
Jacob beranjak dari tempat di tersungkur, tubuhnya yang bermandikan keringat membuat pakaiannya basah kuyup, dia yang menyadari itu, segera berlari masuk ke dalam Rumah. Namun, karena kecepatannya sudah di naikkan, Jacob tidak bisa mengontrol laju larinya.
Brak
Bugg
"A-du-duh..." Jacob meringis kesakitan saat menabrak dinding, karena tidak bisa mengontrol kecepatan larinya.
Pelayan yang kebetulan sedang lewat mendengar benturan tersebut terkejut, dia bergegas melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaga! Tuan Muda!" Pelayan tersebut bergegas membantu Jacob berdiri.
"Tuan Muda tidak apa-apa?" tanya Pelayan khawatir.
"Ya, aku tidak apa-apa, terima kasih." jawab Jacob sopan.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Tuan Muda." pelayan tersebut meninggalkan Jacob, untuk kembali bekerja.
Jacob menghela napas. "ternyata kecepatan lariku lebih cepat dari biasanya, kalau tahu kaya gini, aku tidak lari tadi."
Jacob melanjutkan pergi ke Kamarnya untuk membersihkan diri, sementara itu di kamar Henny, dia yang sudah selesai membersihkan diri sedang merias diri di depan cermin.
"Senangnya bisa satu Rumah dengan Jacob, lukaku juga sudah sembuh, aku bisa leluasa membantu calon Ibu dan adik-adikku." gumam Henny sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Tok..Tok....
Pintu kamar Henny terdengar ada yang mengetuk, dia beranjak dari duduknya dan melihat siapa yang datang.
Ketika Henny membuka pintu, ternyata Larisa yang sedang berdiri di depan pintu sambil tersenyum.
Larisa terkejut saat melihat Henny membuka pintu sambil berdiri. "Henny! Kamu sudah sembuh?"
Henny tersenyum. "sudah Kak, berkat Jacob."
"Jacob?" beo Larisa.
"Masuk dulu kak, nanti aku jelaskan di dalam, gak enak aku make handuk doang." ucap Henny sopan.
Henny kembali ke Meja riasnya, ia bertanya. "ada apa yah kak?"
"Ini, aku bawakan pakaian untuk kamu, aku tahu kamu kemari tidak membawa banyak pakaian, bukan?" jawab Larisa lembut.
"Oh iya, apa maksudmu bisa sembuh oleh Jacob?" tanya Larisa penasaran.
Henny bingung mau menjawab atau tidak, karena Jacob menyuruhnya untuk tidak memberitahu siapapun soal kekuatannya.
Larisa melihat ada keraguan di raut wajah Henny, dia mendekati Larisa, memegang kedua bahunya dari belakang.
__ADS_1
"Katakan saja, aku janji tidak akan memberitahu siapapun." ucapnya sambil tersenyum.
Henny mendongak menatap Larisa." aku takut Jacob marah Kak."
"Tenang saja, dia tidak akan berani marah dengan Ibu-ibunya kok." jawab Henny memastikan.
Henny menghela napas. "sebenarnya aku juga tidak tahu pasti Kak, tapi setelah Jacob memegang kedua kakiku, tiba-tiba saja ada rasa panas yang menjalar, terus berubah menjadi rasa sakit, setelah rasa sakit itu hilang, aku sembuh seperti dulu lagi, bahkan lukaku saja hilang, lihat ini."
Henny menunjukkan bekas luka himpitan Mobilnya, benar saja Kaki Henny mulus lagi seperti dulu.
Larisa menutup mulutnya tidak percaya, dia teringat dengan kekuatan Julian yang bisa mempercantik para istrinya.
"Astaga! Ternyata Jacob juga sama dengan Ayahnya." ucap Larisa terkejut.
"Maksud Kakak?" tanya Henny penasaran.
Larisa menghela napas. "Suamiku memiliki kekuatan tersembunyi, mungkin Jacob mewarisi kekuatannya, jadi tidak heran kalau dia bisa menyembuhkanmu."
Kepala Henny berdengung, pasalnya dia belum melihat kekuatan Julian, hanya Laura dan Micel yang sudah melihatnya, jadi wajar saja kalau Henny belum mengerti apa maksud dari ucapan Larisa.
Larisa sadar kalau Henny bingung, dia buru-buru buka suara. "sudah, kamu tidak perlu pikirkan itu, yang penting kamu sudah sembuh."
Henny tersenyum, dia menganggukan kepalanya, meskipun rasa penasarannya masih ada, tapi dia tidak berniat bertanya kepada Larisa.
__ADS_1