
Dave segera mencari gadis itu. Gadis yang ia kira sebagai Anisa. Gadis yang bisa membuatnya penasaran dan bisa kembali lagi menata hidup setelah hatinya kosong karena kepergian Anisa dua tahun yang lalu. Dave menyusuri jalanan kota yang begitu padat. Tak di hiraukannya kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya, dan suara klakson kendaraan dari berbagai penjuru jalan.
Gaduh.
Pengap.
Panas.
Matahari mulai meninggi. Sinarnya saat ini mampu menembus kulit bersih milik Dave yang memerah akibat sinar Ultraviolet yang di pancarkan oleh matahari begitu menyengat panasnya.
Tin ... Tin ... Tin ...
Suara klakson kendaraan beroda empat begitu memekakkan telinga. Dari dalam kendaraan itu, terdengar suara makian sang supir yang tertuju pada seorang gadis yang seluruh tubuhnya di tutupi. Dave mengenali sosok itu. Kemudian ia pun keluar dari dalam mobilnya untuk memastikan siapa sosok gadis itu.
Dave meraih tubuh gadis itu, lalu ia seret tangannya agar menepi dari jalan raya yang akan di seberangnya tadi.
Ia menyingkap penutup kepala gadis itu. Dan ia merasa bahagia karena dia telah menemukan gadis yang ia cari. Dave menatap lekat gadis itu. Saat ia melihat kedua bola matanya yang berwarna biru awan, ia tertegun. Entah kenapa sekelebat bayangan wajah Anisa terlihat di mata sang gadis cantik itu.
" Sedang apa," Dave bertanya pada gadis cantik yang bernama Kayra.
__ADS_1
" Aku hendak menyebrang jalan, tuan. Namun, aku tidak sempat menengok kiri dan kanan. Akibatnya aku hampir di tabrak mobil," ujarnya sekenanya.
Kayra itu gadis yang cuek. Sangat cuek saat masih berusia empat belas tahun. Namun, saat ayahnya harus menikah lagi, dan ibunya menjadi sakit-sakitan, ia menjadi gadis pemurung dan akhirnya ia lah tulang punggung di keluarga besarnya. Termasuk membiayai pengobatan ibunya.
" Lalu kenapa kau berbuat seperti itu?" Dave bertanya dengan lancang.
" Aku tak sengaja, itu karena aku ceroboh tidak memperhatikan jalan." ia menjawab cuek. Kemudian memperhatikan sekelilingnya. Terlihat ruas jalan kota yang begitu padat merayap.
" Bukan itu," sanggah Dave. Ia lalu mengamit pundak Kayra agar bisa saling berhadapan.
" Lalu apa," tanya Kayra, yang langsung menatap tajam mata Dave.
" Kenapa kau menjadi simpanan om-om? Umurmu masih sangat muda. Setidaknya fikirkan pelajaran, bukan ****." Dave berkata tajam. Seakan-akan ia ingin kepastian darinya. Agar perkataan Flo tidak benar.
" Aku terpaksa." jawab Kayra. Membuat Dave tak bisa berkata lagi. Ucapan yang sama yang ia dengar saat berada di rumah Alvin. Kata Terpaksa yang ia ucapkan begitu besar maknanya. Sehingga sulit untuk di jabarkan.
Gadis itu pergi, berlalu meninggalkan Dave yang terus diam karena ucapannya yang tidak bisa di jabarkan.
Dave mengikutinya memasuki mobil milik Dave. Suasana pun kini lengang. Sunyi, senyap. Hanya terdengar suara knalpot kendaraan. dan bisingnya suara klakson mobil.
__ADS_1
Dave melihat Kayra menghembuskan nafasnya dengan kasar. Seperti berat menahan masalah yang di hadapinya. Sambil berusaha berkaca pada diri sendiri. Sungguh, Kayra seperti gadis yang rapuh kali ini.
" Aku terpaksa tuan. Terpaksa karena aku butuh uang," katanya, mengawali pembicaraan.
" Untuk apa," Dave bertanya,
" Seharusnya kau cari jalan lain yang lebih halal. Bukan seperti itu." timpal Dave, kesal.
" Tak ada jalan lain. Dia mengancam aku loh. Kalau aku tidak mau, maka nyawa ibu tidak dapat di tolong lagi. Dokter yang memeriksa ibuku, pasti akan mencabut semua alat di tubuhnya. Kau tahu, Tuan. Nyawa ibuku bergantung pada alat-alat itu." Kayra menerawang. Tatapannya kosong. Tak ada ruang di dalam hatinya. Benar-benar kosong. Sedih? Iya. Ia sedih. Terlebih lagi di saat ia butuh sosok yang bisa melindungi dan menjamin dirinya dan kehidupannya, malah di selewengkan oleh kakak tirinya yang kejam itu.
" Maksudmu Kania," tanya Dave. " Jika memang benar, kenapa kamu tidak melapor pada polisi?"
" Rasanya sulit mencari seseorang yang bisa membantu tanpa imbalan, Tuan. Pasti akan ada uang di dalamnya." kini nadanya berubah sendu. Ia menangis.
Lalu Dave segera memeluk tubuhnya yang sedang bergetar akibat sedang menangis tersedu-sedu.
" Aku tahu Kania itu wanita yang jahat. Kebetulan Kania adalah ibu tiriku. Dan aku ingin mencari tahu soal dirinya. Kini aku tahu, kelakuan buruk Kania. Kau jangan takut. Aku akan selalu ada untukmu." tutur Dave. Sambil membelai rambut Kayra dengan lembut.
" Tapi, aku ingin kau jauhi om-om manapun. Aku tak mau jika tubuh indahmu ternoda oleh orang-orang hidung belang!"
__ADS_1
Kayra mengangguk pelan. Lalu melepaskan pelukan Dave. Sejenak keduanya saling berpandangan, setelah itu wajah Kayra berubah semu merah. Dan ternyata ia pun telah jatuh cinta pada Dave. Ia sudah terlalu nyaman berada di dekatnya. Seperti seorang kakak kepada adiknya.
Bersambung.