When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Kelakuan konyol Dave.


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya berlari kecil memasuki kantor kepolisian. Ia begitu panik begitu mendapat kabar dari seorang polisi yang mengabarkan anaknya telah di tangkap polisi akibat mengebut di jalan raya.


Dialah ibunda Dave. Dahulu ketika Dave berusia lima belas tahun, dirinya mengalami kejadian naas ini. Dave melakukan balapan liar dengan beberapa teman sekolahnya. Sayangnya ketika itu, Dave menerima tantangan dari musuhnya yang ternyata satu sekolahan. Yang akhirnya ia di ciduk oleh dua orang polisi, dan sempat di tahan satu hari di sel tahanan. Hari ini pun, Dave kembali berulah tapi, dengan alasan berbeda tentunya. Menyeret sekretaris cantik bernama Flo ikut di ciduk oleh bapak polisi yang gagah dan tampan.


" Maaf nyonya, anak Anda kami tahan karena kedapatan mengebut di jalan raya. Walaupun anak Anda mempunyai surat-surat kendaraan yang lengkap, ia tetap kami tahan. Demi kenyamanan dan memberi efek jera kepada yang lain." kata bapak polisi itu, saat ibunda Dave sudah berada di dalam ruangan. Ia melihat Dave yang sedang duduk di kursi kayu bersama seorang wanita muda yang cantik.


Ibunda Dave menatap wajah anaknya dengan senyuman getir, di sertai gelengan kepala yang membuatnya betul-betul terkejut. Seandainya ini berada di rumah, tentu saja habislah Dave di ceramahi olehnya tanpa jeda. Dan itu membuat Dave memasang earphone di telinganya sambil mendengarkan lagu-lagu barat kesukaan Dave.


" Saya paham akan keputusan bapak. Sekali lagi saya mohon maaf jika kelakuan anak saya yang satu itu memang sangat aneh. Oh iya, apa hari ini anak saya sudah bisa di bebaskan, Pak?"


" Iya. Tapi, lain kali tolong jangan terjadi lagi ya? Dan silahkan Anda beserta anak Anda bisa pulang sore ini juga," ujar pak Polisi dengan nada santun dan tentunya menjaga etika.


Ibunda Dave mengangguk, ia berdiri dan menjabat tangan pak polisi. Sambil mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena anaknya sudah di bebaskan. Dengan langkah seribu, ibunda Dave langsung menarik tangan anaknya dan mengajaknya pulang dari kantor kepolisian.


" Sudah kubilang kan Flo, Mommy ku akan datang kemari," kata Dave dengan pongahnya. Namun, sang ibunda malah langsung menjewer telinga anak kesayangannya itu. Hingga Dave meringis kesakitan akibat di jewer telinganya oleh ibundanya sendiri.


" Mom, sakit. Tidak bisakah Mommy menghukumku nanti ketika di rumah? Aku malu mom, dengan sekretaris pribadiku." sungut Dave, mengusap-usap telinganya yang panas dan memerah itu.


" Terserah Mommy dong. Mau di mana saja tidak ada yang melarang!" tegasnya. Dan langsung mengemudikan mobil yang ia kendarai. Sedangkan mobil Dave, di bawa oleh sopir pribadi Dave.


Flo yang sedari tadi diam, tidak berbicara. Ia diam-diam mengulum senyumnya saat melihat atasannya tunduk dan patuh ketika ibundanya marah dan terlihat seperti anak kecil.


" Oh iya, itu sekretarismu siapa namanya? Flo bukan? Rumahnya di mana? Biar Mom antar ia pulang." tanya Ibunda Dave.


" Ya. Antarkan saja. Lagi pula ia pun harus memberi makan bayi besarnya di rumah,"


Kedua bola mata Flo terbelalak. Ia tidak paham ucapan atasannya itu. Bayi besar, siapa?


" Ooh, dia sudah punya anak? Mom kira masih single. Tadinya mom mau menjodohkan kalian," sahut Ibunda Dave. Matanya tetap fokus memperhatikan jalan raya di depannya.


" Jangan! Aku tidak berselera dengannya! Lagipula dia sudah bertunangan mom, tidak baik memutus hubungan orang." tolak Dave.


" Loh, terus kalau masih tunangan, lalu itu bayi siapa? Dia MBA, Dave?" tanya Ibunda Dave, ia merasa heran.


" Bayi besar yang kumaksud itu adalah tunangannya, Mom," ujar Dave, terkekeh-kekeh. Flo merajuk, dan ia pun kesal di buatnya.


" Jangan dengarkan tuan Dave, nyonya. Dia memang selalu seperti itu. Ucapannya selalu membuat orang bingung." sahut Flo dari jok belakang.


" Ya ya ya, terus saja meledekku. Biar kau puas, setidaknya aku tidak akan marah saat bersama Mommy," ujar Dave. Seketika pecahlah tawa Flo. Ia tidak cukup kuat untuk menahan tawanya kali ini. Kelakuan tuannya berbanding terbalik saat dirinya sedang bersama ibunda tersayang. Terlihat seperti anak-anak.

__ADS_1


" Kenapa kau tertawa, Flo? Ada yang lucu?" tanya Dave. Ia menoleh ke jok belakang. Menatap sekretarisnya yang masih tertawa lebar.


" Iya. Aku tertawa melihat tingkahmu yang lucu, Tuan." sahutnya terkekeh-kekeh.


Bibir Dave mengerucut, ia merajuk. " Sialan, awas kau ya," rutuk Dave. Akan tetapi, Flo tetap tertawa walaupun Dave mengancamnya.


🍁🍁🍁


Setelah mengantarkan Flo pulang ke rumahnya. Dave dan ibundanya pun pulang.


Jam, menunjukkan pukul delapan belas pas saat mobil yang di kendarai ibunda Dave memasuki halaman rumah Dave yang luasnya hanya seluas dua mobil. Mobil Dave, dan mobil ibunda Dave.


Dave keluar dari mobil, dan langsung berjalan memasuki kediamannya. Dave hendak membersihkan tubuhnya. Sedangkan bibi Ruth menyiapkan makan malam untuk kedua majikannya yang baru pulang dari kantor polisi.


" Dia mengulanginya lagi, Bi." ujar ibunda Dave. Saat berada di dekat bibi Ruth. Pembantu sekaligus penasihat keluarga.


" Tuan Dave ternyata belum berubah, nyonya. Tingkahnya kadang membuat bibi selalu menggelengkan kepala." kata bibi Ruth. Sambil memasak sesuatu untuk di santap majikannya.


" Yah, itulah Dave. Dave Abrahamku. Seorang pria tampan, mapan namun, masih tetap seperti anak kecil tingkahnya."


" Hayo, lagi pada ngomongin aku ya?" seru Dave tiba-tiba. Ia lalu memeluk ibundanya dengan manja tepat di depan mata bibi Ruth. Membuat bibi Ruth tersenyum.


" Dasar anak manja," ucap bibi Ruth, menyentil hidung tuannya. Ibunda Dave tertawa.


" Mom, selepas makan. Kita akan berkunjung ke rumah ayah. Aku ingin tahu siapa wanita ****** yang merebut cinta mommy. Biar aku sleped dia, dan tidak akan betah berlama-lama di rumah ayah."


" Iya, semoga saja bisa. Karena isteri baru ayahmu itu dia tidak mudah untuk di usir dari rumah. Malah dia sengaja membawa adik laki-lakinya yang berusia dua puluh lima tahun ke rumah ayahmu." sahut Ibunda Dave.


" Benarkah? Kalau begitu, aku akan lebih betah untuk tinggal lebih lama di rumah itu," sahut Dave. Di tambah seringaian senyuman yang nampak di bibir tipisnya.


" Jangan berulah, Dave. Jangan buat ayahmu semakin membencimu dan juga mengusirmu untuk yang ketiga kalinya." ibunda Dave mewanti-wanti. Ia paham karakter anaknya yang satu ini. Kelakuannya berbanding terbalik dengan kakaknya, yaitu Sagara Abraham William. Pemegang saham terbesar di tiga negara. Singapore, Thailand dan Indonesia tentunya. Ia memiliki perusahaan yang bergerak di bidang properti dan design gedung serta perumahan-perumahan besar.


Tak berselang lama, Dave beserta ibundanya pergi menuju kediaman ayahnya. Bibi Ruth pun ikut serta dalam perjalanan mereka. Kali ini, Dave mengendarai mobilnya sendiri. Ia ingin sombong di depan ayahnya dan di depan isteri baru ayahnya yang di sebut ibundanya masih tergolong muda. Keisengan Dave berawal dari sini. Di rumah ayahnya, hingga pertemuan pertamanya dengan gadis yang ia sebut sugar Daddy. Yaitu Kayra Anisa Maria.


🍁🍁🍁


Dave menatap lekat rumah milik ayahnya yang masih berdiri kokoh dan sepertinya cat dinding rumahnya terlihat masih baru dan juga masih harum cat. Dave, ibunda Dave dan bibi Ruth masuk ke dalam rumah. Saat memasuki ruangan tamu, Dave merasakan ada desiran aneh yang membuat dirinya kembali mengingat kejadian di mana ia di usir dari rumah ini. Dan untuk pertama kalinya, Dave menitikkan air mata. Ia begitu rindu dengan suasana rumah ini, yang sembilan puluh sembilan persen berubah total. Rupanya sang isteri baru telah berani merubah seisi rumah ini. Ia merasa semuanya sudah menjadi miliknya.


Dan dari atas tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah. Nampak ayahnya beserta isteri barunya menuruni anak tangga. Sambil berusaha tersenyum menyambut kedatangan isteri serta anaknya.

__ADS_1


" Sudah lama kita tidak bertemu, Dave." ujar sang ayah saat ia melihat untuk pertama kalinya, Dave berdiri tepat di depan matanya.


Sudah banyak perubahan yang terjadi pada Dave. Anak kesayangan sang ayah. Dan rindu itu menyeruak di dalam raga sang ayah. Ia sangat ingin memeluk tubuh putera keduanya dan mengatakan, " Dave, ayah rindu padamu,"


" Kau sudah dewasa rupanya," tukas sang ayah.


" Hem," jawab Dave singkat. Sangat singkat.


" Kau bekerja di mana sekarang, Dave?"


" Kenapa ayah terlihat kaku? Tidakkah ayah mempersilahkan aku untuk duduk terlebih dahulu? Di mana adab dan sopan santun kalian sebagai seorang pemilik rumah? Tapi, sudahlah. Aku paham karena nampaknya isteri muda tidak tahu caranya adab menghormati tamu," sahut Dave, mencibir isteri muda ayahnya. Ia melenggang memasuki ruang keluarga tanpa ada persetujuan dari ayah ataupun isteri baru ayahnya.


Ibunda Dave yang sedari tadi diam, ia mengikuti langkah Dave. Dan kemudian duduk di samping Dave.


" Kelakuanmu tidak ubahnya seperti ibumu saja, Dave. Tidak beradab dan bersopan santun sedikit," cibir isteri baru ayah Dave. Ia membalas ucapan Dave tadi. Dave sukses menyerang isteri baru ayahnya.


" Hei! Tidak ada yang boleh menghina ibuku! Sekalipun aku harus berhadapan dengan ibu tiriku yang usianya di bawahku!" hardik Dave. Nafasnya naik turun menahan amarah.


" Cih! Naif sekali. Aku kasihan dengan ibumu, Dave. Ia berlindung di ketiak anak bungsunya. Agar bisa kembali ke rumah suaminya. Padahal jelas-jelas dua hari yang lalu, ia meminta pergi dari sini," tukas isteri baru ayah Dave. Dengan nada sinis dan bertolak pinggang.


Ingin rasanya Dave mencekik leher ibu barunya itu. Tapi tentunya, itu akan mengotori tangannya yang kekar.


" Wow, rupanya ayahku sekarang sudah pandai mempermainkan perasaan Mommy ya? Lucu, lucu sekali Anda Nona!!!" kata-kata Dave, tajam. Ia bangkit lalu mendekati ibu barunya itu. Dan memandang kedua netra ibu tirinya, lalu tersenyum sinis.


" Justru aku lihat kau yang sedang bersembunyi di ketiak ayahku, Nona! Kau sedang berusaha merebut semua milik ibuku. Asal Anda tahu, Nona muda, seluruh kekayaan yang ayahku punya saat ini, itu adalah hasil kerja keras ayahanda dari ibuku. Dan laki-laki yang berada tepat di sampingmu, yang sekarang menjadi suamimu, itu hanya memiliki kekayaan kecil di bandingkan seluruh aset milik ibuku. Dan hari ini, aku Dave Abraham William akan tinggal lebih lama di sini! Paham, Nona muda?!!" Dave berkata dengan penuh penekanan.


" Dave! Jangan kurang ajar kamu! Dia ibu barumu, dan kau harus menghormatinya!" hardik ayah Dave.


Dave pun melakukan apa yang di perintahkan sang ayah, dengan menghormati ibu tirinya layaknya ia menghormati bendera saat hari upacara bendera di mulai.


Ibunda Dave dan bibi Ruth hanya bisa tersenyum melihat tingkah Dave yang tentunya sangat menjengkelkan itu. Membuat isteri baru ayahnya marah dan pergi meninggalkan mereka di ruang keluarga.


" Dave, kau ini." ujar ibunda Dave. Mencubit pinggang Dave. Dave meringis namun, ia tersenyum penuh kemenangan.


" Kali ini, aku akan merebut apa yang menjadi hak ibuku, Ayah. Dan kau seharusnya paham akan hak itu. Namun, sayang kau telah di butakan oleh cinta palsu si wanita ****** itu." kata Dave. Membuat ayahnya marah besar.


" Hargai ibu barumu, maka aku akan menerimamu kembali di rumah ini."


" No, Daddy No!!! Aku tidak akan mengemis untuk meminta ijin tinggal di sini. Aku sudah bahagia. Rumahku pun besar. Dan aku punya satu perusahaan yang saat ini masih kutekuni. So, aku datang ke sini hanya untuk meminta bagian ibuku yang berada di rumah ini. Meminta hak rumah, dan cintamu lagi." sahut Dave, meninggalkan ayah serta ibunya. Memasuki kamar tidurnya. Ia tidak ingin mendengar lebih lanjut ucapan sang ayah. Baginya, ucapan sang ayah hanya akan berada di satu titik namun, berputar-putar seperti gangsing.

__ADS_1


Bersambung.


🍁🍁🍁


__ADS_2