
Julian mungkin tidak sempat merasakan bahaya yang akan menimpa New Island yang telah dia buat. Namun, Lily sudah mulai menemukan kejanggalan di kota mati.
Rafael juga ikut meneliti bersama dengan Lily setelah dirinya memberitahu Rafael untuk membantu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di kota mati.
Kedamaian yang di inginkan Julian mungkin memang benar terjadi, tapi di balik itu semua pasti ada seseorang yang tidak senang dengan dirinya atau keluarganya.
...***...
Sementara itu, Jacob sudah sampai di rumah Laura. Terlihat wanita cantik itu sudah menunggu Jacob di teras Rumah bersama Ayah dan Ibunya yang memang ingin bertemu dengan Jacob.
Wajah Laura berbinar saat melihat Mobil Jacob berhenti di depan Rumahnya. Berbeda dengan Laura yang terlihat sangat senang menyambut kekasihnya. Orang tua Laura malah terlihat gugup.
"Selamat pagi, Om, Tante." sapa Jacob dengan sopan.
"Pa-Pagi juga, Tuan Muda." jawab Mori gugup.
"Jangan terlalu Formal, Om. Anggap saja aku seperti yang lainnya." ucap Jacob lembut.
__ADS_1
"Benar kata Jacob, Ayah. lagi pula Jacob nanti juga akan menjadi menantu kalian." ucap Laura dengan percaya diri.
Mori dan Maria saling menatap, mereka berdua tersenyum kecut saat mendengar perkataan anaknya yang menurut mereka terlalu frontal itu.
"Ayah, Ibu, Laura berangkat dulu yah?" ucapnya sambil menarik Jacob ke Mobil.
Jacob tersenyum sambil membungkukkan badan "kami berangkat dulu, Om, Tante." ucapnya sopan.
Orang tua Laura hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, mereka berdua tidak tahu harus berkata apa, karena ini pertama kalinya mereka bertemu dengan anak sosok pahlawan New Island. Keduanya masih ragu menyapa Jacob seperti anaknya sendiri.
Jacob dan Laura masuk ke dalam Mobil. Laura membuka kaca Mobil dan melambaikan tangan ke arah orang tuanya sambil tersenyum.
Mobilpun meninggalkan orang tua Laura, dan langsung meluncur ke Universitas tempat Jacob dan Laura menimba ilmu.
Di dalam Mobil, Laura menyenderkan kepalanya di bahu Jacob "rasanya, aku ingin cepat menikah denganmu Jacob."
Jacob tersenyum sambil mengusap puncak kepala kekasihnya itu "kita masih muda, lebih baik pikirkan itu nanti saja."
__ADS_1
Laura mendongak menatap Jacob "apa kamu tidak ingin menikah denganku Jacob? Atau kamu sudah ada yang lain?"
Pertanyaan beruntun Laura membuat Jacob tersenyum getir, dia menghela napas "Laura, menikah itu bukan perkara yang mudah, apa lagi kita masih sama-sama belum memiliki pekerjaan, kita fokus saja dulu dengan studi kita, oke."
Laura tersenyum, dia juga tahu kalau ucapan Jacob benar "Iya, iya, aku tahu kok sayang." ucapnya manja.
Hati Jacob terasa hangat, ini pertama kalinya dia berduan dengan seorang wanita sedekat itu, apa lagi Laura sangat manja terhadapnya.
Tiba-tiba saja, saat mereka berdua sedang berbalas kata-kata manja, Wan's menginjak rem secara mendadak, sehingga keduanya langsung terjungkal ke depan dan terbentur kursi depan Mobil.
Awww!
Pekik keduanya sambil memegangi bagian kepala yang terbentur kursi depan Mobil dengan cukup keras.
"Hati-hati kalau menyetir Wan's!" tegur Jacob dengan suara meninggi, sambil membantu Laura untuk duduk kembali "kamu tidak apa-apa Laura?"
Laura mengangguk "hanya sedikit sakit, paling benjol nanti."
__ADS_1
"Maaf Tuan Muda, Nona, di depan Sepertinya sedang ada kerusuhan." ucap Wan's sambil menatap kedepan.
Sontak saja Jacob dan Laura langsung melihat kedepan. Mereka berdua membelalakan mata karena terkejut.