
Saat masuk ke dalam Rumah, tentu saja para pelayan keheranan dengan Jacob yang memakai Jas Ayahnya, mereka tidak
tahu apa yang telah terjadi dengan tuan mudanya itu.
Sementara itu, Laura, Micel dan Henny sedang mengobrol dengan semua Ibu Jacob, mereka semua di berikan nasehat agar tidak saling iri satu sama lain.
"Laura, kamu yang nomor satu, harus bisa menengahi yang lain nantinya, kaya Ibu Jacob, walaupun dia terlihat sangat santai, sebenarnya dia yang membuat kami semua akrab." ucap Luhan lembut.
"Benar itu, Celia sudah seperti kakak kami, Meskipun umurnya lebih muda dariku, dia tidak pernah ragu menegurku kalau aku membuat kesalahan." Rachel menimpali.
"Dan kamu Henny, umur kamu yang tertua di antara mereka, kamu harus lebih realistis lagi, seperti kak Rachel." Larisa menegeur ponakannya tersebut.
"Sebenarnya tidak seperti itu juga, kami di sini saling memahami satu sama lain, karena itulah kami bisa hidup berdampingan seperti ini, kalau kalian bisa mengerti satu sama lain, Ibu yakin kelak kalian juga bisa seperti kami." ucap Celia merendahkan diri.
Ketiga wanita Jacob hanya manggut-manggut mengerti, mereka semua tahu kalau para istri Ayah Julian sangatlah dewasa, di antara mereka tidak ada ekspresi saling merendahkan satu sama lain.
"Terima kasih Bu, atas saran kalian, kami juga akan berusaha menjadi yang terbaik untuk Jacob." ucap Laura mewakili teman-temannya.
__ADS_1
Mereka kembali mengobrol, ketegangan ketiga wanita Jacob mulai berangsur-angsur menghilang, mereka bertiga malah senang, ternyata semua Ibu Jacob sangatlah baik.
***
Hari pun sudah mulai malam, Jacob mengajak ketiga wanitanya untuk pulang ke Rumah, mereka semua terlihat menuruti ajakan Jacob, Laura yang biasanya menyindir Jacob pun tampak tenang sekarang.
Jacob berpamitan dengan semua orang tuanya, untuk mengantar ketiga wanitanya pulang ke rumah masing-masing.
Di dalam perjalanan, Jacob merasa ada yang aneh, karena dari tadi ketiga wanitanya mengobrol dengan asyik, padahal waktu berangkat mereka tidak seperti itu.
"Mau bagaimana lagi, bukankah kita nantinya juga akan hidup serumah, ya mulai sekarang harus membiasakan diri." jawab Laura sambil tersenyum.
"Laura benar, lagi pula tidak ada gunanya kita bertengkar, toh kita bisa berbagi giliran untuk bersama kamu." timpal Henny santai.
Jacob tersenyum. "sayang aku tidak membawa Luri ikut, padahal dia bisa mengakrabkan diri dengan kalian."
Perkataan Jacob sontak saja membuat ketiga wanita terkejut, ternyata dia sudah memiliki seorang wanita lagi.
__ADS_1
Mereka bertiga saling menatap dan tersenyum getir, ternyata perkataan salah satu Ibu Jacob benar, kalau nantinya pasti dia akan memiliki wanita yang lain lagi.
"Jac, apa tidak cukup kami bertiga saja?" tanya Henny tidak berdaya.
Jacob menghela napas. "mau bagaimana lagi, aku tiba-tiba saja bertemu dia dan...."
Brakk!!
Jacob belum selesai bicara, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menabrak Mobilnya, Jacob dengan sigap banting setir, sehingga kerusakan mobilnya tidak parah, dan ketiga wanitanya tidak mengalami luka serius.
"Kalian tidak apa-apa?" Jacob melihat ketiga wanitanya.
"Aku tidak apa-apa, cuma luka ringan saja." ucap Laura dan Micel yang mengagguk sama seperti Laura.
"Arhhh... Jacob, kakiku!" Henny terlihat sedang kesakitan, karena kakinya terhimpit Mobil.
"Henny!" Jacob bergegas melepaskan kaki Henny yang terhimpit Mobil.
__ADS_1