When Beast Meet Cinderella

When Beast Meet Cinderella
Pertemuan dengan seseorang.


__ADS_3

Baik Aisyah dan juga Daisy, mereka berdua sama-sama terkejut saat sosok wanita itu berdiri tegap di hadapanku. Aisyah yang tadi ketakutan, sekarang malah terlihat bahagia. Saat wanita itu memanggil namanya dengan lembut.


" Ais, kamu Aisyah bukan?" tanyanya sambil berlutut, mensejajarkan tubuhnya dengan Aisyah. Wanita itu memang pipi chubi milik Aisyah, lalu segera memeluk tubuh mungil Aisyah.


" Kak Icha," pekik Aisyah. Ia menangis sesenggukan. Karena telah bertemu dengan Anisa.


" Sedang apa kamu di sini, Sayang?" tanya Anisa sambil menatap wajah Aisyah. Dan mencium pipi Aisyah berkali-kali.


" Aku lagi ngumpet Kak, tadi ada penjahat mengejal Aisyah yang kabul belsama bibi Daisy." sahut Aisyah, lalu menoleh kearah Daisy. Anisa pun ikut menoleh.


" Ya ampun, Anda nona??!" pekiknya, lalu mendekati Daisy.


" Anda masih sehat?" tanya Anisa, bingung. Seharusnya Daisy masih terbaring di ranjang rumah sakit.


" Iya, jika aku masih hidup, kau mau membunuhku dua kali, begitu?" tanya Daisy, menantang.


" Tidak Nona, tidak! Justru aku sangat bahagia jika Anda baik-baik saja. Oh iya, bagaimana bisa Anda berada di kota ini?"


" Ceritanya panjang. Sekarang yang aku inginkan pergi dengan cepat dari kota terkutuk ini. Kota ini terlalu bahaya buatku, dan juga Aisyah. Nyonya Liem pasti tidak akan mengampuniku karena telah berhasil kabur dari rumahnya."


Anisa diam. Ia memperhatikan wajah Aisyah, saudari kandungnya yang telah lama berpisah. Ini semua karena Mawar Hanafi. Ia biang kerok dari semua kejadian ini.


" Baiklah, kita pergi sekarang! Di luar banyak sekali anjing pelacak. Dan ada beberapa orang yang berjaga di pintu perbatasan kota, saat memasuki daerah kota J."


" Jadi, bagaimana kita bisa keluar dari kota ini, Anisa?!" tanya Daisy, bingung dan juga ketakutan.


" Entahlah, aku tidak tahu Nona. Jika aku keluar dengan membawa dirimu dan juga Aisyah, pasti mereka akan menangkap kita." Anisa panik. Ia panik saat melihat jumlah orang dan anjing pelacak di luar sana. Mereka terhenti karena anjing pelacak yang kehilangan jejak Daisy dan juga Aisyah.


" Nona, sudah kau hubungi suamimu?" Anisa bertanya. Lalu menatap wajah Daisy.


" Sudah. Tapi, tidak ada jawaban dari mereka. Entahlah di mana mereka saat ini. Aku pun bingung dan kesal di buatnya." kata Daisy, ketus.


" Coba kau hubungi lagi, siapa tahu sekarang di angkat teleponya."


Dengan cepat, Daisy segera menghubungi Alvin. Dan kali ini teleponnya di angkat.


" Halo sayang kamu di mana?" Daisy bertanya.

__ADS_1


" ... "


" Aku bersama Aisyah. Sekarang ada di masjid raya. Bisakah kau kemari? Aku takut berada di kota ini."


" ... "


" Aku tunggu, secepatnya! Aku ketakutan."


Dan secepat kilat Anisa segera mengambil ponsel Daisy. Menutupnya karena seseorang hendak memasuki masjid.


" Bersembunyi. Seseorang datang kemari, nona!" pekik Anisa. Lalu mendorong tubuhku dan juga Aisyah agar bersembunyi di dalam kolong mimbar.


" Hei Nona! Sedang apa kamu di sana?!" teriak seseorang dari luar. Dengan membawa anjing pelacak hendak masuk ke dalam masjid.


" Hei tuan, berhenti! Jangan Anda memasuki masjid sambil membawa seekor anjing!" sahut Anisa, lantang.


" Kalau begitu, keluarlah. Jangan berdiri terus di sana!" katanya memerintah.


" Baiklah. Aku keluar." sahutnya, dengan nada santai. Lalu berjalan melangkah menuju pria itu. Sebuah senyuman menyeringai ia sunggingkan di bibirnya. Terkesan santai tanpa terlihat kaku, itulah keahlian Anisa.


" Aku tadi sedang memeriksa mimbar itu. Siapa tahu ada sesuatu yang menarik mataku. Kenapa? Apa kau mencari seseorang? Ataukah sesuatu di dalam sini?" Anisa bertanya. Dengan suara menantang.


" Tidak! Aku hanya sedang berjaga saja." sahutnya, dengan nada garang. Namun berusaha di sembunyikan sesuatu dari Anisa.


" Ooh, oke kalau begitu. Oh iya, kemanakah bapak penjaga masjid ini? Aku sudah selesai dengan salatku. Tetapi, aku ingin bersedekah untuk masjid ini." sahut Anisa, sambil melirik kanan kiri. Dan kedua matanya menangkap bapak penjaga masjid. Dengan langkah santainya, Anisa mendekati bapak itu.


" Assalamu'alaikum pak. Maaf saya tadi sudah beres melaksanakan salat. Dan ini ada sedikit uang untuk di sedekahkan ke masjid ini," kata Anisa, sambil menyerahkan sedikit uangnya pada bapak marbot itu.


" Terima kasih, nona. Anda baik sekali." ujarnya tersenyum.


" Sama-sama pak. Oh iya, kalau bisa pintunya di kunci lagi. Tapi, saya ingin beristirahat di dalam masjid ini, apakah boleh? Tadi saya sempat beristirahat, tempatnya nyaman sekali. Sehingga betah saya berlama-lama di sini." ujar Anisa, seramah mungkin.


" Maaf Nona, masjid ini bukan tempat penginapan untuk nona. Di takutkan ada hal yang tidak berkenan. Jika Anda ingin beristirahat, silahkan tidur di rumah bapak saja. Kebetulan ada kamar kosong. Dan di rumah bapak cuma ada bapak dan istri saja."


" Aah iya, itu juga boleh. Terima kasih sudah mengizinkan saya tinggal di rumah bapak."


" Sama-sama, nona. Saya permisi dulu, mau mengunci pintu masjid." ujar bapak itu, pamit.

__ADS_1


Anisa menganggukkan kepala. Ia mengikuti sesebapak itu mengunci pintu. Saat sesebapak itu sedang mengunci pintu, Anisa memegang tangannya. Erat.


Dan sesebapak itu terkejut karena kelakuan Anisa yang absurd itu. Ia berkali-kali melirik kearah lengannya yang Anisa pegang.


" Jangan kurang ajar ya, nona? Saya tidak suka!" katanya, garang.


" Pak maaf, saya mau bilang. Di dalam ada dua orang wanita. Yang satu sudah dewasa dan yang satu masih kanak-kanak. Mereka sedang di incar oleh orang-orang suruhan nyonya Liem. Anda kenal dengan nyonya Liem?"


" Ya, saya kenal dengan mereka. Mereka itu penjahat. Dan sangat susah sekali mengusir dia dari sini."


" Maka dari itu, pak. Saya mohon tolonglah mereka. Mereka akan di jual oleh nyonya Liem, dan mereka kebetulan kabur dari kediaman Nyonya Liem. Dan berlari ke arah masjid ini."


" Masjid ini? Loh, masjid ini saya kunci dari mana ia bisa masuk ke dalam?"


" Entahlah, saya tidak tahu. Tapi, saya mohon tolonglah mereka. Mereka orang baik semua." ujar Anisa, merajuk.


" Tapi, menurut mereka dua wanita itu pengedar obat-obatan. Mana yang benar?"


" Pak mereka berdua itu orang baik. Saya bisa menjamin. Dan sebentar lagi suaminya bakalan menjemput dia ke sini. Dengan membawa beberapa polisi dan juga anak buahnya."


Terlihat penjaga masjid itu diam. Terlihat ia sedang berfikir keras. Setelah itu.


" Baiklah. Saya akan bantu. Tapi, jika benar wanita itu pengedar, maka saya tidak akan segan-segan melaporkan pada polisi."


" Saya siap menjamin!" sahut Anisa, memantapkan hati penjaga masjid.


Penjaga masjid yang bernama pak Arif itu memasuki masjid. Ia memeriksa di bagian mimbar masjid. Dan ternyata benar, ada dua orang wanita sedang bersembunyi di kolong mimbar. Dengan wajah ketakutan, Daisy dan Aisyah tidak bisa berkutik. Mereka ketahuan bersembunyi di sana.


Pak Arif berjongkok. Ia memberi kode padaku, agar aku tidak usah takut padanya. Karena ia orang baik. Dan tidak menyakiti.


" Tenang, saya tidak akan menyakiti kalian. Di luar penjagaan ketat. Cepat telepon suamimu! Dan suruh ia datang dengan membawa polisi dan anak buah." katanya, berbisik.


" Iya pak. Terima kasih," kata Daisy. Lalu mencoba menelepon Alvin lagi. Belum juga beberapa menit Daisy menelpon. Ada suara gaduh di luar.


Suara anjing pelacak menyalak saat suara tembakan menembus ke atas langit. Malam ini, malam yang begitu mencekam. Baik Daisy , Aisyah dan juga pak Arif. Malam ini kami hanya bisa diam di dalam masjid sambil menunggu suara gaduh itu hilang. Dan para penjahat tertangkap.


☘️☘️☘️Bersambung☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2