
Malam harinya, tepat di jam sembilan belas tepat. Dave datang dan langsung bergegas ke kamarnya. Namun, ada hal yang membuatnya terkejut. Itu karena ada datu makhluk berjenis kelamin laki-laki sedang merebahkan tubuhnya di kasur empuk tepatnya di kamar Dave. Lelaki itu sedang menikmati irama musik dari ponselnya dengan menggunakan earphone miliknya. Tak heran jika kedatangan Dave tidak ia ketahui. Dengan perasaan kesal, Dave mendekatinya lalu menendang bokong lelaki muda itu. Hingga jatuh terjerembab ke lantai.
" Aduh," ringis lelaki itu. Kesakitan dan terkejut sekali karena melihat sosok pria asing yang tidak di kenalnya tiba-tiba menendangnya hingga ia terjatuh.
Dave menatap laki-laki itu dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Lelaki itu bangkit kemudian berdiri tegap di hadapan Dave, ingin menantangnya berduel.
" Apa?!" bentak Dave sebelum di dahului lelaki itu.
" Siapa kamu, berani-beraninya masuk lalu menendang bokongku, hah?!" tanyanya sambil mendorong tubuh Dave. Namun, ia tidak bisa menumbangkan Dave.
" Justru itu, harusnya ini yang aku tanyakan padamu. Siapa kamu, dan kenapa berani meniduri kasur empukku? Kau kira ini rumah bapak moyangmu apa?! Kau tahu, ini adalah kamarku, kamar milik Dave Abraham William!"
Lelaki itu sempat menciut hatinya. Namun, sikap gengsinya mengalahkan ketakutannya pada Dave. Ia menantang Dave, dengan menatap tajam mata Dave.
" Aku ini adik dari ibu tirimu, Dave. Maka jangan coba-coba berani padaku. Aku punya kuasa atas kamarmu, paham!"
Mendengar perkataan lelaki itu, Dave malah tertawa lebar. Lucu, iya memang lucu. Karena lelaki itu bertindak seolah-olah seluruh harta di rumah ini milik kakaknya. Tanpa banyak bicara, Dave menarik lengan lelaki itu. Lalu menyeretnya keluar dari kamar tidurnya. Menuruni anak tangga dan mendorongnya hingga terjatuh di hadapan kakak kandungnya, yaitu ibu tiri Dave yang bernama Kania Adisti.
" Apa-apaan ini?! Kamu kenapa, Dave?!" tanya pak William, ayah Dave yang sedang duduk sambil membaca koran di ruang keluarga. Sedangkan Kania, ia terlihat marah saat Dave mendorong adiknya hingga jatuh ke lantai seperti bersujud pada kakinya.
Kania membantu adiknya untuk bangun. Dan langsung menampar pipi Dave, " Brengsek!!!" makinya, saat tangan kanannya tidak bisa menyentuh pipi Dave. Rupanya Dave dengan sigap menangkap tangan Kania.
" Ajari adikmu sopan santun, bila tidak ingin aku berbuat seperti itu lagi padanya. Dan jangan pernah tidur di dalam kamarku dan juga kamar kak Sagara! Ingat itu Bi-bi!" bentak Dave, dengan emosi yang ia tahan.
" Apa hakmu melarangnya untuk tidak tidur di kamar milikmu dan kakakmu? Toh ayahmu saja mengijinkannya. Jadi biarkan saja adikku tidur di kamar kalian, ya kan Mas?" kata Kania, penuh penekanan.
Dave tersenyum sinis. Ia malas berdebat dengan ibu tirinya itu. Namun, sekali-sekali harus ada yang berani menentang dirinya. Agar ia tahu batasan di mana ia tinggal.
" Bibi yang baik hati. Maaf, aku tahu kau ini isteri dari ayahku. Tapi, kau harus tahu tidak ada siapapun yang boleh menempati kamarku. Karena aku bukan tipe orang yang suka berbagi. Ingat itu bibi. Jika kau tidak suka, maka bisa pergi dari rumah ini, simple kan bibi?" jawab Dave, terkekeh.
Pak William marah mendengar perkataan Dave. Ia berdiri dan langsung menampar wajah Dave. Dave, terkejut. Begitupun ibunda Dave yang sedari tadi memperhatikan, ikut terkejut.
Namun, berbeda dengan Kania. Ia terlihat bahagia dan seperti mengejek Dave.
" Demi wanita penggoda itu, kau berani menampar anakmu, bapak William." ucap Dave, sambil memegangi pipinya yang panas.
" Kau ingat pak William, sampai kapanpun aku akan tetap berada di posisi Mommy, akan tetap membela mommy, sampai wanita murahan itu angkat kaki dari rumah ini!" ujarnya mengancam. Dan berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
Tubuh pak William menjadi lemas saat ia sadar telah menampar Dave dengan tangannya sendiri. Tangan yang di mana telah merawat Dave kecil hingga menjadi pria kuat seperti yang di harapkannya. Kedua netranya yang sedari tadi menatap tangan kanannya, tiba-tiba mengembun. Dan tak terasa mengalirlah air mata dari kedua matanya.
" Buat apa menangisi anak sialan itu, Mas. Aku rasanya puas sekali saat Mas menampar wajahnya. Berarti satu sama bukan?" katanya lalu pergi dari hadapan pak William. Yang masih menangis tersedu-sedu.
🍁🍁🍁
Mentari pagi muncul di ufuk timur. Menyinari bumi beserta alam semesta. Sinarnya yang hangat dan lembut menyapa semua makhluk yang berada di bumi. Burung-burung pun berkicau dengan riangnya, mereka menyambut datangnya pagi.
Namun, tidak begitu dengan Dave. Ia masih berada di bawah selimut saat jam menunjukkan pukul enam pagi. Biasanya ia sudah bersiap-siap melakukan aktifitas pagi hari. Akan tetapi kejadian semalam telah membuat mood Dave sedikit down. Di tambah sikap ayahnya yang telah membela wanita yang jelas-jelas telah merenggut kebahagiaan keluarganya.
Ibunda Dave, bunda Lily, ia memasuki kamar anaknya yang sampai saat ini belum juga menampakan batang hidungnya. Ia begitu khawatir sekali. Takut Dave berbuat yang tidak-tidak semalaman.
Tok tok tok.
Ibu Lily mengetuk pintu kamar Dave. Lalu membuka daun pintu, kemudian masuk ke dalam. Ia melihat anaknya masih terbaring dalam keadaan di tutup selimut.
" Dave, kenapa masih di selimut? Apa kau masih marah dengan ayahmu?" tanya bu Lily yang sudah berada di samping Dave. Berusaha membuka selimut yang menutupi tubuh Dave.
" Dave masih mengantuk, Mom. Biarkan Dave tidur. Jika perlu, jangan bangunkan Dave seharian ini. Dave capek, pengen istirahat!" ucapnya, sambil berusaha menarik selimut yang telah di tarik oleh bu Lily.
" Kamu marah, Dave? Sudahlah jangan melakukan perang dingin dengan ayahmu. Kau dan dia sama-sama keras kepala. Jika dua-duanya keras, maka tidak akan baik. Mengalahlah dulu. Buat hati ibu tirimu bahagia, setelah itu fikirkan caranya untuk membuat ayahmu sadar jika pilihannya itu salah." bu Lily memberi nasihat.
Satu jam kemudian.
Dave telah selesai. Ia langsung menuju meja makan, dan mengambil dua lembar roti gandum untuk dia makan sebagai sarapan di pagi hari.
" Wah, wah, wah. Rupanya ada orang yang bermuka tebal pagi ini. Semalam di beri pelajaran, sekarang malah numpang makan." sahut Kania, ibu tiri Dave yang baru datang dari ruang baca, tempat favorit ayahnya.
Dave mengacuhkan ucapan ibu tirinya itu. Ia tetap makan, lalu menghabiskan susu yang ada di dekatnya. Setelah itu, ia merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah, lalu memberikannya pada ibu tirinya, yang ia panggil dengan sebutan Bibi.
" Ini untuk jatah makan pagiku, Bibi. Aku beri bonus ya? Seharusnya harga makanan yang kumakan tidak lebih dari uang yang kuberikan padamu, tapi yaaah anggap saja aku bersedekah pada orang fakir dan miskin," ujar Dave, terkekeh.
Mendengar ucapan Dave, Kania merasa tersinggung. Ia ingin membalas perbuatan Dave, tetapi, gagal ia lakukan karena ia mendengar suara pintu di ketuk.
Kania berjalan gontai menghampiri pintu, lu membukanya. Ia begitu terkejut saat melihat tamu yang berkunjung padanya pada waktu pagi.
" Mau apa kamu? Bukankah kamu seharusnya ada di Singapore, Kay?" tanyanya, dengan sedikit berbisik.
__ADS_1
" Aku tidak sebodoh itu kakak. Aku kesini ingin meminta tolong padamu. Tolong beri pinjaman aku uang. Untuk biaya berobat ibu, Kak." katanya, sambil sedikit mengiba.
" Bodoh! Seharusnya kau terima tawaran pria gendut itu. Dan kau tidak akan kesusahan lagi mencari uang. "
" Aku tidak mau, Kak. Aku sungguh sangat berdosa jika melakukan hal yang tidak baik menurut kaca mata agama. Tolonglah kak, bantu aku membayar administrasi berobat ibu."
Kania diam, dan ia malah mengusir adiknya itu pulang. Mengusir adiknya kemudian menutup pintu rumah. Namun, belum sempat pintu itu tertutup rapat, Dave dengan cepat menahan pintu agar ia bisa melihat siap yang bertamu ke rumah ayahnya. Begitu ia berbalik, Ia terkejut karena Dave sudah berdiri di belakangnya, dengan kedua mata menatap matanya tajam.
" Siapa dia? Dan ada hubungan apa kamu dengannya?" Dave bertanya pada Kania. Skak mat, ia kehabisan kata-kata.
Dave begitu terkejut saat ia melihat sosok wanita yang ia kenal. Wanita itu yang kemarin sempat ia tolong di Bandara.
" Ada hubungan apa dengan bibi Kania?" tanya Dave dengan nada membentak.
" Dia adikku, adik tiri tepatnya. Kenapa? Kau mengenal adikku yang cantik ini?" tanya Kania, kedua matanya mendelik kearah Dave.
" Dia wanita yang kutolong saat di Bandara. Dia sedang di kejar oleh dua orang pria yang mengejarnya dan parahnya lagi, dia ingin di bawa ke Singapore karena ingin di jual dan di pekerjakan di rumah bordir," jelas Dave.
Kania tersenyum sinis. Ternyata Dave yang sudah menolong adiknya itu. Rencana jahatnya untuk menjual adiknya ke rumah bordir di Singapore gagal total. Dan ia harus kembali mengirimkan uang untuknya.
" Kau tak perlu ikut campur urusanku, anak ingusan! Ini masalah keluargaku, dan aku juga bisa sendiri menyelesaikan masalah ini. Cepat pergi, dan jangan ganggu urusanku!" Kania mengusir Dave.
" Kamu lupa Bibi, kamu sudah ikut masuk ke dalam kehidupan keluargaku. Aku juga berhak ikut campur dalam urusanmu, bukan? Hei kau." kedua mata Dave menangkap sosok wanita yang berada di depan pintu. Dengan wajah di tutupi masker, dan topi yang menutupi kepala. Rupanya ia cerdik juga.
Dave segera merogoh saku celananya, dan mengambil dua puluh lembar uang ratusan ribu dan langsung menyerahkan uang itu pada wanita yang kini berstatus adik tiri dari ibu tirinya.
Mata Kania membulat besar. Ia tidak menyangka jika Dave memberikan uang tunai pada Kayra.
" Kenapa, tidak suka?" tanya Dave sinis.
" Urus saja adikku jika kau suka, aku sudah muak padanya," sahutnya lalu berjalan gontai dan pergi ke dalam.
Dave menggelengkan kepalanya. Ia tak habis fikir, kakak macam apa dia sampai tega seperti itu pada adiknya.
Saat ia sadar dan ingin mengajak wanita yang tadi bertamu ke rumahnya untuk pergi bersama, ternyata wujudnya sudah hilang. Pergi entah ke mana.
Sambil menarik nafas dan menghembuskan kasar, ia menggerutu, " Dasar wanita siluman. Cepat sekali dia menghilang, Huft!"
__ADS_1
Bersambung.