Warisan System Harem

Warisan System Harem
Harus Sabar


__ADS_3

Mereka berdua berjalan masuk ke Universitas bersama, terlihat wajah sumringah Laura, saat berjalan bersama dengan kekasihnya itu.


Sesampainya di lorong Universitas, mereka berdua berpapasan dengan Henny, tentu saja Jacob langsung kebingungan.


"Pagi Bu." sapa Laura sopan.


"Pagi juga Laura." Henny memaksakan sebuah senyum, sebenarnya dia sedikit kesal dengan Jacob yang berjalan bersama Laura, apalagi dari kejauhan Jacob terlihat sangat akrab dengan Laura.


Jacob tersenyum getir saat Henny menatapnya dengan tajam, dia tahu kalau wanita yang sudah dia tiduri itu sedang mempertanyakan janjinya.


"Bu, nanti malam ada waktu luang tidak? Aku mau mengajak Ibu ke Rumah Jacob." ucap Laura tiba-tiba.


Tentu saja Jacob terkejut, dia padahal baru merencanakan hal tersebut, tapi Laura sudah mengatakannya terlebih dahulu.


Terlihat Henny yang langsung cemas, dia belum siap menemui Tuan dan Nyonya Lewis, walaupun hubungannya dengan Jacob sudah sampai ranjang, tapi dia pikir masih terlalu awal menemui orang tua Jacob.


"Jangan Khawatir Bu, orang tua Jacob semuanya baik kok, aku juga sudah pernah ke sana sebelumnya."

__ADS_1


Bagai di sambar petir, Henny terkejut dengan pernyataan Laura, jika Laura sudah ke Rumah Jacob, artinya dia memiliki hubungan spesial dengan pria yang dia anggap sebagai kekasihnya itu.


Henny menatap Jacob dengan sedih, dia tidak menyangka akan di bodohi oleh pria yang umurnya separuh dari dirinya.


Jacob menghela napas, mau tidak mau dia harus menjelaskannya, karena Laura sudah bicara terlalu jauh.


"Nanti aku ceritakan semuanya di sana, tidak ada yang akan aku tutupi lagi darimu Henny." Jacob menggenggam tangan Henny.


Henny melepaskan tangan Jacob. "jangan begini di kelas, nanti kita jadi bahan gosip."


"Biarlah, toh kita memang memiliki hubungan." Jacob tidak ragu mengatakan kalau dirinya memiliki hubungan dengannya.


"Tidak usah kaget seperti itu Bu, aku yang nomor satu, Ibu nomor dua." celetuk Laura sambil tersenyum.


Henny mengernyitkan dahi, dia tidak tahu maksud Laura, apa itu nomor satu dan nomor dua. Henny menatap tajam Jacob dia meminta penjelasan pada pria tersebut.


"Nanti malam saja aku jelaskan di Rumah orang tuaku, tidak enak di sini banyak orang." jawab Jacob tidak berdaya.

__ADS_1


Henny menghela napas. "baiklah kalau itu mau kamu."


Henny meninggalkan mereka berdua dengan berbagai pertanyaan di benaknya, dia merasakan akan ada kejutan yang dia terima dari Jacob, entah itu apa.


"mungkin hanya perasaanku saja, sudahlah, aku yakin Jacob bukan pria seperti itu." gumamnya lirih setelah sudah jauh dari Jacob dan Laura.


Sementara itu Jacob langsung menegur Laura. "kenapa kamu jadi seperti ini? Aku butuh waktu Laura, untuk menjelaskan ini semua."


Jacob merasa Laura terlalu berlebihan, seharusnya dia bicara dulu dengannya, jangan asal bicara seperti itu, sehingga rencananya hancur sudah.


"Loh, kenapa? Bukankah itu malah bagus, dengan begitu kamu tidak perlu menjelaskan panjang dan lebar padanya?" Laura menyilangkan tangannya di depan dada sambil melotot.


Tentu saja Jacob tahu maksud Laura, wanita itu hanya ingin memastikan kalau dirinya tidak di bohongi lagi olehnya.


"Iya, iya, aku yang salah." jawab Jacob tidak berdaya.


"Memang kamu yang salah kok!" ucap Laura ketus sambil meninggalkan Jacob.

__ADS_1


Jacob tersenyum getir, nyatanya memiliki banyak hubungan tidak segampang yang dia pikirkan.


__ADS_2