When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Pengkhianatan.


__ADS_3

Seorang wanita melangkahkan kedua kakinya saat kondisi rumah sakit sedang sepi tak ada orang yang berlalu lalang. Langkah kakinya di percepat sehingga ia sudah sampai di ruangan bougenvill, tempat di mana Anisa di rawat.


Anisa yang belum tertidur terlihat begitu terkejut saat melihat Mawar Hanafi datang menjenguk dirinya. Sebegitu terkejutnya ia sampai-sampai ponsel yang ia pegang terjatuh ke lantai. Dan pecah berserakan di lantai.


" Kau terkejut bukan, Adikku?" ucap Mawar, dengan senyuman seringai di bibir tipisnya.


" Mau apa kamu kemari, Kak? Belum puas kamu bikin ulah, Hah?" tanya Anisa. Ia begitu marah kepada Mawar.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mawar memanggilnya dengan sebutan adik?


" Tenang, jangan marah dulu. Itu baru rencana kecil." katanya.


" Aku tidak mau melakukan tugas apapun darimu!" tolak Anisa.


" Jangan bodoh, dek. Kita ini saudara kembar tapi tak serupa. Kamu adalah aku, dan aku adalah kamu."


" Terus maumu apa, Kak?"


" Aku mau kamu masuk ke dalam kehidupan Alvin. Dan merusak hubungan mereka. Seolah-olah bahwa kamu menyukai Alvin. Buat dia berpaling dari Daisy." ujarnya dengan segudang ide briliannya.


" Tidak! Aku tidak mau! Aku bukan orang yang seperti itu, Kak."


" Hem, baiklah jika itu mau kamu. Aku tidak akan segan-segan melukai Aisyah."


Anisa kalah telak saat Mawar Hanafi mengatakan akan melukai Aisyah. Ia tidak ingin kehilangan saudara kandungnya lagi. Karena tidak menuruti perintah Mawar.


" Kau bingung kan? Makanya jangan coba-coba bermain api denganku. Jika tidak ingin terbakar." seringaian senyuman dari bibir Mawar menghiasi di wajah cantiknya. Dengan satu tangan pun, ia bisa mencengkeram rambut panjang Anisa. Hingga membuat Anisa meringis kesakitan.


" Aauw... Sakit lah Kak. Kakak jahat tahu tidak sih?" ringisnya menahan sakit.

__ADS_1


" Dari dulu kan aku memang jahat." ujarnya sinis.


Anisa memegang bagian kepalanya yang tadi berusaha di tarik rambutnya oleh Mawar.


" Oh iya, jangan sampai kau jatuh cinta pada Alvin. Ingat Alvin milikku. Tidak ada yang boleh mengambil cintanya dariku."


" Iya. Terus apalagi?" gerutunya sambil meringis kecil.


" Kalau bisa, buat Daisy keguguran!"


" Kalau yang itu, aku nyerah, Kak. Aku bukan malaikat yang mencabut nyawa seseorang. Aku tidak setega itu kali." Anisa protes.


" Terserah. Yang jelas, aku mau kamu melakukan tugas yang telah aku rencanakan. Awas jangan sampai gagal!"


" Iya."


Mendengar ucapan Anisa, Mawar pun menjadi bahagia. Pasalnya semua rencana yang telah ia susun, akan berjalan dengan lancar.


Anisa mengangguk.


" Baiklah, bye. Sampai berjumpa lagi adikku sayang. Cepatlah sembuh dan lakukan tugasmu dengan benar." kata Mawar, kemudian pergi dari ruangan Bougenvill.


Kini tinggallah Anisa di ruangannya. Termenung seorang diri. Menatap wajahnya di cermin. Dengan tersenyum bak devil yang sedang haus darah. Menyeramkan, sangat menyeramkan.


" Aku ini jahat! Tapi, aku tidak ingin Aisyah yang jadi sasaran Kak Mawar lagi. Aku tidak ingin Aisyah memiliki nasib yang sama denganku." ratapnya, menahan sedih.


" Tuan Dave, maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu, Tuan." lirihnya. Lalu menangis.


🌲🌲🌲

__ADS_1


Keesokan harinya.


" Hei! Dari semalam aku hubungi kamu, kenapa nomormu tidak aktif?! Mana ponselmu?! Boleh aku melihatnya?!" Dave bertanya. Menggertak.


Anisa yang melihat Dave bersikap seperti itu menjadi takut sekali. Bahkan ia tidak berani menatap wajahnya saat ini. Dirinya sungguh sudah sangat berdosa.


" Mana?!!" bentak Dave.


" I-ni, Tuan. Ponsel aku pecah." jawab Anisa gugup. Dengan berdebaran hati, Anisa beranikan diri menunjuk di mana ponselnya berada.


" Kenapa bisa terjatuh dan hancur begini? Kau banting ya?!"


" I-iya, Tuan. Maaf. Tapi tak apa, nanti aku bisa menservicenya tuan."


" Tak apa, nanti aku belikan yang baru." sahut Dave. Mengambil ponsel Anisa yang masih tergeletak di lantai.


" Eeh, tak usah! Aku bisa kok membeli ponsel baru lagi. Aku tidak ingin membuat repot dirimu, Tuan."


" Justru jika tak ada ponsel, bagaimana aku bisa menghubungimu." ujarnya, ketus.


Dave menatap wajah Anisa lekat. Raut wajahnya menunjukkan bahwa, Dave benar-benar telah jatuh cinta pada Anisa. Melihat semua itu, meledaklah suara tangisan Anisa. Ia sedih karena mengkhianati Dave, Tuan Alvin, nona Daisy dan juga hatinya saat ini pada Dave.


" Kamu kenapa, Cha? Aku terlalu mengekangmu bukan?" tanyanya panik dan langsung memeluk erat tubuhku.


" Hiks ... Hiks ... Hiks ..., maafkan aku Tuan. Maafkan aku. Hiks ... Hiks ... Hiks."


" Kenapa kamu menangis Icha? Ada masalah apa? Coba ceritakan padaku. Biar hatimu tenang."


Anisa hanya bisa menangis. Mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya. Baginya, mengkhianati kepercayaan seseorang itu amatlah sulit. Bahkan lebih sulit daripada berkelahi.

__ADS_1


" Anisa Wulandari Hanafiah, kamu jangan bersedih. Aku janji tidak akan membuatmu kesal lagi. Aku mohon berhentilah menangis, sayang." pinta Dave, sambil memeluk Anisa yang sedang menangis menyesali perbuatannya.


🌲🌲🌲


__ADS_2