jacob, berharap pria yang sedang bersamanya itu bisa mengerti dengan keadaannya.


Benar saja, Jacob terenyuh dengan perkataan Luri, karena dia tahu bagaimana rasanya sendirian, tidak ada teman dan hanya di rumah sendirian.


Jacob memegang dagu Luri, dia mengangkatnya agar pandangan mereka bertemu, tentu saja Luri terkejut, tapi dia tidak menolaknya sama sekali.


Luri menatap pria idamannya itu, tatapan mereka berdua bertemu satu sama lain, Jacob menatap mata biru Luri yang menurutnya begitu indah dengan seksama.

__ADS_1


Jacob kemudian buka suara. "hidup itu sebuah pilihan Luri, kamu mau melangkah maju, atau mau diam di tempat apa malah mundur? Semua pilihan itu ada padamu, terserah kamu mau memilih yang mana?"


Jacob diam sebentar kemudian bicara lagi. "aku juga dulu sama sepertimu dulu, tapi aku memutuskan untuk melangkah maju, aku tidak mau selamanya terbelenggu dengan angan-angan kosong ku, lebih baik aku bergerak dari pada nanti akan ada penyesalan yang datang."


Entah kenapa Jacob seolah mendapatkan sebuah penerangan, kata-katanya begitu manis, sehingga membuat Luri terhipnotis


Terlihat Luri yang mulai berkaca-kaca, baru kali ini ada orang yang mau menasehatinya, apa lagi dia orang yang selama ini sebenarnya ingin dia kejar, tapi karena gengsi dia tidak mau mengejarnya.


Luri langsung memeluk Jacob, dia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya. "Jac, tolong buat aku berubah, aku akan melakukan apapun, aku janji tidak akan pernah bergaul dengan orang-orang yang salah lagi, asalkan kamu mau membantuku."


Jacob tidak mendengarkan perkataan Luri, yang sedang dia rasakan sekarang, bagaimana dua gunung kembar Luri yang menempel di dadanya, pikirannya jauh melayang entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2