
Sementara itu di dalam Rumah Laura, dia menutup pintu sambil bersender dan tersenyum-senyum sendiri. Laura sangat senang karena dia bisa bersama dengan Jacob akhirnya. Apa lagi keluarganya tidak menolak dia sama sekali.
"Laura, kamu baru pulang?!" tegur Windi yang masih belum tidur.
"Ibu!" Laura langsung menghampiri Windi dan memeluknya dengan perasaan berbunga.
Windi mengernyitkan dahi, dia tidak tahu anaknya kenapa, tiba-tiba saja pikiran Negatif Windi mencuat "Laura, jangan bilang kamu gila karena di tolak keluarga Jacob?" Windi melepaskan pelukan Laura dan menatap wajah anaknya lekat-lekat.
"Ih... Ibu apa-apaan sih." Laura menggembungkan pipinya, dia sedikit kesal dengan Windi.
"Astaga! Kamu sangat cantik sayang, dan ini baju siapa?" Windi terkejut dengan perubahan Laura.
"Benarkan, coba Ibu tebak siapa yang mendandani Laura dan memberikan baju ini?" Laura tersenyum penuh arti.
"Siapa memangnya?" Windi balik bertanya.
__ADS_1
"Ibu gak asik ih, tapi sudahlah gak papa. Ibu Jacob Bu yang memberikannya untuk Laura." ucap Laura dengan nada sumringah.
Windi tertegun, dia menatap anaknya dengan bingung, bagaimana mungkin keluarga ternama, mau menerima anaknya begitu saja. Windi curiga kalau Laura masih menyembunyikan identitasnya.
"Laura, bukankah Ibu sudah pernah bilang, tidak baik berbohong terlalu lama." ucap Windi tidak berdaya.
"Apaan sih Bu? Laura sudah jujur dengan orang tua Jacob, bahkan tadi yang mengantar Laura pulang Jacob sendiri."
"Hah! Kamu serius, Nak?" tanya Windi terkejut.
Mereka berdua terlarut dalam kesenangan, karena tidak menyangka kalau bisa mendapatkan kabar baik seperti itu, padahal awalnya Windi sudah pesimis kalau Laura pasti bakal di tolak keluarga Lewis, tapi faktanya dia malah di terima mereka.
Sementara Jacob sudah sampai di Apartemennya, dia di kejutkan dengan kehadiran Micel yang sedang duduk di dekat pintu Apartemennya.
"Astaga Micel! Apa yang kamu lakukan di sini?" tegur Jacob yang langsung membuat Micel menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Micel tersenyum, dia beranjak dari duduknya "aku menunggu kamu, awalnya mau mengajak kamu jalan, eh... kamunya tidak ada, mau pulang lagi jauh, jadi aku menunggu saja di sini, tapi ternyata kamu malah pulang lama."
Micel memang berniat mengajak Jack jalan, bodohnya dia waktu mengirimkan pesanan Jacob tidak membuat Janji dan meminta Nomornya, dia maen langsung datang saja, hingga dia berakhir menunggu di sana.
Jacob menghela napas "aku ada acara keluarga tadi, jadi kamu mau aku antar pulang atau bagaimana?"
"Emmm...." Micel menggigit bibir bawahnya "kalau boleh aku mau menginap saja, Jacob." ucap Micel malu-malu.
"Me-Menginap?" Jacob terkejut.
Micel menganggukkan kepalanya, Jacob bingung mau menjawab apa, mau menolak, tapi ini kesempatan langka untuk menjadi pria seutuhnya, apa lagi dari gelagat Micel, dia sepertinya sudah membulatkan tekad untuk bersama dirinya.
Jacob menghirup napas dalam-dalam, dia kemudian membuangnya "baiklah, ayo masuk, di dalam juga ada beberapa kamar."
Jacob mempersilahkan Micel masuk ke dalam kamarnya. Micel dengan ragu-ragu masuk ke dalam, karena dia juga sadar akan masuk ke dalam kandang buaya.
__ADS_1
Micel melakukan hal yang sama seperti Jacob sebelum masuk ke dalam Apartemen. Karena dia mau tidak mau harus menerima apapun yang akan terjadi di sana nantinya.