
Pagi ini, Alvin datang dengan perasaan bahagia bercampur rindu padaku, seorang gadis desa polos, lugu dan sederhana meski aku berasal dari keluarga terpandang juga.
Alvin datang dengan membawa buket bunga mawar yang indah. Alvin tahu, aku sangat menyukai bunga. Terlebih lagi bunga mawar merah. Jadi, pagi ini ia menyuruh Ning untuk memetik beberapa tangkai bunga mawar merah untuk di hadiahkan padaku.
Alvin memasuki ruangan bougenvill, tempat di mana aku masih di rawat. Bibirnya tersenyum melihatku masih tertidur pulas.
Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Saat Alvin berada di dalam ruangan, sambil berusaha membangunkan kekasih halalnya. Alvin mengecup keningku.
" Sayang, ayo bangun. Matahari sudah merangkak naik, kamu masih belum bangun." ucap Alvin, seraya membangunkan aku sambil mencium bibirku.
" Mmmmmh ...," aku menggeliat merasakan ada sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh bibirku. Kubuka kedua netraku, sejurus mataku menangkap sosok Alvin yang berdiri tegap, sambil membawa bunga mawar yang cantik dan indah.
" Pagi cantikku, isteri kesayanganku." Alvin menyapaku. Senyuman hangat terpancar dari wajahnya pagi ini.
" Pagi juga Suamiku. Kau bawa apa?" tanyaku sambil menggeliat.
" Bunga mawar merah, nih." jawabnya, memberikan bunga itu padaku.
Aku menatapnya, " Terima kasih, Sayang. Kau benar-benar membuat hariku pagi ini terasa indah sekali."
Alvin tersenyum.
" Sudah makan belum?"
Aku menggelengkan kepalaku, " Belum,"
" Kenapa? Ayo makan dulu. Aku suapin ya? Aaaaaaa," Alvin mengambil mangkuk berisi bubur yang telah di sedikan pihak rumah sakit. Menyendokkannya lalu menyuapiku.
" Nah gitu dong ya, kamu mau makan. Biar kamu cepat pulih dan kita bisa sama-sama lagi di rumah."
Mendengar perkataan Alvin, aku hanya bisa tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, Alvin adalah sosok suami yang sangat penyayang. Ia berhati dingin jika terhadap wanita lain. Tetapi, saat bersamaku, ia berubah lembut dan hangat.
Aku fikir, pernikahanku ini akan berakhir dengan deraian airmata yang terus mengalir dari kedua mataku. Fikiran burukku ternyata salah. Alvin benar-benar mencintaiku sepenuh hatinya. Bahkan ia rela mengorbankan nyawanya demi diriku.
__ADS_1
" Sayang, besok kamu sudah di perbolehkan pulang. Aku akan memberikan kejutan untukmu." ujar Alvin, sambil menyimpan mangkuk bubur yang telah habis kumakan.
" Apa itu?"
" Sesuatu yang rahasia,"
" Jangan bikin aku penasaran, Sayang." desisku.
" Kasih tahu tidak ya?" Alvin menggoda.
" Ish, Sayang... Cepat katakan padaku." kataku, sambil mencubit manja pinggangnya. Ia menggelinjat geli.
" Oke, oke, oke. Nanti setelah kamu pulang dari rumah sakit, kita bikin anak yu?" ujarnya. Menggodaku.
Aku mendelik, kesal padanya.
" Hem, terserah!" gerutuku. Dia tertawa.
♥️♥️♥️
Alvin pergi ke pusat perbelanjaan. Ia ingin membelikanku sesuatu. Sebuah liontin berlian. Kemarin ia sempat memesan liontin itu di Mall besar ini. Dan inilah kejutan untuk Daisy, isteri kesayangannya.
Liontin berlian telah berada di tangannya. Alvin pun melanjutkan langkah kakinya menuju tempat parkiran mobil. Tanpa di sengaja, Alvin bertemu dengan seorang wanita dari masa lalunya. Wanita yang tega meninggalkannya di saat tubuh dan wajahnya buruk rupa. Dialah Mawar, Mawar Hanafi.
" Alvin," seru Mawar saat bertemu sosok pria yang dulu pernah menjadi bagian di hidupnya.
Alvin melirik sekilas. Tatapannya menatap malas pada Mawar.
" Bagaimana keadaanmu? Kau sudah berubah seperti dulu?" Mawar menatap wajah Alvin. Ia terkejut.
" Seperti yang kau lihat. Aku kembali normal." ujar Alvin, datar. Sedatar hatinya saat ini untuk Mawar.
" Aku kira kau masih,"
__ADS_1
" Buruk rupa maksudmu?"
Mawar tertunduk. Ia merasa bersalah saat ini.
" Alvin," desahnya.
" Iya, ada apa?"
" Aku ingin kita balikan lagi seperti dulu. Kita rajut kisah cinta kita lagi di mulai dari awal saat kita pertama kali bertemu." Mawar berkata lirih. Kedua bola matanya mengembun. Tersirat ia merasakan kembali rindu untuk Alvin. Setelah sekian lama berpisah karena keegoisan Mawar sendiri.
" Maaf, aku tidak bisa." Alvin menusuk hati Mawar dengan tatapan matanya.
" Kenapa? Kau masih marah padaku?" Ujar Mawar, meraih tangan Alvin lalu menggenggam tangannya.
Namun, dengan cepat Alvin menepis genggaman tangan Mawar dengan kasar.
" Hentikan itu Mawar, aku sudah beristri. Tidak mungkin aku mengkhianati istriku sendiri." Alvin menolak tegas. Bahkan di dalam hatinya sudah tersingkir nama Mawar.
" Kamu tidak sedang bercanda kan, Vin?" tatapan mata Mawar menyiratkan ketidak percayaan pada Alvin. Ia masih yakin, Alvin belum bisa melupakan Mawar.
" Kau tahu Mawar, hal terbodoh yang kulakukan saat itu adalah terlalu mencintaimu. Sehingga selama empat tahun aku menderita. Namun, setelah aku bertemu dengan wanita yang kini menjadi isteriku, aku jadi yakin, yang patut di cintai itu ialah isteriku yang sekarang. Bukanlah masa laluku yang kelam."
Kata-kata Alvin membuat Mawar semakin terpojok. Sakit dan merasa terhina oleh penolakannya. Seorang Mawar Hanafi, tidak bisa di tolak seperti ini.
" Maaf, aku permisi." Alvin melangkahkan kakinya, namun, ia menoleh kembali kebelakang di mana Mawar masih berdiri.
" Jangan pernah kau muncul di hadapanku lagi! Aku sudah melupakanmu. Aku harap kau mengerti perkataanku. Terima kasih!"
Mawar merasakan sakit yang luar biasa saat ini. Ia di tolak oleh Alvin. Selama empat tahun ia berpisah dengan Alvin, selama itu pula hatinya tersiksa.
Andai saja saat itu dia memilih untuk tetap menikah dengan Alvin, mungkin saat ini dia sedang bahagia bersama Alvin. Tetapi, egonya yang memilih untuk memutuskan hubungan hanya demi kesuksesan kariernya menjadi model terkenal. Karena ambisinya untuk di kenal banyak orang, membuatnya tersiksa hingga saat ini. Ketika bertemu kembali dengan Alvin, lalu dia di tolak mentah-mentah oleh Alvin.
" Akan aku dapatkan cintamu lagi, Alvin. Aku berharap kau bisa menjadi milikku lagi." gumam Mawar, di sertai senyuman menyeringai di bibir manisnya.
__ADS_1
Bersambung ...
🍁🍁🍁🍁