
Di detik ini, aku menyadari ada yang aneh pada diriku. Bukan, bukan karena wajah dan fisikku yang tampak aneh di mataku. Namun, ada yang aneh menggelitik hatiku saat Daisy masuk dalam kehidupanku sekaligus menjadi istriku.
Awalnya, akan kuanggap ia seperti adikku sendiri. Karena memang aku tidak akan pernah mau membuka hati untuk siapapun. Sejak tunanganku, Mawar memutuskan hubungan denganku sepihak.
Tak ada lagi cinta di hatiku saat ini. Bagiku semua wanita itu sama, tak ada bedanya. Tetapi, Daisy sangatlah berbeda.
Aku juga menangkap aura negatif pada keluarganya. Terutama paman dan bibinya itu. Terlihat kejam dan sama sekali tidak punya empati sedikitpun pada Daisy.
Mereka memohon pada ayahku, yang rupanya saat itu mengenal paman Ben. Dia rekan kerja bisnis ayahku.
Kini, ketika Daisy memasuki kehidupanku. Hatiku telah terkurung di hatinya. Sama seperti hatinya yang terkurung di dalam hatiku.
" Bagaimana tuan Alvin, apa anda siap menjalani test berikutnya? Kondisi tubuh Anda saat ini sudah diatas normal loh." ucap Dokter Frans. Ia mengamati hasil test lab milikku.
Aku yang masih bimbang, berfikir antara iya dan tidak untuk melakukan operasi wajah dan belajar berjalan lagi. Menurut Frans, dokter pribadi yang menanganiku dari awal kecelakaan naas itu terjadi, hingga hari ini. Keadaan tubuhku sudah normal. Ada harapan baru untuk bisa kembali normal tanpa alat bantu. Akan tetapi, aku masih enggan melakukan itu. Aku sudah terbiasa juga dengan kehidupanku sekarang, aku yang cacat dan aku yang buruk rupa.
Bahkan tunanganku, pun pergi begitu saja memutuskan pertunangan denganku hanya karena wajahku yang jelek dan fisikku yang cacat. Hingga pada akhirnya, wanita lugu itu datang dan hadir mengisi kekosongan hatiku. Yang mau menerima aku apa adanya. Dan juga wanita yang penurut.
Ia adalah Daisy. Gadis lugu yang berasal dari keluarga desa terpandang di kampungnya. Daisy, yang setiap hari mendapatkan siksaan dari paman dan bibinya. Di jadikannya seperti pembantu, mendapat perlakuan dari kedua sepupunya. Sungguh tragis.
Namun, saat ayahku mengatakan padaku akan ada seseorang yang bersedia menjadi pendamping hidupku, menerima kekuranganku, baik buruknya diriku. Aku menerimanya. Kutelusuri kehidupannya. Hingga aku merasa kasihan padanya, dan akhirnya kami menikah.
🍁🍁🍁
" Dokter Frans, tolong atur jadwal untuk operasi wajahku. Dan jadwal terapi berjalan untuk kakiku. Aku telah siap hari ini." kataku, saat itu pada Dokter Frans.
Kulihat, dokter Frans terkejut dan hanya menganggukkan kepalanya. Tidak ingin mengatakan apapun padaku.
" Baiklah, bagaimana kalau besok lusa? Akan aku datangkan dokter bedah terbaik dari luar negeri. Semuanya bisa di atur asal ada biaya lebih." ujarnya, nyeleneh.
" Itu soal mudah, Dokter gila! Jangan fikirkan biayanya. Aku sanggup membeli apapun dengan uangku. Kau pun tahu itu, siapa aku hem?" kataku, sengit.
" Aku bisa melakukan apapun hanya dengan satu jentikkan saja, maka Dhuaaaarrrr...!!!" aku menimpali ucapanku. Dengan tatapan sinis, dan senyuman kecil di bibirku.
Kulihat, dokter Frans mulai menciut nyalinya saat kukatakan seperti itu padanya. Dia pasti tahu, kenapa aku bisa seperti ini. Dan dia juga tahu, aku ini pemimpin dari sebuah misi rahasia. Aku seorang Mafia.
" Baiklah tuan muda yang sok kaya, hari ini aku akan menghubungi dokter ahli bedah dari korea. Mudah-mudahan dia ada jadwal kosong. Dan untuk masalah terapi, besok anda datang lagi ke klinik. Kita akan mulai belajar berjalan untuk kesembuhan kaki anda." Dokter Frans berkata.
" Oh iya, aku heran kenapa Anda ingin menjadi normal kembali? Bukankah Anda sudah tidak ingin normal?" sambung Dokter Frans, kemudian bertanya.
" Aku ingin memberikan kejutan pada isteriku. Itu saja." jawabku singkat.
" Wah, aku jadi ingin tahu wanita seperti apa yang mampu merubah pendirian sang Mafia yang sekarang berada di hadapanku ini." ucapnya sambil tertawa.
Mendengar ucapannya yang konyol itu, aku langsung geram. Tanganku mengepal. Jika saja Dave ada di ruangan ini, tentu saja sudah menampar mulut rombeng dokter Frans.
" Jangan pernah mencampuri urusan yang bukan menjadi urusanmu. Saat ini fokuslah pada pekerjaanmu. Jika Anda ingin tetap tenang menghadapi hari-hari di kehidupan Anda berikutnya." tuturku, semoga saja dokter gila itu waras sehingga tidak akan berniat ikut campur untuk mengetahui siapa Daisy.
" Oke, baiklah. Aku tidak akan mencampuri urusan Anda tuan muda. Aku akan fokus pada pekerjaanku saat ini." ujarnya terkekeh.
" Ya, itu lebih baik. Oke, aku pergi dulu. Kuharap besok aku sudah mendengar berita baik darimu, Frans."
__ADS_1
" Ya, aku akan menghubungimu jika dokter bedah dari korea sudah bersedia untuk datang ke indonesia."
Aku mengangguk. Kemudian, pergi meninggalkan dokter gila itu di ruangannya.
🍁🍁🍁
Jadwal operasi bedah wajah sudah di tentukan. Seharusnya jadwal itu dilakukan tiga hari yang akan datang, malah dilakukan keesokan harinya.
[Tuan, jadwal operasi bedah wajah sudah di jadwalkan besok. Saya harap tuan sudah mempersiapkan semua keperluan selama kita pergi satu minggu ke depan]. Dave mengirimkan pesan padaku. Bimbang rasanya aku pergi. Berat sekali meninggalkan Daisy di rumah. Ingin mengajaknya serta untuk ikut bersamaku, tapi aku ingin membuatkan kejutan untuknya.
Hari berganti hari. Di mana aku sedang melakukan operasi bedah wajah. Ada rasa berdebar dalam hatiku. Aku takut operasi ini akan gagal.
" Tuan, jangan terlalu tegang. Rileks saja, berdoalah agar operasi ini berjalan lancar." Frans berkata, sambil menyiapkan alat-alat yang akan di gunakan saat operasi berlangsung.
Aku mengangguk. Tak lama kemudian, aku tak ingat apa-apa lagi. Aku berada dalam kendali obat bius.
🍁🍁🍁
[ Tuan, nona muda tidak mau makan]. Ning.
[ Tuan, nona muda nangis terus dari tadi pagi]. Ning.
[ Tuan, kapan Anda akan pulang? Saya tidak bisa membujuk nona muda agar mau makan. Nona masih memikirkan tuan]. Ning.
Ada begitu banyak pesan yang Ning kirim padaku. Nona muda menangis sampai tidak mau makan. Itu artinya nona muda sedang rindu pada seorang pria bernama Alvin.
Aku juga rindu padamu, Daisy. Namun, aku belum bisa kembali. Masih banyak yang harus aku lewati di tahap ini. Terapi berjalan.
[ Katakan pada Nona muda. Aku akan pulang dalam beberapa hari ini. Dan ingat Ning, kau selalu temani dia. Hibur nona muda, jangan sampai dia bersedih]. aku mengirimkan pesan pada Ning. Hening, Ning tidak membalas pesanku. Mungkin ia bingung membalas pesan dariku. Mungkin juga dia bingung menghadapi nona mudanya yang sedang bersedih.
🍁🍁🍁
" Sedang apa kamu di sini, hem?" aku bertanya, lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Kuciumi pucuk rambutnya berkali-kali dengan lembut. Ia mendongakkan pandangannya ke atas. Seolah-olah ingin melihat wajahku. Aku tersenyum.
" Kenapa?" tanyaku lagi. Kali ini kulihat tatapan matanya yang lugu serta polos itu. Ia mengerjapkan matanya tiga kali.
" Tidak apa-apa, Tuan. Hanya ingin sekedar melihat tuan saja," gumamku pelan.
" Hei! Sudah aku katakan jangan memanggilku dengan panggilan Tuan. Aku ini bukan tuanmu. Aku ini suamimu, sayang." tegurku, sambil mencium rambutnya yang harum.
" Tapi tuan, aku belum terbiasa memanggilmu dengan sebutan suamiku."
Aku segera meraih tubuhnya. Membalikkan badannya hingga kami saling bertatapan mata. Ia memalingkan wajahnya yang bersemu merah muda. Aku paham, ia malu saat melihatku yang sudah tidak buruk rupa lagi.
Kulihat ia menggigit bibirnya. Warnanya merah muda, begitu lembut dan menggoda.
" Tapi, aku ini suamimu. Dan akan selalu menjadi suamimu. Belajarlah untuk memanggilku dengan panggilan ' suamiku '. " aku berucap. Daisy semakin menundukkan pandangannya.
Aku gemas sekali padanya saat ia bersikap seperti itu. Tak lama kemudian, aku menggendong tubuhnya. Membawanya ke ranjang cinta kami. Lalu, kurebahkan tubuhnya di atas ranjang cinta.
" Apa yang akan Anda lakukan, Tuan?!" Daisy bertanya. Kaget. Saat tubuhku berada di atas tubuhnya.
__ADS_1
Kedekatkan wajahku ke arah wajahnya. Hingga kedua mata kami saling bertatapan.
" Aku akan menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami." kataku, sambil ku sunggingkan senyum di bibirku.
Matanya melotot kearahku. Dia sepertinya masih shock.
" Kau siap, Daisy?" aku bertanya, kemudian.
Daisy diam. Tidak menjawab apapun.
Lalu ...
Tok ... Tok ... Tok ...
" Tuan muda, apakah Anda berada di dalam? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Anda malam ini." terdengar suara sekretaris Dave dari balik pintu kamar.
Aku menoleh kearah pintu. Kuurungkan niatku untuk menjamah tubuh isteri tercintaku. Lalu ku buka pintu kamar dan menemui Dave yang berdiri tegap di depan kamar tidurku.
" Ada apa, malam-malam begini datang?" tanyaku , menatap Dave.
" Maaf tuan, ada hal penting yang ingin aku sampaikan."
" Cepat katakan apa itu? Aku tidak punya waktu banyak."
Dave segera memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke kamar malam ini. Ada hal serius yang berkaitan dengan bisnis mafia yang aku rintis sejak lama. Aku memperhatikan penjelasan Dave dengan seksama.
Kemudian aku menyuruh Dave untuk bersiap-siap, karena aku akan pergi ke tempat lokasi.
" Sudah mau pergi lagi, Tuan?" tanya Daisy, saat melihatku bersiap-siap untuk pergi.
" Iya, ada hal yang harus aku selesaikan sekarang. Aku pergi dulu ya? Nanti kita lanjutkan lagi." Aku berusaha menjawab sebisa mungkin.
" Bolehkah aku ikut, Tuan?" tanyanya lagi, berharap aku tidak pergi.
" Tidak! Ini sangat berbahaya buatmu. Tunggulah aku di rumah. Jangan pergi ke mana-mana, sampai aku kembali!"
Daisy mendesah pelan. Ia tahu bahwa aku pergi bukan tanpa alasan yang tepat. Ia mengetahui bahwa aku pergi karena ada masalah besar.
Daisy segera mendekatiku. Menatapku dalam, sangat dalam. Lalu meraih leherku, lalu mengecup bibirku dengan lembut.
" Aku tidak ingin kau pergi. Tetaplah di sini bersamaku. Dan jangan pergi jauh dariku lagi." bisiknya. Kini aku yang terkejut akan tindakannya. Ia seperti gadis nakal saja.
" Tapi, ini penting sayang. Percayalah, aku akan pulang lebih cepat." janjiku pada Daisy. Segera kukecup bibirnya. Kemudian pergi meninggalkannya.
Namun saat aku membuka pintu kamarku, Daisy memanggilku.
" Lihat aku, suamiku ...," Daisy berkata lantang. Aku menoleh kearahnya. Kedua bola mataku terbelalak.
" Apa yang kau lakukan?!" pekikku, saat melihat Daisy melepaskan piyama dari tubuhnya. Terpampang dengan jelas, lekukan tubuh indahnya di hadapanku, suaminya. Dan aku hanya bisa memandangnya tanpa kedipan mata sekalipun.
Aku menyerah.
__ADS_1
Bersambung ....
🍁🍁🍁