
Celia memegang bahu Jacob. "sejak kapan kamu seperti ini 'nak? Kenapa kamu tidak bilang kepada Ibu?"
"Bu, ceritanya panjang, yang pasti Jacob memiliki kekuatan yang sama seperti Ayah, tolong ijinkan Jacob menjemput Laura." pintanya sambil ambruk di lantai.
Para wanita Jacob menatap haru Prianya itu, ternyata Jacob benar-benar tidak pilih kasih, dia rela mempertaruhkan nyawa demi wanitanya.
Celia memapah Jacob berdiri, meskipun berat, tapi dia sadar dengan adanya Jacob, bisa membantu Julian melawan para Monster tersebut.
"Ibu mengijinkannya, selamatkan Laura dan kembalilah kemari dengan selamat." ucap Celia memaksakan sebuah senyum.
"Celia, kamu yakin?" Darius menegur adik iparnya.
Celia mengangguk mantap. "Jacob sudah dewasa, aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri, Kak."
Darius menghela napas. "Ya sudahlah, bawa ini!" Darius memberikan sebuah senjata yang bisa bisa melahap sebuah gedung hingga tidak tersisa. "gunakan benda itu jika kamu terpojok, itu bisa melahap apapun yang ada di dekatnya, termasuk kamu! Gunakan baik-baik!"
"Baik Paman!" jawab Jacob tegas.
__ADS_1
"Jacob!" para wanita Jacob menghampirinya dan memeluk Prianya itu.
"Aku akan kembali dengan selamat dan membawa Laura kemari, kalian tidak perlu khawatir, oke." ucap Jacob memaksakan sebuah senyum.
Ketiga wanitanya menangis tidak rela, tapi mereka juga tidak bisa egois, karena mau bagaimanapun Laura juga salah satu dari mereka.
Jacob pamit pergi, gerbang sedikit terbuka, Wan's yang selama ini sudah sama Jacob, dia lebih memilih ikut menemani Tuannya tersebut.
Jacob dan Wan's terbang menuju lokasi Laura yang di beritahukan oleh Rafael. Mereka berdua melesat dengan kecepatan penuh.
...***...
Terlihat kondisi di sana sangat tidak kondusif, Laura terdorong dan terlepas dari pegangan Ayah dan Ibunya, dia jatuh terinjak-injak di depan pintu masuk Bunker.
Suara banyak orang membuat teriakan Laura tidak terdengar sama sekali, apa lagi mereka semua dalam keadaan panik, sehingga ingin menyelamatkan nyawanya sendiri.
"Tolong!" teriak Laura yang mau berdiri tapi tidak bisa.
__ADS_1
Seluruh badannya terinjak-injak, kakinya sampai patah, Laura menangis tersedu-sedu di lantai, untung saja jumlah yang menginjak Laura hanya tinggal ratusan orang, tidak kebayang jika ribuan, mungkin dia akan tewas di sana.
Seorang prajurit Militer yang melihat Laura, dia bergegas menolongnya." kamu tidak apa-apa?"
Laura menggeleng, Kedua kakinya patah, tangannya juga patah satu, dia tidak bisa berdiri sama sekali.
Prajurit itu mau membopongnya, membawa masuk ke dalam Bunker, tiba-tiba saja Monster yang seperti Naga itu menembakan bola Api ke arahnya.
"Awas!" teriak prajurit lainnya yang menghindar.
Sementara Prajurit yang sedang berusaha membopong Laura hanya bisa tertegun menatap kedatangan Bola Api tersebut.
Laura juga tidak bisa berkata-kata, rasa sakitnya yang dia rasakan seolah hilang saat melihat Bola Api tersebut yang mengarah padanya.
Jacob, apa aku tidak bisa bahagia? Apa aku memang ditakdirkan menderita dan mati dengan cara seperti ini?
Laura memejamkan matanya dia sudah pasrah jika harus mati di sana, dia berharap di kehidupan selanjutnya bisa menemukan sebuah kebahagiaan, agar dia merasakan apa namanya kesenangan hidup.
__ADS_1
Boooomm