
Suasana di meja makan saat ini hening. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Mereka sama-sama enggan untuk bercerita soal kehidupan masing-masing selama mereka berpisah.
Dave yang sengaja datang ke Singapore karena sedikit rindu pada kakaknya, pun hanya bisa diam, hingga Sagara berkata. Mencairkan suasana yang beku.
" Ada maksud apa kamu kemari? Di suruh ayah?" tanya Sagara, memulai percakapan.
Dave menggeleng cepat, " Tidak. Ini kemauanku sendiri, Kakak. Lagipula ayah sedang asik dengan isteri barunya," tukas Dave. Dengan kedua tangannya mengoles selai ke roti gandum yang di pegangnya.
" Benarkah?" Sagara bertanya lagi.
" Iya. Dan yang paling bikin aku jengkel, ternyata isteri baru ayah hanyalah menginginkan harta ayah saja. Padahal ayah kan tidak punya apa-apa, jika tidak ada mommy," lanjut Dave, kesal.
" Hem, aku tidak heran juga. Karena sebelumnya aku sudah pernah bertemu dengannya. Dan dia masih muda bukan?"
Dave mengangguk. " Kakak benar sekali."
Sagara tersenyum kecut. Lalu ia melanjutkan makan lagi.
" Oh iya Kak, kapan mommy akan di beri tahu tentang calon istrimu?"
" Entahlah aku pun masih belum menentukan kapan waktu dan tanggalnya yang tepat,"
" Kalian bertemu dimana, Kak?"
Pertanyaan Dave membuat Sagara tersedak dan memuntahkan minuman yang ia minum.
" Tak perlu kau tahu," jawab Sagara singkat dan terkesan ketus.
__ADS_1
Sagara tak perlu menceritakan pertemuannya dengan Kayra. Jika Dave tahu, mungkin Dave akan mengira bahwa Kayra itu wanita yang tidak baik.
Di saat mereka sedang asik menyantap sarapan pagi yang terhidang di meja makan, Kayra muncul di hadapan mereka. Menggunakan baju kaos berwarna merah dengan rambut yang tergerai indah. Ketika ia muncul di hadapan Sagara, ia di sambut oleh Sagara.
" Kau sudah selesai rupanya? Mari makan bersama. Oh iya, kenalkan dia adikku, namanya Dave." seru Sagara sambil tersenyum.
Kayra membalas senyuman Sagara, ia berusaha menutupi kegugupannya itu dengan bersikap normal di hadapan Sagara.
Dave pun menoleh kearah dimana calon kakak iparnya berdiri. Dan di saat ia melihat calon kakak iparnya, Dave tak kuasa menatap wujud wanita yang di lihatnya saat ini.
Dialah Kayra, tambatan hatinya, belahan jiwanya dan alasannya Dave datang ke Singapore. Dave tak bisa berkata apa-apa saat ini. Hatinya remuk, hancur berkeping-keping. Melihat Kayra di genggam tangannya oleh Sagara. Dan Dave berpura-pura bahagia.
" Oh jadi ini calon kakak iparku? Cantik," seru Dave. Meskipun tenggorokannya seperti tercekat, tapi Dave mencoba bersikap normal dan berpura-pura tidak mengenal Kayra.
" Kalian ketemu dimana," Dave bertanya. Ia menatap mata Kayra. Meminta jawaban darinya.
" Kami bertemu di tempat madam Ellen," gumamnya lirih. Pelan namun Dave masih bisa mendengarnya.
Antara percaya dan tidak percaya, Dave mengerutkan keningnya. Madam Ellen, itukan tempat para wanita penghibur. Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu di tempat yang sama?
" Madam Ellen?" Dave bertanya hati-hati.
" Kenapa Anda bisa berada disana, Kakak ipar? Anda tahukan itu tempat apa?" Dave terus berkata. Memberondong pertanyaan kepada Kayra.
" Iya, aku tahu, Dave." kata Kayra, lirih. Ia masih menundukkan wajahnya. Kayra menekan kuat-kuat tangannya.
" Kalau Kakak ipar tahu itu tempat apa, lalu kenapa kakak ipar bisa berada di tempat itu? Apa kakak ipar bekerja di tempat itu," Dave bertanya. Membuat Sagara marah saat Dave berkata seperti itu pada Kayra.
__ADS_1
" Dave, jaga ucapanmu! Kau tidak berhak berkata demikian padanya. Dan berhentilah mengintrogasinya. Dia itu kakak iparmu, kau harus menghormatinya, sebagaimana kau hormat padaku," ucapan Sagara penuh dengan penekanan. Dave tahu itu. Kakaknya begitu mencintai wanita yang ia berondong dengan berbagai pertanyaan.
Dave pun tak kuasa membendung amarahnya ketika mengetahui bahwa alasannya datang ke Singapore telah mengkhianatinya. Dan saat Dave tahu bahwa Kayra berada di tempat haram itu, Dave marah besar. Itu artinya Kayra masih melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.
" Baiklah, aku akan berangkat bekerja hari ini. Jika tidak ada kegiatan, kau temani kakak iparmu di rumah. Lindungi dia." Sagara berkata.
Ia bersiap-siap pergi ke kantor. Mengambil tas kerjanya, kemudian pergi meninggalkan Kayra dan Dave di rumah.
☘️☘️☘️
Suasana hening. Tak ada percakapan apapun yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama-sama canggung. Dan tidak bisa berkata apa-apa.
" Kenapa kau melakukan hal itu, Kayra?" Dave mencoba berkata. Memulai percakapan.
Kayra diam. Ia tidak mampu menjelaskan apapun pada Dave. Hatinya cukup rapuh dan tidak bisa membendung rasa sedihnya.
" Maaf tuan, aku ingin beristirahat." gumam Kayra. Kemudian pergi meninggalkan Dave sendiri di meja makan.
" Tunggu, aku ingin bicara padamu. Kita bicara empat mata." seru Dave tiba-tiba.
Membuat langkah kaki Kayra berhenti. Iapun menoleh lalu menatap tubuh pria yang di cintainya.
" Dimana?" tanya Kayra, gugup.
" Ikut aku," ujar Dave. Meraih tangan Kayra lalu membawa Kayra mengikuti langkah kaki membawanya pergi.
Bersambung.
__ADS_1
☘️☘️☘️