
Alvin mendekapku dengan erat, setelah kami melakukan hal itu di pagi hari. Ia merasakan kepuasan di saat melakukannya. Aku pun bingung sendiri, ada apa dengan Alvinku pagi ini. Dia pulang cepat dan ingin aku memenuhi kewajiban sebagai isteri. Biarlah tak masalah, karena aku pun sangat ingin memiliki keturunan darinya. Setelah aku mengalami keguguran yang sangat fatal satu bulan yang lalu.
Alvin tertidur pulas, dan masih memelukku dengan erat. Ia menelusupkan wajahnya ke dalam tengkuk leherku. Seperti anak bayi yang sedang mencari kehangatan dari ibunya.
" Suamiku, ayo bangun! Bukankah kamu ada rapat hari ini?" aku berkata, seraya membalikkan badan dan menatapnya saat sedang tertidur.
" Aku lagi malas bekerja. Soal rapat, aku sudah menyerahkan semua pada Dave. Dave pasti bisa melakukannya." jawab Alvin dengan suara yang hampir serak, karena baru bangun dari tidurnya.
" Terus, seharian mau begini aja gitu? Tidak inginkah suamiku yang tampan ini bangun gitu?" sindirku.
" Aku capek, aku mau istirahat sayang." Alvin tetap pada pendiriannya.
" Hem, ya sudah. Aku mau bangun dulu boleh kan?"
" Tolong, tetaplah bersamaku. Aku ingin seharian ini memelukmu."
" Baiklah, aku tidak akan beranjak kemana-mana." aku menyambut pelukannya, hingga beberapa menit berlalu dan aku mulai bosan juga karena seharian berada di kamar, menemani suamiku tidur.
" Sayang, aku ingin pergi ke kamar mandi, bolehkan?" aku berkata, meminta ijinnya untuk ke kamar mandi. Mungkin sebagian istri merasa kalau aku selebai itu. Meminta ijin pada suami saat hendak ke kamar mandi. Tapi, bagiku, meminta ijin saat ke kamar mandipun itu harus. Bagaimana kalau suami tidak mengijinkan aku ke sana?
" Sayang, bolehkah aku ke kamar ...," belum selesai aku berbicara, telunjuk Alvin sudah berada tepat di bibirku.
" Sssst ...! Tetaplah di sini. Temani aku tidur." sahutnya, terdengar suara serak dari tenggorokannya.
Aku mengernyitkan dahi, " Sampai kapan?" tanyaku kemudian.
" Sampai kamu di nyatakan positif hamil," ujarnya datar, dengan wajah yang di benamkannya ke tengkuk leherku. Lagi.
" Sayang," aku berkata lembut dengan suara sedikit di naikkan nadanya. Terdengar kesal.
Alvin mendongakkan kepalanya, hingga wajahnya terlihat oleh mataku. Kedua matanya menyipit mendengar aku memanggilnya namun, suaraku seperti kesal.
" Kamu kesal?" tanyanya sambil mengecup rambutku berulang-ulang.
" Ya." jawabku singkat.
__ADS_1
Alvin menghela nafasnya, lalu menghembuskannya perlahan.
Lalu melepaskan pelukannya dan membiarkanku pergi menuju kamar mandi.
Diam.
Hening.
Tak ada suara.
Seketika fikiran Alvin mulai memutar. Memikirkan sesuatu yang terjadi di kamar mandi. Dave sempat bercerita saat aku jatuh dan pingsan di kamar mandi, sehingga aku keguguran karenanya. Dengan segera rasa di fikirannya berubah menjadi kepanikan. Ia panik dan takut terjadi lagi padaku.
Alvin bangkit kemudian menggedor-gedor pintu kamar mandi. Berkali-kali ia menggedor. Tak ada suara langkah kaki dari dalam kamar mandi dan segera membuka pintunya. Malah terdengar suara kucuran air yang jatuh ke lantai. Itu artinya air keran tidak di tutup lagi.
Sedang apa dia di dalam kamar mandi? Apa dia baik-baik saja? Apa yang terjadi di dalam?' Alvin merasakan cemas yang berlebihan.
" Daisy! Buka pintunya!!! Apa kamu baik-baik saja di dalam, hah?!!" suara Alvin jelas terdengar. Lantang.
Ia berusaha menggedornya berkali-kali. Nihil. Tidak ada sahutan dariku. Tambah paniklah ia.
Aku duduk termenung. Memikirkan sesuatu yang sepertinya sepele, namun bisa menjadi masalah besar bagiku.
Betapa tidak, aku takut jika Alvin pasti akan marah saat ia tahu aku tengah kedatangan tamu. Tamu khusus bagi wanita subur sepertiku. Lalu masalahnya di mana?
Bukankah setiap wanita pasti mengalami hal itu? Bukankah sudah menjadi hal yang rutin dilakukan untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam rahimku? Itu tandanya aku masih subur. Lalu kenapa? Apa yang harus aku takutkan?
Kemarin dan sekarang itu berbeda, ferguso! Kemarin, sewaktu aku masih baru menjadi istrinya, selama beberapa bulan ke belakang, Alvin dan aku selalu menjaga jarak. Dan ia tidak pernah tahu, aku datang bulan atau tidak. Tapi, kalau sekarang. Kami pernah melakukannya, dan ia mengharapkan sesuatu dariku, yaitu seorang anak. Jadi, dengan adanya tamu bulanan ini, gagal sudah aku berharap lebih dari sekedar itu.
" Sayang! Buka pintunya! Kalau kamu tidak membukanya, terpaksa pintu kamar mandi aku dobrak! Dan tidak usah di pasang pintu lagi, untuk kamar mandi!" Alvin berteriak, setengah mengancam. Apa? Setengah mengancam? Bukan! Bukan setengah lagi, tapi ini sudah menekankan.
" Ya," aku menyahut dari dalam. Menutup keran yang terus mengalirkan air, hingga tak terdengar lagi suara air mengalir.
Tak lama kemudian, aku membuka pintu kamar mandi. Berdiri di hadapannya, dengan wajah tertunduk seperti orang yang sedang melakukan kesalahan.
Alvin menangkap gelagat aneh dari mata indahku berwarna cokelat terang yang sedang kutundukkan.
__ADS_1
" Ada apa? Apa yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Alvin, lembut. Ia meraih dagu agar bisa menatap mataku lekat.
Aku berdiri mematung. Hanya diam dan tak tahu harus berbuat apa. Mengatakan sesuatu yang mungkin akan menjadi perdebatan sengit nantinya.
" Daisy, ada apa? Kenapa kamu diam?" lagi. Alvin bertanya lagi padaku.
Dia mencengkeram kuat pundakku. Seperti ingin menelanku hidup-hidup. Aku takut. Terbayang di ingatanku bagaimana ia menghajar habis-habisan tubuh Gashton saat kejadian aku di culik.
" Jangan membuatku mengulang pertanyaan yang sama! Kau pahamkan itu?!!!" ia mulai kehilangan kesabaran. Marah.
Lalu apa yang harus ku katakan padanya? Apa aku harus jujur mengatakan kalau aku sedang datang bulan? Oooh tidak! Bisa gawat nanti.
🍁🍁🍁
" Aku sedang datang bulan, sayang." kataku, dengan suara pelan dan tidak ingin terdengar olehnya.
Bukan Alvin namanya, jika suara sekecil apapun ia tidak bisa mendengarnya. Telinganya telah di rancang oleh Tuhan dengan sangat rinci, sehingga bisa mendengar suara apapun, sekecil apapun.
" Datang bulan? Apa itu datang bulan? Bulan siapa? Laki-laki ataukah perempuan? Mana wujudnya? Tunjukkan padaku!!!" Alvin mencengkeram pundakku semakin lama semakin keras, menekan. Aku meringis menahan sakit.
Sumpah, baru kali ini mengatakan hal itu tapi seperti masalah besar dan nyawa taruhannya. Aku semakin takut melihat kedua netra Alvin saat sedang marah.
" Aku ingin memakai pembalut dulu." sahutku, menepis kedua tangan Alvin yang kuat mencengkeram pundakku. Kemudian berlalu meninggalkannya, menuju lemari pakaian.
Aku mencari-cari sisa pembalut yang aku simpan di laci khusus agar Alvin tidak menemukannya. Namun, kenapa tidak ada? Perasaan pembalutnya masih banyak. Seingatku itu loh ya? Ada dua pack lagi.
Alvin menatapku, dia tampak terlihat bingung saat aku berkata ingin memakai pembalut.
" Kau sedang mencari apa?!" tanyanya geram.
" Pembalut sayang. Seingatku pembalutnya masih banyak. Aku taruh di laci lemari yang ini, tapi kenapa sekarang tidak ada?" jawabku sambil mencari di seluruh laci dan nakas yang berada di dalam kamar.
" Bentuknya seperti apa?" tanyanya mulai bingung.
Oh My God!!! Masa dia tidak tahu apa itu pembalut dan bentuk dari pembalut. Selama ini dia ngapain aja? AaaaaaaaaaaRgh, Alviiiin kau lucu sekali.
__ADS_1
🍁🍁🍁