When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Hati siapakah ini?


__ADS_3

Aku tidak mengira akan menjadi seperti ini jadinya saat seseorang memaksa memasuki kehidupanku. Awalnya aku kira hanya sebatas seorang tuan kepada pelayannya. Walaupun aku isteri sahnya, aku tidak pernah berfikir, dia memasuki hatiku. Membuatku tak berdaya akan rasa cinta ini.


Tiga hari berlalu tanpa dirinya, itu sangat sulit. Berkali-kali aku coba menekan rasa ini, namun itu terlalu sulit. Bahkan rasa sakit itu datang lagi manakala aku mengingat kejadian di mana dia berkata aku ini miliknya.


" Nona, makanlah dulu. Jangan siksa tubuh Anda, Nona. Apa yang akan kami katakan pada tuan, jika Nona tidak mau memakan makanan." ucap pelayan muda bernama Ning. Selain ia masih muda, ia di percaya sebagai pelayan tetapku oleh Alvin. Bukankah ia baik? Ooh, tentu saja.


" Tidak! Aku tidak lapar. Kamu makan saja makanan itu. Lalu bilang pada tuanmu, bahwa aku sudah makan." jawabku menolak. Segera kutepiskan makanan yang Ning bawa dari hadapanku.


" Tapi Nona, Anda bisa sakit." Ning merayu sedikit memaksa.


" Ning, tinggalkan aku sendiri. Jika dengan mengingat tuanmu, bisa membuat perutku kenyang. Maka apa yang harus aku makan?" ujarku, lirih. Sendu, sedih.


Air mata apa ini? Seharusnya tidak boleh keluar tanpa aku beri kode. Bisa-bisa Ning mengadu pada tuannya.


Oh Cinta ...


Mengapa sesakit ini ketika di tinggalkan? Mengapa sakitnya bagaikan di remuk tulangku.


Dadaku ...


Mengapa ini sakit sekali. Bisakah cinta itu pergi sekarang juga? Tolong, siapa pun itu. Tolong aku! Aku sedang tidak berdaya karena cinta.


Ning tahu aku sedang berduka. Ning tahu aku isterinya mulai menyukai tuannya. Ning tahu berapa kali ia memergoki diriku menangis. Ning tahu tuannya berkali-kali marah padanya karena mendengar pengaduannya tentang diriku.


Oh Tuhan ...


Ini bukanlah mauku.


Bukan mau hatiku.


Ini hanya sekedar pengharapan cinta.


Cinta yang datang dan menyapa, lalu pergi lagi.


🍁🍁🍁


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Satu minggu sudah aku di tinggal olehnya. Selama satu minggu itu, aku merasa rindu yang berlebih padanya.


Kini hatiku mulai menerima keadaan buruknya. Fisik cacatnya. Lalu apa kekurangannya sehingga aku membencinya? Tidak ada bukan?


Hari ini pun ia tidak kunjung datang. Di mana Alvin saat ini? Kenapa, kenapa, kenapaaaa?


Hingga malam tiba, di saat aku sedang ingin tertidur pulas. Namun, masih kurasakan kehadiran seseorang. Seseorang itu berdiri di hadapanku. Memakai baju biasa, di balut jaket kulit berwarna cokelat.

__ADS_1


Mataku terbelalak. Seseorang itu tersenyum padaku. Menatapku dengan perasaan menggebu-gebu. Gila! Dia seperti ingin menerkam diriku.


" Siapa kamu?!" tanyaku, dengan wajah panik bukan main. Seseorang itu hanya tersenyum.


" Tolong, jangan macam-macam di rumah ini, Tuan! Saya bisa berteriak, dan Anda tidak akan selamat dari para pengawal yang ada di rumah ini!" ujarku, mengancam.


Lebih gilanya lagi. Seseorang itu hanya tersenyum. Sambil memperhatikan seluruh tubuhku. Yang hanya berbalut piyama, dengan bentuk leher baju yang memperlihatkan sebagian dada. Aku tutup bagian dadaku menggunakan selimut. Lalu aku bergerak cepat menghindar darinya.


Namun, pergerakanku tidak kalah cepat darinya. Ia menangkapku, lalu menggendongku ke dalam kamar mandi. Setelah itu, seseorang yang gila tadi menjatuhkan tubuhku ke dalam bak mandi yang penuh berisi air.


Seluruh tubuhku basah karenanya.


Gila!


Ia benar-benar gila.


Oh Tuhan! Di mana tuan Alvin berada?! Aku takut dengan seseorang ini.


" Siapa Anda, Tuan? Kenapa Anda berbuat keji padaku? Apa salahku padamu?" rintihku memohon. Lagi-lagi, pria itu hanya tersenyum.


Pria gila yang kini berada di hadapanku, memasuki bak mandi. Dia mendekatiku, kemudian memeluk tubuhku. Aku berontak. Menjerit, memanggil nama Alvin.


Namun, seberapa kuat aku berontak, tenagaku tak cukup kuat untuk bisa terlepas darinya.


" Kau milikku." bisiknya di telingaku.


Suara itu, kata-kata itu. Siapa pria yang sedang memelukku?


" Siapa Anda, Tuan?" aku bertanya. Ia melepaskan pelukannya. Lalu menatapku.


" Aku ini suamimu, yang kau sebut Tuan Alvin si buruk rupa." ucapnya. Bak petir di siang bolong, pengakuannya membuat aku terkejut. Bagaimana mungkin pria tampan dan gagah yang berada di hadapanku saat ini adalah tuan Alvin Media Utomo.


Lalu, kejutan yang ia janjikan padaku apa? Apa ini kejutannya?


Aku meraih wajah pria gila itu yang mengaku sebagai Alvin. Menatap wajahnya. Menyusuri lekukan wajah pria itu. Menatap matanya.


' Mata itu. Mata tidak akan pernah berubah jika memang benar sosok pria gila itu adalah Alvin. Aku mengenalnya'.


" Anda, Tuan ...?" tanyaku penuh keyakinan.


" Hem, ini aku tuanmu, suamimu Alvin."


Suara itu. Iya, aku kenal sekarang. Pria gila itu adalah Alvin.

__ADS_1


Lalu bagaimana mungkin bisa? Dia kan buruk rupa?


" Tuan, ini kah kejutan yang kau janjikan itu?" tanyaku, tak percaya. Benar-benar tak percaya.


" Iya, inilah kejutannya. Aku sudah mengatakan padamu, bukan?"


" Kenapa tuan? Kenapa Anda lakukan ini?"


" Aku hanya ingin membuatmu merasakan hidup bersama seorang pria normal, bukan pria cacat yang buruk rupa."


" Tapi, Tuan. Aku tidak merasa keberatan jika memiliki suami cacat seperti Anda. Aku menyukai Anda apa adanya."


" Lalu, kamu tidak suka dengan kejutanku ini, hem?" tanyanya. Kedua tangannya melingkar di pinggangku. Dia mendekap tubuhku.


" Aku, aku suka tuan. Bahkan dengan wajahmu yang seperti kemarin pun, aku tetap menyukaimu." jawabku lirih. Kutundukkan pandanganku. Aku menangis.


" Aku tahu, Daisy sayang. Aku tahu itu. Bahkan, aku sedih bila Ning mengadu padaku, kalau kamu tidak pernah menyentuh makanan yang di sediakan Ning. Kau menolaknya. Bagaimana jika kau sakit? Apa kau tidak merasakan perasaanku jika aku tahu kau seperti itu?" Alvin berkata. Beberapa kali ia menyentil hidungku. Sakit, namun tak aku rasakan.


Aku diam dalam kesedihan. Ia pun sama.


" Maafkan aku tuan. Aku terlalu lemah jika menyangkut perasaan hati." ucapku, lemah.


" Kau mencintaiku, hem?"


Aku diam.


" Daisy, jangan sampai aku mengulang kata-kataku lagi. Benarkah kau mencintaiku sampai sedalam itu?" pertanyaannya sungguh membuat hatiku bertambah sedih.


Tanpa mengatakan apapun, aku langsung memeluk tubuhnya, erat. Memeluknya hingga ia bisa merasakan hangatnya cinta yang hadir di dalam hati, jiwa dan ragaku.


" Mulai hari ini, panggil aku dengan sebutan suamiku. Dan aku akan memanggilmu isteriku." ucap Alvin, memerintah.


" Tapi tuan,"


" Tak ada penolakan, kau harus memanggilku apa?"


" Suamiku,"


" Iya, apa isteriku sayang." Alvin menyahut. Hem, rupanya ini jebakan batman untukku, sialan.


Alvin tertawa. Untuk saat ini kubiarkan dia tertawa. Melihatnya tertawa seperti itu, membuatku bahagia. Bukankah itu cinta? Bahagia walau hanya dengan melihatnya tersenyum dan tertawa bahagia.


Bersambung ...

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2