When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Kenapa, tragis?


__ADS_3

Gadis cantik bermata cokelat itu memasuki perumahan kumuh. Dimana ia sendiri sedang beristirahat sejenak melepas penat akibat ucapan yang Dave lontarkan padanya, tadi. Kesal, marah, dendam bercampur jadi satu. Ingin rasanya tadi ia menampar wajah tampan milik Dave, tapi ia urungkan karena tidak ingin mengotori kedua tangannya hanya untuk memukul wajah seseorang.


" Mbak icha, kok melamun sih? Mikilin apa?" tanya anak kecil, cantik bermata sipit. Mendekatinya lalu duduk di dekatnya.


Sesembak yang baru saja di temui Dave, akhirnya menoleh dan meraih pundak anak kecil itu, sambil memandang wajahnya yang teduh.


" Halo cantik, sudah makan belum?" sesembak yang nama aslinya adalah Annisa, yang lebih akrab di sebut Icha ini bertanya.


" Udah mba Icha. Tapi, itu mba Icha kenapa sih? Kok melamun aja. Kan Ais jadi ikut bingung. Celita ama Ais dong," ujarnya sambil bermanja ria. Menggelayut di kedua paha Icha.


Icha segera meraih Ais yang sedang berdiri, dan segera mendudukannya di pangkuannya. Membelai rambut Ais dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Ais, yang bernama lengkap Aisyah Puteri. Ia di lahirkan dari keluarga pemulung. Tak membuat hidupnya minder dan merasa terasingkan. Sejak bertemu dengan Icha. Ais selalu menyunggingkan senyuman terindah untuk Icha. Kini usia Aisyah sudah menginjak usia empat tahun.


" Iya nih. Kakak Icha lagi sebel sama seseorang. Masa kakak di katain kutilang darat? Kan kakak Icha ini seksi, ya kan Ais?" Icha dengan gaya bicara khas anak balita sedang berkata pada Aisyah.


" Ish. Kok gitu sih? Kan Kak Icha tuh seksi. Siapa sih yang bilang gitu? Coba kasih tahu Ais bial nanti Ais yang malahin tuh olang. Kesel tahu Ais!!" sungutnya dengan nada cadel.


Icha tersenyum mendengar gaya bicara Aisyah yang cadel dan lucu itu. Ia memeluk tubuh Aisyah, lalu mencium pucuk rambutnya. Menatap lekat kedua mata Aisyah.


" Tidak usah. Kak Icha sudah kasih peringatan sama orang itu. Jadi sekarang Kak Icha pengen main dulu sama Aisyah, gimana? Ais setuju tidak?" ujarnya, sambil mencolek hidung Aisyah.

__ADS_1


" Ayo!" ujarnya semangat. Aisyah pun turun dari pangkuan Icha. Kemudian meraih tangan Icha dan menariknya ke tempat permainan yang sengaja di buat Icha untuk anak-anak pemulung yang lain di tempat kumuh.


🍁🍁🍁


Alvin terlihat sangat tampan saat mengenakan kemeja putih dengan balutan jas biru muda di tubuhnya. Tak lupa juga paduan celana panjang berwarna hitam dengan sepatu pantopel hitam. Menambah kesan bersahaja. Malam ini ia sangat tampan sekali.


Ada apa dengan Alvin? Ah iya, dirinya dan diriku akan pergi berkencan malam ini. Ini rencananya Alvin sendiri karena ia sudah terlalu lama berjauhan denganku. Mungkin ia mendengarkan nasihat Icha agar menjauhi wanita yang sedang datang bulan. Dan Alvin menurutinya. Aku jadi penasaran siapakah wanita yang bisa membuat pemahaman pada pria keras kepala dan dingin seperti Alvin.


Ingin mengucapkan terima kasih saja. Karena sudah membantuku memberi pemahaman pada suamiku.


Alvin sudah menyiapkan semuanya. Mulai dari dekorasi, hingga kulinernya dia siapkan sebagus dan seenak mungkin. Dan inilah bukti cintanya padaku.


Kami pun duduk saling berhadapan pandangan. Sambil tersenyum dan menatap mata satu sama lain. Kemudian, kami saling berpegang tangan. Mesra dan penuh kelembutan ia menggenggam jemariku.


Aku tersenyum. Mukaku merah merona.


" Terima kasih sayang. Ini semua berkat usahamu memberikan gaun cantik khusus dari butik terkenal," kataku, sambil menatap matanya.


" Habis makan malam. Kita lanjut ke acara berikutnya yaitu ...,"


" Yaitu ...? Apa?" tanyaku, tersipu malu.

__ADS_1


Alvin memandangku. Lalu mendekatkan wajahnya kearahku sehingga kami saling berdekatan satu dengan lain.


" Kita bikin anak," bisiknya. Hingga kurasakan aroma nafasnya yang terasa mint. Tambahlah diriku semakin cinta pada Alvin. Ooh Alvin, kenapa kamu di ciptakan sesempurna ini? Aku sungguh bahagia menjadi istrimu saat ini.


Aku hanya bisa tersenyum. Dan Alvin pun tahu arti senyumanku selanjutnya. Itu tandanya aku menyetujuinya. Yesss.


🍁🍁🍁


Malam ini, terasa begitu sunyi. Namun, itu tidak membuat Dave bisa tertidur dengan nyenyak. Pasalnya, ia masih mengingat ucapan tajam dari Icha. Gadis misterius si pembalut. Ya, gadis cantik yang ia temui beberapa hari yang lalu. Dan pertemuannya itu karena tragedi pembalut.


" Memang benar kan, dia itu Kurus, tinggi, langsing, dada rata?! Kenapa dia jadi marah sih? Sampai menutup pintu mobilku dengan kencang." Ia menggerutu. Sambil mendekap bantal di ranjang tidurnya.


Posisi tidurnya pun berubah. Tak beraturan dan bikin pusing orang yang melihatnya.


" Dasar wanita Kutilang Darat !!!" maki Dave, sambil menggaruk kepalanya.


Dave sepertinya tidak terima atas perlakuan gadis bermata belo dan berambut gelombang itu. Tak ada satu perempuan pun yang berani melawan ucapannya kecuali Icha.


" Siapa nama gadis itu? Icha, Annisa atau siapa sih?!!" gerutunya lagi.


Fikirannya terus tertuju pada gadis itu. Entah sudah berapa kali Dave menyebut nama gadis itu. Walaupun dengan nada menggerutu dan memaki. Sehingga ia tidak sadar, bahwa hatinya telah terketuk oleh sikap perlawanan Icha terhadapnya.

__ADS_1


Gadis bermata belo, berambut pirang dan bergelombang itu, mampu menggetarkan hati Dave. Yang seakan-akan menarik Dave agar terus menerus memikirkannya. Dave telah jatuh cinta pada Icha.


🍁🍁🍁


__ADS_2